Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 121


__ADS_3

Pagi hari.


Operasi yang dilakukan pada Richard berjalan dengan lancar. Ada pembuluh darah di kepalanya yang pecah dan tenngkorak bagian depannya juga retak. Dokter berkata, ingatannya yang sebagian hilang itu hanya akan terjadi sementara. Sebagian ingatannya yang hilang akan segera kembali.


Sandra merasa sangat bersyukur, karena suami dan anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Kini Richard sudah berada di ruang perawatan. Sementara Jake menolak untuk di rawat di rumah sakit dan memilih untuk kembali ke rumah.


Keputusan Jake yang menolak untuk di rawat di rumah sakit bukan tanpa alasan. Semua ini sengaja ia lakukan agar bisa menjalankan rencananya bersama Erik.


Pagi tadi Jake diantar pulang ke rumah bersama Erik, saat itu Sandra sama sekali tak menaruh curiga pada keduanya. Jake memperkenalkan Erik sebagai temannya yang akan mengantarnya pulang ke rumah.


"Kau tak ingin bertemu ayahmu dulu?" Tanya Sandra pada Jake.


"Nanti saja mah, aku ingin cepat-cepat istirahat di rumah saja. Bau rumah sakit ini membuatku pusing," jawab Jake beralasan.


Akhirnya, Jake pun pulang ke rumahnya bersama dengan Richard.


Sesampainya di rumah, Jake segera menggeledah ruang kerja ayahnya. Bersama Erik, mereka berdua hendak mencari dokumen dari beberapa tahun silam. Dokumen yang berisi tentang surat invenstasi palsu yang membuat orang tua Tamara bangkrut.


Jake dan Erik menggeledah seluruh ruangan dengan teliti. Mereka tak mau melewatkan satu lembar kertas pun untuk diperiksa.


Sementara itu, Tamara yang juga masih di rumah sakit. Kini berada di ruang perawatan Pras. Pras sudah sadar dan kondisinya baik-baik saja. Tamara duduk di samping tempat tidur Pras sambil mengupas beberapa buah pir untuk Pras.


Di seberang mereka ada Lukas yang menatap tajam ke arah Pras. Tatapan yang membuat Pras salah tingkah tak berani melihat ke arah Lukas.


"Ayo dong kak, dimakan buahnya. Aku kan sudah mengupas banyak-banyak untuk kakak," ucap Tamara sambil menyodorkan piring berisi buah pir ke hadapan Pras.


"I-Iya nona," Pras mengambil piring yang disodorkan padanya secara perlahan. Dengan wajah yang terus tertunduk ia memakan satu persatu pir yang diberikan Tamara.


Tamara masih duduk di samping Pras, menanti Pras menghabiskan buah yang sudah dikupas olehnya.


Lukas terus melihat pemandangan menyebalkan itu dengan wajah kesal. Sejak pertengkaran mereka semalam, keduanya masih belum saling bicara. Bahkan untuk saling melihat pun Tamara tak mau.


Meski begitu, Lukas tetap setia menemani kemanapun Tamara pergi. Lukas khawatir Tamara akan kembali pingsan jika ditinggal seorang diri.


Sementara Erik sedang mencari dokumen di rumah Jake. Pras dan Rima juga sedang di rawat di rumah sakit. ASti pun sedang menemani Rima di rumah sakit yang berbeda dengan Pras. Semua pengawal Lukas sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Sehingga hanya Lukas lah saat ini yang bisa melindungi Tamara. Semua pekerjaan kantornya sudah ia serahkan pada Olivia. Kakeknya pun saat ini juga turut membantu melanjutkan proses laporannya di kantor polisi.


Meski Richard sedang hilang ingatan, namun laporan yang sudah masuk juga harus tetap di proses. Dominic dan Lukas berencana untuk melaporkan juga kasus beberapa tahun silam. Kasus kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Tamara, kasus penipuan Richard, dan tentu saja kasus penculikan Tamara kemarin.


Jake berjanji pada Lukas, ia siap membantu menjadi saksi. Karena semua masalah ini terungkap berkat cerita dari Jake.


Di ruang perawatan Richard, Sandra sedang menyuapi suaminya bubur sedikit demi sedikit.


"Jake mana?" Tanya Richard tiba-tiba.


"Dia pulang ke rumah," jawab Sandra.


Richard mengangguk.


"Kenapa dia bisa seperti itu? Apa dia habis berkelahi?" Tanya Richard sambil mengunyah buburnya perlahan.

__ADS_1


Sandra terdiam. Ia menatap Richard tanpa ekspresi.


"Kenapa kau diam saja?" Richard bingung dengan ekspresi Sandra.


"Dia benar-benar lupa bahwa dialah yang membuat Jake seperti itu?" Batin Sandra.


"Entahlah, dia bahkan tam mau menceritakan apa yang terjadi padaku," hanya itu yang bisa Sandra katakan.


Richard mengernyitkan dahinya, ia tak pernah tau bahwa putranya itu memiliki musuh. Sambil berpikir kira-kira apa yang terjadi pada putranya, Richard terus memandangi wajah Sandra. Kecantikan di wajah itu tak luntur seiring berjalannya waktu.


Richard memang selalu jatuh cinta pada istrinya.


"Sandra," panggil Richard. Sejak dulu Richard memang selalu memanggil nama istrinya dengan namanya saja.


"Mmm?" Sandra menoleh ke arah Richard.


"Maafkan aku," ucap Richard tiba-tiba.


"Maaf untuk apa?" Sandra tak mengerti maksud Richard.


"Karena akulah orang yang membuat hidupmu jadi susah. Kau bahkan di usir oleh keluargamu," jawab Richard.


"Tak masalah, aku juga tak suka keluargaku. Bukankah kau juga begitu?" Sandra balik bertanya.


"Ya, aku juga tak suka keluargaku."


"Kalau begitu berhentilah berurusan dengan mereka. Apapun itu," pinta Sandra.


Sandra menatap tajam ke arah Richard.


"Ku dengar ayahmu meninggal," Sandra mulai memancing Richard.


"Ayahku?" Richard bingung.


"Ya."


"Kapan? Kau dapat berita dari mana?"


"Seseorang memberitahuku."


"Siapa?"


"Sahabat ayahmu."


Richard terdiam, ia berpikir sejenak. Siapa sahabat ayahnya yang mengenal istrinya itu.


"Kau benar-benar tak ingat apa yang terjadi beberapa bulan ini?"


Richard menggelengkan kepala perlahan.


"Kau tak ingat apa yang telah kau rencakan di belakangku?"

__ADS_1


Richard kembali menggeleng.


"Apa aku berselingkuh?"


"Ini bahkan lebih parah dari selingkuh," gumam Sandra.


"Aku tak ingat apapun, Sandra. Ceritakanlah padaku, apa yang aku sembunyikan darimu."


"Tamara," ucap Sandra singkat.


"Tamara?" Richard berusaha berpikir. Siapa Tamara?


"Keponakanmu," akhirnya Sandra memberitahu Richard.


"Keponakanku? Ada apa dengannya? Kau bertemu dengannya?"


Sandra mengangguk.


Richard mengamati wajah Sandra yang masih tenang tanpa ekspresi.


"Katakanlah Sandra, sebenarnya apa yang telah terjadi?"


"Kau lupa janjimu padaku?"


"Janji yang mana?" Richard berusaha mengingat-ingat.


"Saat akhirnya aku mau hidup bersama denganmu."


Richard masih berusaha mengingat.


"Kau bilang, kita akan buka lembaran baru. Aku sudah tak lagi berhubungan dengan keluargaku, dan kau pun akan melakukan hal yang sama."


"Ah, tentu saja. Aku sudah tak lagi berhubungan dengan keluargaku. Aku bahkan tak tau jika..." Belum selesai Richard bicara, sekelebat ingatannya mulai muncul.


Ada satu potongan ingatan yang terlintas dalam pikirannya. Seseorang memberitahunya bahwa ayahnya sudah meninggal.


"Tidak, seseorang memberitahuku. Sandra, aku tak berusaha mencari tahunya. Seseorang memberitahuku," Richard mencoba untuk menjelaskan.


"Kau yakin? Kau tak meminta seseorang untuk mencari tau tentang keluargamu?" Sandra tak percaya pada apa yang Richard katakan.


"Aku tak melakukan itu," jawab Richard ragu-ragu.


Sandra menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan menunggu hingga ingatanmu kembali. Tapi setelah itu, ku mohon jangan berbohong padaku."


Richard tak bisa membalas ucapan Sandra. Ia sendiri tak yakin pada dirinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang telah aku lakukan?" Batin Richard.


"Oh iya, satu hal lagi. Apapun yang terjadi, kau harus bertanggung jawab dengan atas apa yang telah kau perbuat," ucap Sandra.

__ADS_1


__ADS_2