Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 32


__ADS_3

Setelah memakai pakaiannya, Lukas menyusul Tamara ke ruang makan. Di sana sudah tersedia banyak sekali menu mewah untuk di santap.


Lukas melihat Tamara sudah mulai menyantap makan malam mereka.


"Kau mulai tanpaku?" Tanya Lukas.


"Mmm... Kupikir kau masih lama, aku sudah sangat lapar. Jadi aku makan duluan," jawab Tamara.


Lukas hanya mengangguk-angguk.


"Baiklah, ku biarkan kau kali ini. Bersiaplah, sebentar lagi akan ku buat kau menangis karena sudah membuat juniorku bangkit," batin Lukas.


Lukas juga sudah memulai menyantap makan malam mereka, matanya terus tertuju pada Tamara. Ia mengamati bagaimana Tamara makan, minum, dan bahkan sekedar bergerak dan bernafas.


Lukas memperhatikan dengan seksama gadis yang ada dihadapannya itu. Entah mengapa, tubuhnya terasa sangat panas sekali. Terutama saat Lukas melihat bibir Tamara yang sedang mengunyah. Darah Lukas seakan mendidih karena terbakar, bagi Lukas bibir itu sangat menggoda.


"Kenapa gadis itu tiba-tiba jadi sangat menarik?" Batin Lukas.


Tamara sudah selesai dengan makan malamnya, ia meneguk satu gelas air. Lukas masih memperhatikan dengan seksama, rasanya saat itu juga Lukas ingin melahap bibir Tamara.


"Sabar Lukas, sabar," jantung Lukas berdebar kencang. Hawa di tubuhnya terasa semakin panas, dan Lukas merasa sangat gelisah.


Juniornya di bawah sana sudah meronta-ronta ingin segera dilepaskan dan menemukan sarangnya.


"Aku sudah selesai," ucap Tamara.


"Aku juga," Lukas ikut menyudahi makan malamnya.


Tamara melihat masih banyak makanan di piring Lukas.


"Tapi itu belum habis?"


"Aku sudah kenyang," Lukas bergegas pergi menuju kamarnya. Ia sudah tak bisa mengontrol dirinya lagi.


Semua ini karena Tamara terus-terusan menggodanya. Akhirnya Lukas menyerah juga. Malam ini Lukas berniat untuk memberikan apa yang diminta oleh Tamara, tidak, lebih tepatnya yang diinginkan juniornya.


Lukas berjalan mondar mandir di dalam kamar, ia sedang memikirkan cara bagaimana memulainya dengan Tamara.


"Apa aku langsung saja? Ku rasa dia juga sudah tak sabar ingin menikmati tubuhku," gumam Lukas.


"Tapi, kalau dia menolak bagaimana?"


"Ah, tidak mungkin... Tadi saja dia sangat menggebu-gebu ingin merasakan tubuhku."


"Tapi jika dia berubah pikiran bagaimana?"


Lukas terdiam, batinnya masih bergejolak apa dia akan melakukannya atau tidak. Namun melihat si junior yang sudah meronta-ronta, Lukas tak mungkin diam saja.


"Tapi ngomong-ngomong kemana gadis itu? Kenapa dia tak muncul-muncul juga? Apa dia menghindariku lagi?"


Lukas kembali keluar kamarnya, hendak mencari Tamara. Namun tak butuh waktu lama, ternyata Tamara ada di teras belakang vila sedang duduk menghadap ke arah laut. Tamara tampak diam saja, tak ada ekspresi yang bisa Lukas lihat dari raut wajah Tamara.

__ADS_1


"Kenapa dia diam saja?"


Angin di luar sangat kencang, Lukas melihat Tamara hanya menggunakan pakaian tipis saat itu. Lukas berinisiatif untuk mengambil selimut tebal, dan juga beberapa kaleng minuman beralkohol untuk mereka minum di teras belakang.


"Hei, kenapa kau ada di sini?" Lukas datang meletakkan selimut tebal di tubuh Tamara.


Tamara terkejut, tak hanya karena kedatangan Lukas yang tiba-tiba. Tetapi juga karena Lukas yang menaruh selimut di tubuhnya.


"Apa ini?" Tanya Tamara.


"Kau tak lihat, angin di luar sangat kencang? Nanti kalau kau sakit aku bisa dimarahi kakekmu," jawab Lukas.


"Cih, kupikir karena kau peduli padaku," gerutu Tamara.


"Jangan berharap lebih," Lukas masih saja berkata-kata seolah dirinya menolak Tamara.


"Ini minumlah," Lukas menyerahkan sekaleng minuman beralkohol pada Tamara.


"Minuman beralkohol? Kau ingin membuatku mabuk?"


"Ya sudah kalau tidak mau," Lukas menarik kembali minuman itu.


"Siapa yang bilang tidak mau?" Tamara mengambil kaleng minuman itu dan segera meminumnya, karena Lukas sudah membukanya tadi.


Tamara meneguk dengan cepat sekaleng minuman beralkohol itu, hingga tak lama habis sudah minuman itu dalam sekejap.


"Hei, pelan-pelan. Kau tak tau caranya minum sepertinya," protes Lukas.


"Kau benar, aku memang tidak tau. Semasa hidupku mana pernah aku berkumpul bersama teman-temanku dan menikmati sekaleng minuman beralkohol? Semua waktu yang ku lalui selama ini hanya bekerja, bekerja, dan bekerja."


Sesaat kemudian, Tamara mulai meracau.


"Aku tak pernah bermain bersama teman-teman, berkencan dengan orang yang ku suka, aku juga tak pernah pergi berbelanja di mall, bahkan aku pun tak pernah duduk santai seperti ini sebelumnya."


Lukas terdiam, ia memperhatikan Tamara dengan seksama.


"Apa kau punya seseorang yang kau suka?"


"Apa? Aku? Tentu saja, aku menyukai seorang pangeran tampan yang kaya raya. Tapi dia tidak membalas perasaanku," Tamara sepertinya sudah mulai mabuk. Ia tak lagi bisa menguasai dirinya saat ini.


"Siapa itu? Aku?"


Tamara menghadap ke arah Lukas, ia menempelkan kedua tangannya di pipi Lukas.


"Hahaha, iya... Itu kau!"


"Sejak kapan kau menyukaiku?"


"Sejak... Sejak pertama kali aku melihatmu," jawab Tamara sambil tersenyum manis pada Lukas.


"Apa sebelumnya kau juga pernah menyukai seseorang seperti kau menyukai diriku?"

__ADS_1


Tamara menggeleng.


"Aku pernah suka, tapi hanya sedikit," Tamara mempraktekkan ukuran sedikit dengan satu tangannya. Ia mendekatkan ibu jarinya dan telunjuk, menandakan ukuran rasa sukanya yang sangat kecil.


"Kalau aku?"


"Tentu saja sangat besar... Segini..." Tamara merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Lukas tersenyum geli, entah mengapa ia merasa sangat senang mengetahui Tamara yang menyukainya sebanyak itu.


"Lalu, apa yang ingin kau lakukan padaku? Kau lihat, aku ada di hadapanmu saat ini," Lukas menantang Tamara.


"Aku? Aku ingin mencium bibirmu," Tamara menunjuk bibir Lukas yang memang sangat menggoda bagi Tamara.


"Lakukanlah!"


"Bolehkah?"


Lukas mengangguk.


Tamara mendekatkan wajahnya ke arah Lukas, ia lalu mengecup bibir Lukas.


"Cukup?" Tanya Lukas.


"Apa... Aku boleh menciumnya lebih lama?" Tamara yang dalam pengaruh alkohol semakin berani meminta lebih pada Lukas.


"Lakukanlah!"


Tamara tersipu, ia tak menyangka Lukas memperbolehkannya.


"Apa ini mimpi? Ini pasti mimpi! Karena Lukas yang asli tak akan pernah mau memperbolehkan aku menyentuh tubuhnya."


"Kau benar, anggap saja ini hanya mimpi."


"Kalau begitu, apa boleh aku melakukan apapun padamu?"


"Lakukanlah! Dan ingat, ini hanya mimpi!"


Tamara tersenyum, ia lalu mencium bibir Lukas lebih lama.


Lukas yang mendapat ciuman untuk kedua kalinya tak mau diam saja, ia ambil kesempatan itu untuk mengambil alih permainan.


Ciuman itu berubah menjadi ***** an, dengan Lukas sebagai pemimpinnya. Tamara hanya pasrah saja menikmati bibirnya di ***** oleh Lukas dengan cukup ganas.


Lukas melepaskan ciumannya, ia menatap wajah Tamara yang tak berdaya.


"Kau mau melakukan lebih dari ini?" Bisik Lukas.


Tamara mengangguk perlahan.


"Tapi ingat, ini hanya mimpi!" Bisik Lukas di telinga Tamara.

__ADS_1


Lukas lalu membopong tubuh Tamara menuju kamarnya.


__ADS_2