Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 65


__ADS_3

Tamara yang bingung harus menjawab apa, langsung menoleh ke arah Lukas yang duduk di seberangnya. Namun Lukas sama sekali tak memandang ke arahnya, wajah Lukas terus tertunduk lesu sambil menatap ke arah lantai.


Tamara tau, saat ini Lukas pasti sedang tidak baik-baik saja. Ia harus menggantikan posisi ayahnya sedangkan kondisi Leonard saat ini masih sangat mengkhawatirkan.


Tamara menatap Adrian, dan Adrian pun mengangguk. Menandakan ia setuju jika Tamara lah yang membantu menjaga Leonard di rumah sakit ini.


Melihat persetujuan dari kakeknya, Tamara pun menyanggupi permintaan Dominic untuk menjaga Leonard selama di rumah sakit.


"Terima kasih Tamara," Vanesa menghamburkan diri memeluk menantu satu-satunya itu.


Vanesa kini merasa lega, ia jadi bisa fokus melanjutkan pekerjaan yang sedang Leonard lakukan saat ini.


Setelah ruangan sepi, semua orang pergi entah kemana? Tamara hanya ditinggal sendiri bersama Leonard yang sedang tertidur lelap. Ia duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari tempat tidur pasien.


Tamara menatap wajah Leonard yang meski sudah mulai menua, namun masih terlihat sangat tampan.


"Aku sampai lupa menanyakan, bagaimana papah bisa kecelakaan seperti ini?" Gumam Tamara.


Memang sejak ia datang sore tadi, semua orang sibuk membahas tentang proyek yang bahkan Tamara sendiri tak tau proyek apa itu? Apakah sepenting itu sampai-sampai mereka tak mempunyai waktu untuk merawat keluarga mereka yang sedang sakit saat ini?


Tamara memang tak mengerti dengan kehidupan orang-orang kaya yang kesehariannya di penuhi dengan bisnis, bisnis, dan bisnis.


Sedang asik melamun, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata Lukas baru datang membawa bungkusan mungkin berisi makanan.


"Kamu sudah makan?" Tanya Lukas.


"Belum," jawab Tamara.


"Ini ku bawakan makanan untukmu," Lukas menyerahkan bungkusan berisi makanan pada Tamara.


"Kamu sudah makan?" Tamara balik bertanya.


"Sudah, kamu makanlah dulu," Lukas duduk di samping Tamara.


Tamara membuka makanan yang dibawakan Lukas, satu porsi nasi goreng. Perlahan Tamara menyantapnya.


"Enak," ucap Tamara sambil tersenyum. Lukas senang melihat Tamara menyukai makanan yang dibawanya.


"Malam ini aku akan menemani kamu di sini. Besok baru kamu sama kakek Adrian ya," ucap Lukas.


"Kalau kamu di sini, kakek tidur dimana malam ini?"


"Biar para lansia itu tidur di hotel malam ini. Oh iya, apa kamu bawa baju ganti untukku?"

__ADS_1


"Iya, kamu mau ganti baju?"


"Nanti saja, kamu habiskan dulu makanan mu."


"Baiklah."


Selesai makan, Tamara mengambil pakaian ganti untuk Lukas dari dalam koper.


"Ini, aku cuma bawa kaos dan celana pendek," Tamara lupa membawa piyama untuk tidur Lukas.


"Tidak apa, sini... Biar aku ganti baju dulu," Lukas pun masuk ke dalam toilet dan mengganti pakaiannya di sana.


Sementara Tamara menyiapkan tempat tidur dari sofa bed untuknya dan juga Lukas. Mulai malam ini dan entah sampai kapan, Tamara akan tidur di ruangan ini. Tamara berharap, papah mertuanya bisa lekas sembuh agar ia bisa kembali tidur si rumahnya yang nyaman.


"Kami gak apa-apa tidur di sini?" Tanya Lukas. Melihat tempat tidur yang nampaknya kurang nyaman baginya.


"Tidak apa, sebelum menikah denganmu kan aku juga biasa tidur di tempat seperti ini."


"Maksudmu kasur yang keras ini?"


"Iya," Tamara mengangguk.


Lukas terdiam, ia memang mulai lupa bahwa Tamara pernah tinggal di rumah kontrakan yang bahkan tak lebih besar dari ruang tamu rumahnya.


Lukas masih terdiam, lagi-lagi ia menundukkan wajahnya.


Tamara melihat suaminya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, ia pun menghampiri Lukas dan langsung memeluk Lukas dengan lembut.


Tamara tak tau apa yang kini sedang Lukas pikirkan? Ia hanya ingin menyampaikan pada Lukas, bahwa dirinya akan selalu ada bersama Lukas. Dan Tamara siap untuk berbagi suka dan duka bersama Lukas.


Sehingga Lukas tak perlu merasa khawatir lagi, ia bisa mencurahkan seluruh rasa resah gelisah nya pada Tamara.


Lukas membalas pelukan Tamara. Saat ini, Lukas merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Tadinya ia sempat khawatir, bahwa keputusannya untuk menikah akan ia sesali sepanjang hidupnya. Namun nyatanya kali ini ia malah bersyukur karena sudah menerima permintaan sang kakek untuk segera menikah.


Di saat hatinya sedang resah seperti ini, ia merasa ada seseorang yang akan selalu ada di sisinya. Menemaninya, dan siap menerima dirinya jika suatu yang buruk mungkin terjadi padanya.


"Sayang," bisik Lukas. Lukas pada akhirnya terbiasa memanggil Tamara dengan panggilan itu.


"Mmm?"


"Aku takut..."

__ADS_1


"Takut?"


"Mmm... Ada banyak hal yang aku takutkan saat ini."


Tamara terdiam, ia menatap mata Lukas yang terlihat sendu.


"Kamu takut karena mengambil alih pekerjaan papah?"


Lukas mengangguk perlahan.


"Kamu tau, kenapa papah bisa kecelakaan seperti ini?"


Tamara menggeleng.


"Itu karena saingan bisnisnya, ketika ada proyek besar dari pemerintah, maka akan ada banyak perusahaan yang datang untuk mengajukan diri. Tak sedikit diantara mereka yang memakai cara curang untuk bisa berhasil mendapatkan proyek itu."


Tamara mendengarkan ucapan Lukas sambil menatap Lukas penuh cinta. Ia saat ini siap mendengarkan apapun yang menjadi beban dalam hati Lukas, karena memang ia satu-satunya yang bisa Lukas andalkan saat ini.


"Jadi kamu takut akan mengalami hal yang sama dengan papah?" Tanya Tamara.


"Bukan itu, aku lebih takut tidak bisa mendapatkan proyek ini sesuai dengan keinginan kakek," jawab Lukas.


Tamara menghela nafas, ia tak percaya Lukas lebih takut pada kakeknya dibanding dengan nyawanya yang mungkin terancam.


"Kalau itu yang kamu takutkan, seharusnya kamu tak perlu merasa khawatir. Kamu adalah orang hebat, di usia semuda ini saja kakek sudah mempercayakan kamu sebagai seorang CEO di salah satu anak perusahaannya. Dan lagi sekarang kamu juga dipercaya oleh kakek untuk menggantikan ayahmu memegang proyek ini."


"Itu artinya, kamu memang luar biasa dan kakek sudah mengakuinya," tambah Tamara.


"Tapi kalau ternyata aku tak bisa, bagaimana?"


"Kami tetap hebat di mata kakek, percayalah padaku. Yang terpenting sekarang, kamu harus percaya diri agar kamu bisa mempersiapkan semuanya dengan baik," nasihat Tamara.


"Kamu benar, sejenak aku merasa tak percaya diri. Karena saingannya pasti orang-orang yang sudah berpengalaman seperti papah."


"Tapi pengalaman kamu juga gak bisa dianggap remeh."


"Begitukah?"


"Mmm... Percayalah padaku, bagaimana pun hasilnya, setidaknya kamu harus lakukan yang terbaik yang kamu bisa. Agar kamu tidak menyesal nantinya."


Lukas tersenyum menatap Tamara.


"Sekarang, kamu tidur dulu ya. Supaya badan kamu tidak merasa lelah, dan besok kamu bisa siap menghadapi para pesaing yang mungkin saja akan bermain curang," ucap Tamara.

__ADS_1


Lukas pun menurut, ia menarik Tamara ke dalam pelukannya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, Lukas selalu tidur sambil memeluk Tamara.


__ADS_2