Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Mendapatkan Sedikit Informasi


__ADS_3

Setelah pertemuanku dengan Awan Viu itu aku kembali ke Amerika, dan ya sampai di Amerika aku dimarahin habis-habisan oleh kedua kakakku karena aku pergi tanpa pamit. Tapi setelah mendengarkan penjelasanku tentang Awan Viu itu, kedua kakakku tidak jadi menghukumku.


"Oh jadi mafia pemberontak yang melakukannya?" tanya Patra sedikit mengerti.


"Ya kakak, tapi aku tidak seratus persen percaya perkataan kak Awan itu."


" Jangan karena kamu punya perasaan dengan dia kamu terlena adikku!" protes Putra menatapku dingin.


"Ya aku tahu kakak, tapu itu dulu kakak. Aku percaya pasti ada yang di sembunyiin Kak Awan, apalagi dia bilang kalau aku bisa melukainya dia akan mengatakan semuanya kepadaku. Dari kata-katanya pasti dia menyembunyikan sesuatu kakak."


"Tapi senjata code itu? Kakak tidak percaya kalau itu senjata milik Khun yang terjatuh." tanya Putra bingung.


"Aku masih belum bisa menebaknya kakak, soalnya... Aku harus mendapatkan informasi dari kak Awan."


"Kalau dia saja kuat menahan racun level SSS milik Satria pasti dia sangat kuat Putri.."


"Ya aku tahu kakak... Kakak jangan khawatir, aku sedang memikirkan rencananya." gumamku pelan.


"Lalu apa rencanamu adikku?" tanya Patra penasaran.


"Aku... Masih memikirkannya, lagi pula kak Han masih mengintrograsi bawahnnya kak Awan itu."


"Oh belum selesai kah?"


"Belum, pria itu tidak mau mengakui.."


"Mending kamu sendiri yang mengintrograsinya Putri.." gumam Putra dingin.


"Ya, bisa saja dengan kamu mengintrograsinya dia akan terbuka." gumam Patra serius.


"Oohh mmm baiklah.." desahku beranjak dari tempat dudukku.


"Oh ya kakak, aku bertemu dengan Cahya. Dia sekarang lebih nakal dariku, apa kakak tidak menghukumnya?"


"Tidak, kami hanya mengakuimu sebagai adik kami."


"Kenapa?" tanyaku terkejut.


"Kamu akan tahu nantinya adikku. Dan kamu harus lebih menjaga jarak dengan Khan itu, kalau kamu terluka, kami tidak akan tinggal diam!" gerutu Putra dingin. Aku terkaget melihat reaksi kedua kakakku yang sangat marah padahal kan dia adik kembaranku dan juga kenapa kedua kakakku terlihat snagat benci dengan Khan?


"Baik kakak, Putri mengerti." gumamku pelan dan berjalan menuju penjara milik mafiaku.


Di dalam penjara aku melihat kak Han yang terus menginterograsi pria itu. Aku masuk ke dalam penjara itu dan menepuk bahu kak Han.


"Putri.."


"Biar aku yang menginterograsinya." gumamku berjalan ke depan pria itu.


"Mau apa kau!! Aku tidak akan memberitahukan semuanya!!" teriak pria itu sedikit ketakutan.


"Tidak mau juga tidak masalah. Aku tidak akan memaksamu juga." desahku berdiri menatap pria itu dingin.


"Apa kamu tahu tentang malaikat kecil tuan X?" tanyaku pelan.

__ADS_1


"Ya, tuan X sering mengatakannya kepada kami."


"Oh benarkah? Aku malaikat kecil kak Awan Viu." gumamku menunjukkan gelang yang sama dengan milik Awan.


"I.. Itu gelang yang diceritakan tuan X!!"


"Memang Kak Awan yang memberikan kepadaku." gumamku mengambil kursi dan duduk di kursiku.


"Apa kamu tahu kemana kak Awan saat kecil?" gumamku penasaran.


"Untuk apa kau bertanya?"


"Ya aku malaikat kecilnya, apa salahnya aku bertanya?"


"Ooh.. Mmm tuan X pergi karena sakit hati."


"Sakit hati?" tanyaku terkejut.


"Ya, benar. Orang tua tuan X di bunuh oleh seluruh ketua mafia China nona, dia ingin balas dendam atas kematian itu tapi karena saat itu tuan X masih terlalu muda akhirnya semua orang melupakannya dan menganggapnya mati yang membuatnya tambah sakit hati."


"Orang tuanya di bunuh seluruh ketua mafia China?" tanyaku terkejut.


"Ya benar. Dulu tuan X hanya pria lugu yang polos, tapi bersama dengan Tuan X terdahulu tuan X yang sekarang sangat kuat. Tapi saat Tuan X terdahulu meninggal karena penyakit, Tuan X sekarang memimpin dan memperkuat mafia pemberontak."


"Oh benarkah? Kata kamu kak Awan menceritakan tentangku. Emang menceritakan tentang apa saja?" tanyaku penasaran.


"Ya tuan X bercerita dimana dia merindukan anda dan ingin sekali memeluk anda seperti dulu. Tapi tuan X belum berani melakukannya saat ini karena tuan X ingin tahu siapa yang membunuh temannya yang bernama tuan Lee."


"Ya tuan X pernah bilang kalau tuan Lee sudah dianggapnya sebagai ayahnya sejak dulu. Saat itu tuan X datang kekediaman tuan Lee dan saat itu saya juga ikut, yaah disaat itu aku melihat banyak mayat bergeletak. Melihat itu tuan X langsung mencari seseorang dan saat dia mencari orang yang dicari tidak tergeletak disitu tuan X sedikit lega tapi juga sangat sedih melihat seseorang yang penting baginya hilang lagi." ucap pria itu serius.


"Apa buktinya kamu bisa bercerita dengan santai seperti itu?" gerutu kak Han kesal.


"Aku adalah wakil ketua mafia tuan X dan aku sudah mengabdi dengan tuan X dari awal saat dia masih kecil." gumam pria itu pelan.


"Oh benarkah? Tunggu... Jadi kamu, Wawan adiknya Awan?" tanya Han terkejut.


"Ya... Kamu mengingatnya ya Han." tawa pria itu kencang.


"Padahal kamu kuat kenapa kamu tidak melawan saat kami tangkap?" gerutu Han kesal.


"Melawan? Buat apa aku melawan kalau aku akan mati ditangan kalian. Itu lebih terhormat buatku, apalagi keluarga kalian telah menyelamatkanku dan tuan X berkali-kali."


"Bisa tidak kau berhenti mengatakan tuan X, buatku muak!!" gerutu Han kesal.


"Kakakku tidak ingin siapapun mengetahui namanya walaupun Putri udah tahu dia yang seseungguhnya."


"Bodoh.. Kami sudah bertemu dengan Awan." gerutu Han kesal.


"Oh benarkah? Apakah dia melukai Putri?"


"Tidak, tapi malah mencium adikku tahu! Membuatku kesal!!"


"Ya biarlah, kakakku ingin melakukannya dari dulu kok."

__ADS_1


"Iihh kamu sama saja menyebalkan!!" gerutu Han kesal.


"Tunggu dulu, kalau kak Awan ada disitu saat kejadian berarti kalian tahu siapa yang membunuh keluargaku? Beritahu aku kak Wawan!!"


"Ya. Tapi maaf aku tidak bisa memberitahukanmu. Ini keinginan kakakku."


"Kenapa?"


"Karena kakakku ingin mengatakan langsung kepada anda nona muda. Dan ingin mengatakan semua yang dia ketahui, dia orang yang kejam, tertutup dan dingin, aku sebagai adiknya saja tidak di beritahu semuanya."


"Oh... Aku tahu dia pasti ingin melakukan sesuatu.." desahku pelan.


"Pokok yang ingin dikatakan kakakku untukmu adalah... Hati-hati dengan Dua kembar Khan dan Khun."


"Ohh ya, kakakku sudah mengingatkanku juga." desahku beranjak dari tempat dudukku.


"Kak Han lepaskan saja kak Wawan." gumamku pelan.


"Apa kau yakin, nanti kalau dia tahu markas kita bagaimana?"


"Kak Awan dari dulu tahu markas kita kak Han, kalau dia pelakunya dia pasti datang dan melakukannya sejak dulu." gumamku menghentikan langkah kakiku.


"Oh ya kak Wawan, tolong kirim salam untuk kak Awan ya. Aku terima tantangannya dan aku ingin sekali menyiksanya." gumamku tersenyum dingin dan berjalan kembali.


Aku berjalan kembali ke dalam rumah dan menceritakan semua yang dikatakan Wawan kepadaku. Dan kedua kakakku dan mereka berdua mengangguk mengerti.


"Berarti sesuai dugaanmu Patra.." desah Putra meminum wine di gelasnya.


"Ya memang, kan kamu sudah menduganya dari awal Putra."


"Yah begitulah, Mmm kakak, apa aku salah melepaskan Kak Wawan?" tanyaku pelan.


"Tidak. Tindakanmu sudah benar."


"Apa kakak mempercayai perkataannya?"


"Ya, Awan dan Wawan dari kecil adalah pria yang jujur adikku. Mereka sama sekali tidak bisa untuk berbohong apapun yang terjadi." gumam Putra serius.


"Ya, dan ucapan Wawan sama seperti yang diucapkan seorang ketua mafia kepadaku." gumam Putra pelan.


"Oh benarkah?"


"Jadi kakak sebenarnya sudah tahu ya semuanya ya? Yaaah sia-sia dong apa yang aku lakukan.." desahku sedih.


"Tidak adikku. Malah karena kamu apa yang kami dapatkan bisa jelas apa itu benar atau tidak, jadi lanjutkan ya adikku." gumam Putra dan Patra tersenyum manis kearahku.


"Baik kakak.." gumamku tersenyum senang.


"Ya sudah sisanya biar kami yang mengaturnya. Kamu kembalilah kuliah dan jangan sampai turun nilaimu apalagi kamu akan lulus di tahun ini, apa kamu mengerti!"


"Ya kakak aku tahu lah." gumamku beranjak dari tempat dudukku.


Aku berjalan menuju ke kamarku, aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi tapi melihat ekspresi kedua kakakku aku tahu kalau mereka mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya dariku, tapi kalau aku paksa mereka mengatakannya pasti kedua kakakku akan sangat berisik dan mencermahiku habis-habisan apalagi kedua kakakku sudah mengatakan untuk aku fokus kuliah. Tapi ya, cepat atau lambat aku akan mengetahui semuanya.

__ADS_1


__ADS_2