
Di dalam kamar pelayan, si pelayan yang baru masuk mengatakan pada Tamara bahwa Lukas sedang mencarinya saat ini.
"Mau apa dia mencariku?" Tanya Tamara.
"Tentu saja karena nona adalah istri tuan muda. Saat ini, tuan muda pasti sangat mengkhawatirkan nona," jawab si pelayan.
"Apanya yang khawatir, dia sepertinya bahagia jika tidak melihatku," gerutu Tamara.
"Nona tidak boleh seperti itu, pertengkaran antar suami istri itu biasa. Apalagi nona dan tuan muda baru saja menikah, jadi merupakan hal yang wajar jika terjadi perselisihan. Dan nona harus tau, semua masalah rumah tangga hanya ada satu solusi," nasihat si pelayan.
"Apa itu?" Tanya Tamara penasaran.
"Semua masalah rumah tangga bisa selesai jika diatasi di atas ranjang," jawab si pelayan.
"Di atas ranjang?" Tamara yang masih polos tentu tidak mengerti maksud dari ucapan si pelayan.
"Aduh, masa nona tidak paham? Itu loh nona... Mmm..." si pelayan ragu-ragu ingin mengatakannya.
"Apa?" Tamara semakin penasaran.
"Hubungan suami istri," bisik si pelayan.
"Hah?" Tentu saja jawaban si pelayan membuat Tamara terkejut.
Bagaimana mungkin mereka mengatasi masalah ini jika mereka saja tidak tidur di ranjang yang sama.
"Dari mana kau tau? Apa kau pernah mengalaminya?"
"Semua orang juga tau nona, meski saya masih gadis tapi kata-kata itu sering saya dengar dari obrolan para pelayan dan penjaga vila yang sudah menikah."
Tamara mengangguk paham, meski rasanya aneh karena ia sendiri tak pernah mendengar ucapan seperti itu. Ia merasa mungkin dirinya saja yang kurang bergaul dengan orang-orang yang sudah menikah.
"Ayo nona, cobalah. Saya jamin masalah kalian pasti akan segera selesai," saran dari si pelayan.
Tamara hanya bisa menghela nafas panjang, ia sendiri tak yakin apa ia bisa berada di atas ranjang yang sama dengan Lukas. Tamara yakin Lukas pasti akan segera mengusirnya.
"Ngomong-ngomong berapa usiamu?"
"Saya, dua puluh tahun nona," jawab si pelayan dengan sopan.
Tamara memperhatikan dengan seksama, gadis di hadapannya yang usianya ternyata lebih muda darinya.
__ADS_1
Terlintas dalam pikirannya untuk mengatakan tentang masalahnya dengan Lukas, namun ia segera mengurungkan niatnya. Sebelumnya Tamara sudah berjanji pada Lukas untuk tak mengatakan apapun tentang hubungan mereka kepada siapapun.
Karena menurut Lukas, di vila ini pasti kakeknya sudah menaruh seorang mata-mata dan bisa saja gadis yang terlihat polos di matanya ternyata adalah mata-mata yang dikirim oleh Dominic.
"Kalau begitu, aku mau langsung mencobanya," ucap Tamara seraya bangun dari tempat duduknya.
"Iya nona, lebih cepat lebih baik. Biar kalian juga bisa segera memiliki momongan."
"Momongan?"
"Iya nona, tuan Dominic pasti akan senang jika tuan muda dan nona bisa segera memberikan tuan Dominic seorang cicit."
Deg...
Ucapan si pelayan barusan seolah menyadarkan Tamara, bahwa mungkin saja pelayan itu adalah salah satu dari mata-mata yang dikirim Dominic.
"Hehe, kau benar. Kalau begitu aku permisi dulu ya. Terima kasih telah menampung ku sementara," ucap Tamara sebelum meninggalkan kamar si pelayan.
"Iya nona, sama-sama. Semangat nona!"
Tamara lalu berjalan kembali ke kamarnya. Untuk saat ini, ia merasa mungkin lebih aman berada di kamar bersama Lukas. Meski mungkin nanti ia akan sulit mengendalikan debaran jantungnya
"Ah, sudahlah tak mengapa. Toh dia juga sudah tau kalau aku menyukainya. Mau dibalas atau tidak perasaanku, itukan urusan dia," gumam Tamara.
"Hei, dari mana saja kau? Sudah melarikan dirinya?"
Tamara merengut sambil berjalan mendekati Lukas. Kini Tamara sudah duduk di samping Lukas.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?"
"Bukan urusanmu! Urus saja dirimu sendiri!"
Lukas mendelik, ia heran dengan sikap Tamara yang nampaknya sangat kesal padanya.
"Kau kesal padaku?"
Tamara diam, ia tak mau menjawab pertanyaan Lukas.
"Kenapa? Karena aku tak membalas cintamu?"
Tamara masih diam.
__ADS_1
"Ya, mau bagaimana? Ini kan urusan hati, tidak mudah memunculkan dan menenggelamkan perasaan begitu saja. Kali ini, aku hanya bisa minta maaf. Tapi ya... Mau bagaimana? Aku memang sudah mempesona dari sananya. Bukan salahku jika kau tergila-gila padaku."
Tamara menghela nafas, pria itu bukannya membantu malah membuat Tamara semakin kesal.
"Sudahlah, terima saja. Jangan berusaha untuk melupakan perasaanmu padaku, karena aku tau itu pasti tak mudah. Jika kau mau, cintailah aku sebanyak yang kau mau."
Tamara meninggalkan Lukas yang masih terus mengoceh. Ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Hei, kenapa kau tidur di situ?"
"Kenapa? Apa aku tidur di kasur mu juga tidak boleh? Pelit sekali, aku hanya ingin tidur sendiri bukan tidur bersamamu," gerutu Tamara.
"Oke, baiklah... Tidurlah, anggap saja itu kompensasi dariku karena aku tak membalas perasaanmu" ucap Lukas.
Tamara tak mau mendengar apapun ucapan Lukas, ia menutup telinganya dengan guling. Dalam sekejap, Tamara pun tertidur pulas.
"Hei, apa kau sudah tidur?"
Tak ada jawaban dari Tamara.
Lukas berjalan menghampiri Tamara yang menutupi wajahnya dengan guling. Lukas lalu menarik guling tersebut dan melihat Tamara yang sepertinya benar-benar sudah masuk ke alam mimpi.
"Cepat sekali dia tertidur," Lukas duduk di tepi ranjang. Ia membelai rambut Tamara yang terurai panjang.
"Kasihan sekali nasibmu, kenapa juga kau harus menyukai laki-laki sepertiku? Tapi mau bagaimana lagi? Ku harap kau bisa bahagia hanya dengan mencintaiku," ucap Lukas sambil terus membelai rambut Tamara.
"Apa rasa kantuk itu bisa menular?" Gumam Lukas.
"Hoahhmmm..." Lukas tidur di samping Tamara. Ia tidur sambil menghadap ke arah Tamara.
Di tempat lain, Dominic yang terus menerus mendapat kabar tentang Lukas dan Tamara dari orang suruhannya di vila merasa sangat senang sekali. Ia tak menyangka Lukas akan jatuh hati pada Tamara secepat itu.
"Tunggu dulu... Aku tak boleh senang dulu. Bisa saja ini hanya akting dia kan?" Entah mengapa Dominic merasa ada yang aneh.
Sedari awal Lukas jelas-jelas menentang perjodohan ini. Namun entah mengapa menurut pengakuan para mata-mata yang ia kirim, Lukas dan Tamara seperti pasangan romantis selayaknya orang yang baru menikah.
Dominic merasa ragu bila Lukas bisa secepat itu menyukai Tamara. Sedangkan ia kenal sekali bagaimana cucu semata wayangnya itu.
"Apa akhirnya anak itu menyerah?" Gumam Dominic.
"Tidak, aku akan menginterogasi Tamara setelah mereka pulang nanti. Aku akan melihat bagaimana ekspresi gadis itu, jika mereka benar-benar bulan madu Tamara pasti akan terlihat berbeda."
__ADS_1
Dominic yakin, jawaban atas rasa curiganya pada Lukas ada pada Tamara. Karena menurut Dominic, Tamara tak akan berbohong.
"Gadis itu benar-benar menyukai Lukas, biar aku lihat ekspresinya. Jika ia terlihat kecewa, Lukas berarti telah mengelabui ku," gumam Dominic.