Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 118


__ADS_3

Jake yang sudah sadarkan diri segera diperiksa oleh dokter.


Dokter bertanya apa yang Jake rasakan saat ini, apa ada rasa sakit di area dada, perut atau kepala.


"Seluruh badanku terasa sakit," jawab Jake.


Dokter pun menjelaskan hasil pemeriksaan yang sebelumnya sudah dilakukan saat Jake tertidur, dan semua hasil pemeriksaan pun sudah diberitahukan kepada Sandra, ibunya.


Jake hanya mendengarkan penjelasan dokter sambil terus menatap Sandra.


Setelah selesai memberi penjelasan, dokter dan perawat yang tadi memeriksa Jake pun pergi.


"Jake, kau harus dirawat di rumah sakit terlebih dulu untuk beberapa hari ke depan," ucap Sandra.


"Kenapa?" Tanya Jake datar.


"Kau tak dengar penjelasan dari dokter tadi?" Sandra heran dengan pertanyaan Jake.


Jake tak menjawab, namun matanya masih terus menatap Sandra.


"Ada apa? Ada yang ingin kau katakan padaku?" Sandra duduk di samping tempat tidur Jake.


"Apa ada yang ingin ibu dengar dariku?" Jake malah balik bertanya.


"Tentu saja, kau tak tau betapa khawatirnya ibumu melihat kondisimu saat ini. Dan... Kemana saja kau selama ini Jake? Sudah beberapa hari kau tidak pulang. Ibu merasa sangat-sangat khawatir. Di tambah lagi ayahmu sekarang tak bisa dihubungi. Jake... Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Siapa orang yang tega melakukan ini padamu?" Sandr terus menerus bicara pada Jake.


Sejujurnya Sandra merasa sedikit lega melihat Jake yang sudah sadar, namun rasa ingin tahunya yang semula ingin ia simpan hingga Jake benar-benar pulih. Rasanya tak dapat Sandra bendung lagi. Sandra harus secepatnya tau siapa orang yang tega menganiaya anak semata wayangnya itu.


"Bu, apa Tamara baik-baik saja?" Tanya Jake dengan suara yang lemah.


"Tamara? Kenapa kau malah mengkhawatirkan orang lain saat kondisimu sendiri sedang tidak baik-baik saja?" Sandra kesal pada Jake karena masih sempat-sempatnya Jaake bertanya soal Tamara di saat kondisinya masih belum pulih.


"Bu, tolong jawab saja pertanyaanku. Jika Tamara sampai celaka, rasanya sia-sia aku melakukan semua ini," ucap Jake.


Sandra terdiam, ia menatap kesal pada Jake.


"Kau menyukainya?" Tanya Sandra kesal.


"Apa itu penting?"


"Jawab Jake!"


"Bukankah seharusnya ibu dulu yang menjawab pertanyaanku?"


"Wah..." Sandra tertawa getir melihat tingkah Jake saat ini. Ia tak percaya jika memang benar Jake sampai menyukai Tamara. "Jadi benar kau menyukainya?"


"Bu..." Jake tak mau berdebat dengan ibunya. Ia hanya ingin tau apa Tamara baik-baik saja.


Sandra mendengus kesal.

__ADS_1


"Dia juga terbaring di ruangan ini," jawab Sandra sambil memberi kode ke arah samping tempat tidur Jake.


Jake yang paham jika Tamara juga berada di sini pun segera bangun dari tidurnya.


"Hei, mau apa kau? Kau masih belum boleh banyak bergerak," Sandra segera menahan Jake.


"Aku mau melihat kondisinya bu," ucap Jake memelas.


"Tidak bisa, kau bahkan terluka di sekujur tubuh. Tapi dia tak terlihat terluka sedikitpun." Ucapan Sandra menjawab pertanyaan Jake sejak tadi.


"Syukurlah kalau dia tak terluka," gumam Jake.


Sandra menatap anaknya tak percaya.


"Kau benar-benar menyukainya..." Sandra menggelengkan kepalanya.


"Bu, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," ucap Jake.


Jake tau, ibunya amat sangat mengkhawatirkan dirinya. Terlebih beberapa hari terakhir ia tak pulang ke rumah.


"Apa ibu baik-baik saja?" Jake balik bertanya.


"Tentu saja aku tidak baik-baik saja," jawab Sandra ketus.


"Kenapa? Apa ayah menyakitimu?" Refleks Jake langsung bangun dan terduduk menghadap ibunya.


Jake melihat ibunya dengan  seksama.


"Ayah tak menyakiti ibu kan?" Tanya Jake hati-hati.


"Tidak, kenapa dia harus menyakitiku?" Tanya Sandra tak mengerti.


Jake menghela nafas lega.


"Syukurlah," gumamnya.


Sandra jadi semakin yakin dengan kecurigaannya yang sempat terlintas dalam pikirannya


"Jake..."


"Ya bu?"


"Apa ini ulah ayahmu?" Dengan perasaan was-was Sandra akhirnya bertanya pada Jake secara langsung.  Perasaannya saat itu terasa sangat tak menentu. Ia takut apa yang ia khawatirkan ternyata memang benar.


Jake menatap ibunya sangat lekat, ada perasaan tak tega dalam hati Jake jika harus berkata sejujurnya.


Melihat Jake yang diam saja, Sandra sepertinya paham bahwa firasatnya benar.


Sebenarnya, selama ini Sandra memiliki firasat bahwa Richard tau dimana keberadaan Jake. Tapi Richard sengaja tak memberi taunya pada Sandra.

__ADS_1


Sandra merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh Richard darinya.


"Jadi ini ulah ayahmu?" Pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuat hati Sandra terasa amat sakit. Bagaimana mungkin Richard tega melakukan ini pada anak kandungnya sendiri.


Jake masih tak menjawab. Kini keduanya terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.


Dari bilik sebelah, Erik mendengar percakapan ibu dan anak itu.


Erik menatap Tamara yang masih terbaring di atas tempat tidur.


"Kasihan sekali nasib anda nona, anda pasti sudah menderita selama ini," gumam Erik. Erik menatap iba pada Tamara.


Bagaimana tidak, sejak kecil Tamara sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya dan kakeknya sendiri harus menjual seluruh asetnya demi melunasi hutang-hutang kedua orang tuanya akibat ulah dari pamannya. Dan setelah bertahun-tahun terlewati, setelah kakeknya meninggal. Pamannya bukannya datang dengan ucapan bela sungkawa, Richard malah datang membawa bendera perang.


"Anaknya saja dia perlakukan seperti itu, apalagi pada anda nona."


"Tapi kini anda beruntung nona. Anda memiliki tuan muda yang amat sangat menyayangi anda. Itulah kenapa saya berada di sini sekarang, menjaga anda karena perintah dari tuan muda," batin Erik.


Di tengah keheningan, tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka. Beberapa orang masuk ke dalam IGD dan langsung mencari keberadaan dokter.


Refleks Erik, Sandra, dan Jake menoleh ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka siapa yang datang.


"Pak Nuh?" Ucap Erik.


"Ayah?" Ucapan Jake hampir bersamaan dengan Erik.


Sandra terdiam melihat kehadiran Richard di tempat itu. Matanya tertuju pada pergelangan tangan Richard yang terikat borgol.


Sesaat kemudian, antara Sandra dan Richard keduanya beradu pandang. Richard sendiri juga terkejut melihat keberadaan istri dan anaknya yang berada di sana.


"Kalian kenapa?" Tanya Richard berjalan mendekat.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya polisi yang membawanya.


Richard menoleh seikilas ke arah polisi, lalu kembali berjalan menghampiri Sandra dan Jake.


"Kalian kenapa bisa ada di sini?" Tanya Richard lagi. Kali ini ia melihat kondisi Jake yang sudah babak belur.


"Kau kenapa nak?" Tanya Richard.


Jake dan Sandra mengernyitkan dahinya.


"Kau amnesia?" Tanya Sandra dengan nada ketus.


"Iya benar," pak Nuh yang berdiri di belakang Richard yang menjawab.


'Apa?" kompak Jake dan Sandra terkejut. Matanya melotot tak percaya.


Erik yang sejak tadi duduk manis pun seketika beranjak dari duduknya dan menghampiri pak Nuh. Namun sebelumnya, ia sudah menutup tirai hingga tak dapat dilihat oleh Richard. Akan bahaya jika Richard tau, jika Tamara ada di sini.

__ADS_1


__ADS_2