
"Jadi, bagaimana bulan madu kalian?" Dominic langsung bertanya ke intinya.
"Menyenangkan sih kek, tapi..." Lukas terlihat memikirkan sesuatu.
"Tapi apa? Kamu tidak suka Tamara?" Dominic lebih memilih untuk mendengar jawaban langsung dari mulut Tamara.
"Suka kek, tempatnya bagus. Kami juga dilayani dengan sangat baik, selain itu Lukas juga mengajakku keliling pulau meski akhirnya kami harus segera kembali karena hujan," jawab Tamara polos.
"Begitu..." Dominic mengangguk-angguk.
"Iya kek, sayang cuacanya tidak mendukung untuk jalan-jalan," Lukas menimpali.
"Memang kalian mau jalan-jalan kemana? Kalian ini kan lagi bulan madu, ya harusnya di kamar saja jangan kemana-mana," ucap Dominic.
"Di kamar itu kan ada waktunya, Tamara juga kan mau melihat-lihat pemandangan di sana," Lukas terus menjawab ucapan kakeknya.
Tak lama pelayan datang membawakan tas yang berisi oleh-oleh dan juga dua cangkir teh hangat untuk Lukas dan Tamara.
"Apa itu?" Dominic melihat tas besar yang dibawa oleh pelayan.
"Oh ini," Lukas mengambil tas dari si pelayan dan membukanya. "Oleh-oleh untuk kakek."
"Untukku?" Dominic tak percaya pada ucapan Lukas, sejatinya baru kali ini ia mendapat oleh-oleh dari cucu satu-satunya itu. Dominic pun menoleh ke arah Tamara.
"Iya kek, aku juga membeli beberapa untuk mamah dan papah," jawab Tamara.
"Wah, coba kulihat. Apa yang kau belikan untukku?" Dominic tak sabar dengan oleh-oleh yang akan diterimanya.
"Ini kek, ade kemeja dan beberapa pernak pernik juga ada camilan untuk kakek," Tamara mengeluarkan satu per satu oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk Dominic.
"Terima kasih Tamara, tak salah memang aku memilihmu menjadi cucu menantuku," Dominic merasa senang karena baru kali ini anggota keluarganya ada yang membelikannya sesuatu saat pulang dari berpergian.
"Jangan berterima kasih padaku kek, ini semua kan Lukas yang membelinya. Kalau aku kan tidak punya uang," ucap Tamara.
"Uang dia kan sudah menjadi uangmu juga," jawab Dominic santai.
"Iya sayang, jadi jangan lagi mengatakan kalau aku yang membelinya," Lukas menatap lembut Tamara.
Tamara lagi-lagi merasa tersipu dengan sikap Lukas yang manis itu.
"Lukas, pergilah ke ruang kerjaku. Di sana ada beberapa berkas yang harus kau tandatangani," pinta Dominic tiba-tiba.
"Sekarang kek?"
"Iya, berkas itu sudah menunggu sejak beberapa hari yang lalu."
__ADS_1
"Tapi aku kan masih cuti kek," Lukas enggan meninggalkan Tamara seorang diri bersama Dominic. Ia takut jikalau kakeknya akan bertanya yang macam-macam dan Tamara tak bisa menjawabnya.
"Nanti pekerjaanmu jadi banyak jika tidak dikerjakan sekarang," Dominic memaksa Lukas untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dulu.
Lukas menoleh ke arah Tamara.
"Sayang, kamu mau ikut aku ke ruang kerja kakek?"
"Kenapa kau mengajak Tamara? Pergi saja sendiri sana, biarkan Tamara di sini, justru di sana akan sangat membosankan baginya," Dominic menyela sebelum Tamara menjawabnya.
"Justru itu kek, kakek tau kan di sana akan sangat membosankan. Aku ingin Tamara menemaniku," pinta Lukas dengan nada manja membuat Tamara tersenyum geli.
"Kamu ini manja sekali, nanti kalau kamu kerja apa Tamara juga harus ikut? Sudah cepat selesaikan sana, setelah itu kita akan makan siang bersama," Dominic mengusir Lukas.
"Kamu tidak usah khawatir sayang, aku baik-baik saja di sini. Kamu cepat selesaikan pekerjaanmu ya, biar kita bisa cepat makan bersama," ucap Tamara menenangkan Lukas. Tamara tau, saat ini Lukas pasti sedang khawatir karena dirinya bisa saja membuat Dominic curiga dan segera memecatnya.
Sebenarnya tak hanya Lukas yang khawatir, Tamara sendiri juga tak mau berpisah dengan Lukas. Ia takut Dominic akan memaksa mereka bercerai jika tau kemesraan mereka hanya pura-pura.
Oleh karena itu, Tamara akan berusaha menjalani perannya dengan baik sebagai istri yang mencintai dan dicintai oleh suaminya.
"Kamu benar, gak apa-apa jauh dariku?" Lukas masih merasa khawatir.
"Iya, tapi kamu jangan lama-lama ya," pinta Tamara.
Dengan berat hati, Lukas akhirnya bersedia meninggalkan Tamara berdua saja dengan kakeknya.
"Bagaimana sikap Lukas padamu?" Tanya Dominic setengah berbisik.
"Kakek bisa lihat sendiri kan, Lukas sangat baik padaku," jawab Tamara berusaha santai. Meski sebenarnya hatinya gugup tak karuan.
"Kalian sudah melakukan apa saja?" Selidik Dominic, meski ia sudah mendapat laporan tentang noda darah di sprei, tetap saja ia harus memastikan sendiri apa mereka sudah melakukannya atau belum.
Mendengar pertanyaan Dominic, tentu saja Tamara jadi ingat peristiwa tadi pagi sebelum ia datang ke sini bersama Lukas.
Seketika wajah Tamara memerah, ia pun menundukkan wajahnya.
"Padahal baru berciuman saja sudah membuatku malu begini, apalagi kalau..." ucap Tamara dalam hati.
Melihat rona merah di wajah Tamara, tentu saja Dominic langsung mengambil kesimpulan.
"Jadi kalian sudah melakukannya," bisik Dominic.
Tamara hanya mengangguk, ia terus saja kepikiran dengan bibir lembut Lukas yang mendarat di bibirnya.
Dominic tertawa puas, ia senang akhirnya berhasil membuat Lukas menjadi suami seutuhnya.
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu sepertinya aku tak perlu menunggu lama untuk kehadiran seorang cicit," ucap Dominic disela tawanya.
"Apa? Cicit?" Tamara terkejut dengan ucapan Dominic barusan.
"Iya dong, kalian tidak akan menunda untuk memiliki momongan kan?"
Tamara tertawa canggung, meski begitu ia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. Dan segera menggelengkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu, kakek senang mendengarnya."
Sekarang Tamara baru sadar arah pembicaraan Dominic. Jadi maksud melakukan itu adalah melakukan hubungan sakral suami istri, bukan sekedar berciuman.
Tapi syukurlah Dominic tak sadar, ini semua berkat ketidakpekaan Tamara. Hingga ia bisa selamat dari pertanyaan yang dikhawatirkan Lukas.
"Oh iya, kamu pasti sangat lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Iya kek, kalau begitu aku akan memanggil Lukas di ruang kerja kakek," ucap Tamara.
Kali ini Dominic memperbolehkan Tamara untuk pergi ke ruang kerjanya.
Setelah bertanya dimana letak ruang kerja Dominic, Tamara pun segera pergi menemui Lukas.
Di dalam ruang kerja, Lukas dengan cepat menandatangani berkas-berkas yang sudah diberi tanda sebelumnya oleh Olivia.
"Apa Tamara bisa menjawab semua pertanyaan kakek ya?" Gumam Lukas khawatir.
Tak lama, pintu ruang kerja pun di ketuk seseorang dari luar.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa?"
"Lukas ini aku," jawab Tamara.
Lukas segera menghentikan pekerjaannya dan bergegas membuka pintu untuk Tamara. Melihat Tamara di balik pintu, Lukas segera menarik tangan Tamara agar masuk ke dalam.
Lukas mengajak Tamara hingga kembali ke meja kerjanya. Lukas duduk terlebih dahulu, setelah itu ia meminta Tamara untuk duduk di pangkuannya.
"Duduklah," ucap Lukas dengan lembut.
"Di sini?" Tanya Tamara tak percaya.
Lukas lalu menarik tangan Tamara hingga membuat Tamara duduk dipangkuan nya.
"Ruangan ini pasti ada kamera tersembunyi di dalamnya, bersikaplah seolah-olah kamu sedang bermanja-manja denganku," bisik Lukas di telinga Tamara.
__ADS_1
Mendengar itu, Tamara jadi paham. Ia justru merasa sangat senang karena lagi-lagi ini kesempatan untuknya agar bisa semakin dekat dengan Lukas.