
Keesokan harinya, Tamara bangun lebih dulu. Ia merasa badannya sakit, dan kepalanya pusing sekali. Ia juga merasakan sakit di **** ***** tubuhnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? Kenapa badanku sakit semua begini? Apa karena aku mabuk lagi tadi malam?" Gumam Tamara.
Sudah dua malam ini ia selalu tertidur dalam kondisi mabuk.
Tamara melihat Lukas yang tidur di sofa. Ia melihat Lukas yang tidur dengan pakaian tidur lengkap dengan penutup mata.
"Kenapa dia tidur di sana? Apa karena aku tidur di sini tadi malam?" Tamara sama sekali tak ingat apa yang terjadi tadi malam.
Tamara berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Ia hanya ingat semalam ia mencium bibir Lukas.
Tamara memegang bibirnya.
"Apa tadi malam aku sungguh menciumnya?" Tanya Tamara pada dirinya sendiri.
"Tidak mungkin, itu pasti mimpi." Tamara meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ciumannya tadi malam bersama Lukas hanyalah sebuah mimpi.
Sesaat kemudian, Tamara beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Aduh, kenapa ini sakit sekali?" Tamara merasakan organ intimnya sakit.
"Apa aku jatuh tadi malam?"
Tamara masih berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi, namun tetap yang ia ingat hanyalah saat ia berciuman dengan Lukas. Itupun ia tak tau pasti apa itu kenyataan atau hanya sebuah mimpi.
Tamara menceburkan dirinya di bathub berisi air hangat, sebelumnya saat ia memikirkan apa yang sudah ia lakukan tadi malam Tamara sambil mengisi air di bathub.
Setelah Tamara selesai mandi, ia melihat Lukas sudah bangun dari tidurnya.
"Sudah selesai?" Tanya Lukas.
"Iya, maaf ya lama," Tamara merasa bersalah karena ia berlama-lama di kamar mandi tadi.
Lukas tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis membuat Tamara bingung dibuatnya.
"Tumben sekali dia tidak marah-marah," gumam Tamara yang melihat Lukas masuk ke kamar mandi begitu saja tanpa ocehan apapun.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di ruang makan untuk sarapan pagi bersama.
"Kau sudah membereskan barang-barang mu?" Tanya Lukas.
"Sudah, barang bawaan ku kan tak banyak," jawab Tamara.
Lukas hanya mengangguk menanggapi jawaban Tamara.
"Lukas," panggil Tamara.
Lukas menoleh ke arah Tamara.
"Kita nanti mampir beli oleh-oleh dulu kan sebelum pulang?" Tanya Tamara.
__ADS_1
"Kau mau beli oleh-oleh?"
Tamara mengangguk dengan semangat.
"Baiklah, ayo kita beli," jawab Lukas.
"Asiikkk..." Tamara senang karena Lukas mau menuruti keinginannya.
"Ngomong-ngomong, semalam apa yang terjadi? Apa aku melakukan sesuatu yang buruk hingga kau memilih tidur di sofa?"
Lukas terdiam sejenak, ia mengamati raut wajah Tamara yang polos. Terlihat sekali bahwa istrinya itu tidak ingat apapun tadi malam.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?" Tanya Lukas heran.
Tamara menggelengkan kepalanya.
"Lain kali, jangan minum minuman beralkohol jika aku tidak ada bersamamu. Aku tak percaya kau langsung saja mabuk padahal baru meminum satu kaleng," Lukas mulai mengoceh.
Entah mengapa ocehan Lukas barusan membuat Tamara merasa lega. Karena tak mendengar amarah Lukas sejak pagi, Tamara khawatir Lukas sedang marah padanya.
"Dengar tidak? Jangan berani-berani kamu sentuh itu alkohol, jika tidak tamatlah riwayatmu!"
"Apa semalam aku melakukan sesuatu yang buruk?"
"Ten... Tentu saja, memang kau tak merasakan apa-apa?" Lukas tak menyangka Tamara benar-benar tak ingat apa yang terjadi tadi malam.
"Mmm... Aku merasakan sakit..." Tamara ragu-ragu ingin mengatakannya pada Lukas.
"Sakit? Sakit dimana?"
"Mana yang sakit? Coba perlihatkan padaku!" Lukas berlagak seolah dia tak tau apa-apa.
"Hah? Kau mau lihat?" Tamara merasa semakin kikuk saat Lukas penasaran ingin melihat daerah yang sakit itu. Meski Lukas sebelumnya sudah melihat Tamara seluruh tubuh Tamara, tapi jika di daerah itu sakitnya Tamara sendiri pun merasa sangat malu untuk menunjukkannya.
"Kau yakin ingin melihatnya?"
"Mmm... Mem... Memangnya sakitnya dimana?" Lukas yang sebenarnya sudah tau dimana sakit yang dirasakan Tamara, tentu saja merasa sangat gugup.
"Di sini..." Akhirnya Tamara yang polos itu pun menunjukkan dengan tangannya dimana rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
"Kenapa sakitnya di situ?" Tanya Lukas, masih berlagak tidak tau apa-apa.
"Entahlah, apa aku semalam terjatuh?" Tamara berusaha mengingat kejadian semalam.
"Iya... Kau memang terjatuh tadi malam!" Lukas segera menjawab dengan cepat.
"Dimana? Apa rasa sakit yang ku rasakan ini karena aku jatuh semalam?"
"Bisa jadi, kau itu mabuk parah tadi malam. Aku saja sampai kewalahan meladeni mu," protes Lukas.
"Jadi itu sebabnya kau membiarkan aku tidur di atas tempat tidur sedangkan kau tidur di sofa?"
__ADS_1
"Hah? I-iya... A... Aku takut kau melakukan sesuatu padaku, makanya aku tidur di sofa," terbata-bata Lukas menjelaskan pada Tamara.
Tamara berusaha mencerna kejadian tadi malam. Ia menyesal mengapa ia langsung meminum habis satu kaleng alkohol itu.
"Apa... Semalam... Aku... Menciummu?" Tamara ragu-ragu bertanya pada Lukas.
"Mana mungkin itu terjadi? Apa kau pikir aku akan membiarkannya?" Lukas langsung membantah.
"Kau benar," Tamara sekarang paham.
"Jadi benar, ingatan itu hanya mimpi. Tapi kenapa terasa begitu nyata?" Batin Tamara.
Lukas masih melihat rasa kebingungan di wajah Tamara.
"Sudahlah, ayo cepat selesaikan sarapan mu. Bukankah kita akan pergi membeli oleh-oleh dulu?"
"Memangnya pesawat kita berangkat jam berapa?"
"Jam lima sore," jawab Lukas.
"Berarti kita masih punya banyak waktu untuk berbelanja," Tamara merasa senang sekali.
"Jangan lupakan, perjalanan kita menuju bandara itu jauh sekali. Nanti kita beli oleh-oleh disekitaran bandara saja, supaya tida ketinggalan pesawat."
"Dimana pun tidak masalah," Tamara senang sekali membayangkan oleh-oleh apa yang akan ia belikan pada kakeknya nanti.
Selesai sarapan, mereka berdua masuk ke dalam kamar untuk mengecek barang bawaan mereka. Dan hendak membawanya keluar.
"Ssshhh..." Tamara meringis kesakitan.
"Kenapa?" Lukas menghampiri Tamara dengan khawatir.
"Sakit," keluh Tamara.
"Masih sakit?" Tanya Lukas.
Tamara mengangguk.
"Coba sini aku lihat," Lukas menawarkan diri untuk melihat luka Tamara. Ia sendiri juga merasa tak enak karena bisa dibilang ia sudah memperkosa Tamara tanpa sepengetahuan Tamara.
"Kau yakin ingin melihatnya?" Tanya Tamara ragu-ragu.
"Iya," jawab Lukas yakin.
Tamara merasa ada yang aneh, setau dia, Lukas tak akan peduli bila ia mengeluh kesakitan dan malah akan memarahi Tamara. Tapi ini, dia menawarkan diri untuk melihat sakit yang dikeluhkan Tamara. Meskipun Lukas tau daerah itu adalah daerah intimnya.
"Mau kulihat tidak? Biar aku obati supaya kau tidak mengeluh sakit terus," ucap Lukas.
Akhirnya Tamara tau, ternyata Lukas melakukan itu karena tak mau mendengar Tamara terus mengeluh.
"Sudahlah, sudah tidak seberapa sakitnya," Tamara beranjak bangun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Ayo cepat, aku tak mau ketinggalan pesawat dan nanti kau akan marah-marah padaku," Tamara meminta Lukas untuk segera keluar.
Karena Tamara juga sudah membawa koper besar yang berisi pakaian miliknya dan milik Lukas itu.