Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 122


__ADS_3

Di ruang kerja Richard.


Jake dan Erik sudah mengobrak-abrik seluruh bagian di ruangan itu. Mereka bahkan meneliti jengkal demi jengkal di tiap sudut ruangan. Namun tak ada satu pun berkas yang mereka temukan. Berkas yang akan mereka jadikan sebagai bukti bahwa Richard lah orang yang telah membuat bangkrut keluarganya sendiri.


"Kenapa tidak ada?" Jake merasa frustasi.


"Tenanglah, apa tidak ada tempat lain yang memungkin kan ayahmu menyimpan dokumen itu?" Tanya Erik.


Jake berpikir sejenak.


"Apa mungkin..." Jake berlari keluar ruang kerja Richard dan masuk ke kamar tidur orang tuanya.


Erik juga membuntuti Jake.


"Apa mungkin ayah menyimpannya di dalam kamar?" Meski nampak ragu-ragu, Jake mulai menggeledah kamar tidur orang tuanya. Erik juga ikut membantu.


Setiap sudut mereka periksa, dan akhirnya...


"Hei, lihatlah kemari," pinta Erik.


"Ada apa?" Jake datang mendekat.


"Lihatlah, seperti ada yang aneh," Erik menemukan sedikit celah di bagian bawah lemari pakaian milik Sandra.


"Tapi ini lemari baju ibuku," Jake agak ragu. Namun ia tetap mencoba untuk mengetuk-ngetuk bagian bawah lemari itu.


Dug... Dug...


Seperti ada ruangan di baliknya.


"Sepertinya ada sesuatu di dalam," Erik mulai curiga.


Begitu juga dengan Jake, mereka berdua mencoba mencari sela-sela untuk membuka papan yang menutupi bagian bawah lemari.


"Ini dia," Jake berhasil menemukan celahnya dan akhirnya papan tebal itu bisa terangkat. Setelah papan diangkat, ternyata ada lubang besar menuju ke suatu tempat. Ada tangga yang terhubung ke area gelap di bawah sana.


"Sepertinya itu ruang rahasia," ucap Erik.


"Kau benar, mungkin saja semua dokumen itu ada di sana," Jake mencoba untuk menyinari area gelap itu dengan senter dari ponselnya.


"Kau mau masuk?" Tanya Erik.


"Ayo kita masuk bersama," ajak Jake.


Jake dan Erik pun akhirnya masuk ke dalam lubang secara bergantian. lubang sempit itu hanya bisa dilalui oleh satu orang.


Perlahan-lahan, akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan kecil yang berisi tumpukan berkas.


Jake dan Erik saling memandang. Itukah berkas yang mereka cari?


Tanpa pikir panjang, Jake dan Erik langsung memeriksa semua berkas yang ada di sana. Berkas-berkas yang sudah hampir lapuk karena tempatnya yang lembab, ditambah debu yang menumpuk di atasnya. Membuat mereka bersin berkali-kali.


Di ruang Pras.


"Hei, kau pasti senang sekali ya," singgung Lukas.

__ADS_1


"Maaf tuan muda," Pras menunduk tak berani menatap Lukas.


"Kalau aku tak ingat kau telah menyelamatkan Tamara sudah ku hajar kau," Lukas masih kesal dengan sikap Tamara yang terlalu baik pada Pras namun begitu ketus pada dirinya.


"Maaf tuan muda," hanya itu yang bisa Pras katakan.


"Cih," Lukas membuang muka seolah tak sudi melihat Pras.


"Tuan muda, sebaiknya tuan muda dan nona pulang saja ke rumah. Saya tidak mengapa jika harus di sini seorang diri," ucap Pras.


"Aku juga maunya begitu, tapi Tamara tak mau."


"Kenapa tidak tuan paksa saja?" Pras memberi ide.


Lukas melirik ke arah Pras.


"Kau mau pertengkaran kami semakin panjang?"


"Tidak tuan muda," Pras kembali menunduk.


Tapi sepertinya usul dari Pras itu adalah sebuah ide cemerlang bagi Lukas.


"Kenapa aku tak memikirkannya?" Batin Lukas.


Saat ini Tamara sedang berada di kamar mandi. Tak lama kemudian, Tamara pun keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di samping Pras.


Jengah melihat Tamara yang terus menerus dekat dengan Pras, Lukas segera menghampiri Tamara.


"Ayo ikut," ucap Lukas tanpa melihat ke arah Tamara.


"Sudah ikut saja, jangan banyak tanya," Lukas yang tak sabaran akhirnya menarik tangan Tamara.


Mereka berdua pergi keluar ruangan Pras.


"Huufttt..." Pras akhirnya bisa bernafas dengan lega. Sebelumnya udara di ruangan itu terasa sangat pengap, seperti tak ada ventilasi sama sekali, padahal ia ditempatkan di ruangan VIP.


"Akhirnya mereka pergi juga," gumam Pras.


Lukas menarik Tamara hingga ke parkiran mobil. Tiba di depan mobil miliknya, Lukas langsung menyuruh Tamara untuk masuk ke dalam.


"Tidak mau!" Tamara menolak.


"Apa aku harus berbuat kasar padamu?" Lukas lelah dengan sikap Tamara padanya.


"Silahkan saja! Kau sudah meninggalkan Jake dan membunuh om Richard, hal itu juga pasti mudahkan bagimu?" Tantang Tamara.


"Membunuh? Aku tidak membunuh siapa pun. Apa kau belum dengar?"


Tamara terdiam, ia tak mengerti apa maksud Lukas.


"Paman mu itu masih hidup," Lukas melanjutkan.


"Apa? Bagaimana kau tau?" Tamara melirik Lukas, ia ragu akan ucapan Lukas.


"Astaga, apa tak ada orang yang memberitahu mu?"

__ADS_1


Tamara menggeleng perlahan.


Lukas menghela nafas.


Sikapnya perlahan melunak, Lukas baru sadar ternyata sikap yang ditunjukan Tamara padanya karena Tamara tak tau bahwa pamannya masih hidup.


"Mereka sudah berhasil menemukan om Richard, kondisinya baik-baik saja."


Wajah Tamara juga mulai melunak.


"Kau yakin?" Tanya  Tamara ragu.


"Iya, beruntung mobilnya tersangkut di dahan pohon besar. Jadi om Richard tidak terluka parah." Ucapan Lukas berhasil menenagkan Tamara.


Meski pamannya itu telah jahat padanya, namun karena hatinya yang lembut, Tamara jadi tak tega juga untuk membalas perbuatan pamannya.


Itulah sebabnya, Tamara sangat marah kepada Lukas karena Lukas tega mencelakai pamannya.


Lukas sendiri juga tak menceritakan secara detail kondisi Richard saat ini. Menurutnya, saat ini cukuplah Tamara tau sampai sini.


"Kau tak bohong kan?" Taya Tamara meyakinkan.


"Tiadak sayang, apa kau tak percaya padaku?" Lukas mendekati tamara dan meraih tangannya.


Tamara yang sudah melunak membiarkan Lukas menggenggam tangannya.


"Sekarang kita pulang dulu yuk, aku lelha," pinta Lukas.


Tamara mengangguk perlahan.


Lukas pun tersenyum, ia lalu membukakan pintu mobil agar Tamara bisa masuk ke dalam. Setelah Tamara masuk ke dalam mobil, Lukas menutup pintunya perlahan. Ia pun bergegas masuk ke kursi kemudi, dan melajukan mobil menuju rumah mereka.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tiba di rumah. Begitu mobil terparkir di halaman, Lukas menghela nafas panjang.


"Akhirnya kita pulang juga, rasanya sudah lama sekali kita pergi dari rumah," ucap Lukas.


Tamara yang masih duduk manis di samping Lukas pun tersenyum menatap Lukas.


"Iya, rasanya sudah lama sekali tidak pulang ke rumah," ucap Tamara sambil tersenyum.


"Aku lapar, aku rindu masakanmu," Lukas memelas minta dibuatkan sesuatu oleh Tamara.


Namun seketika saat itu Tamara teringat, bahwa di rumah tak ada bahan makanan.


"Sayang, maafkan aku," Tamara memasang wajah memelas juga membuat Lukas gemas melihatnya.


"Kenapa sayang? Kamu lelah ya? Ya sudah, kita pesan saja ya," ucap Lukas tak tega melihat wajah Tamara.


"Bukan begitu. Tapi rasanya tak ada bahan makanan di rumah, karena itulah kemarin pagi aku pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan agar bisa membuatkan sesuatu untukmu. Tapi tak ku sangka ternyata malah aku..." Tamara menundukkan wajahnya, gara-gara dirinyalah semua jadi berantakan.


Dua pengawalnya terluka parah, dan Lukas juga kelaparan.


Lukas tersenyum menatap istrinya yang sangat menggemaskan itu. Dengan penuh rasa sayang, Lukas memeluk Tamara.


"Tidak apa, yang penting kamu sudah kembali dengan selamat," bisik Lukas.

__ADS_1


__ADS_2