Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 75


__ADS_3

Tamara seolah baru kembali ke dunia nyata, kakinya terasa lemas. Ia pun hampir jatuh ke lantai, beruntung Lukas masih memeluknya dengan erat. Sehingga Tamara tak sampai jatuh ke lantai.


"Kita ke kamar ya?" Ajak Lukas.


Tamara hanya mengangguk.


Lukas pun membopong tubuh Tamara dan membawanya ke kamar, ia juga meminta pelayan untuk membawakannya teh hangat ke kamarnya.


Sepanjang jalan, Tamara terus memandangi wajah Lukas. Ada sisa air mata yang nampak di wajah Lukas.


"Kamu menangis?"


"Tentu saja, suami mana yang tak sedih melihat istrinya seperti tadi? Kamu mau apa tadi? Bunuh diri?"


"Aku? Tidak? Memangnya aku kenapa?"


"Kamu mau menceburkan dirimu ke dalam kolam."


Tamara terdiam, ia tak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi sebelum ia menyadari kehadiran Lukas.


"Kau tak sadar?"


Tamara menggeleng.


Lukas hanya bisa menghela nafas.


"Jangan seperti itu lagi ya!"


Tamara mengangguk.


Tiba di kamar, Lukas merebahkan tubuh Tamara perlahan di atas tempat tidur. Tak lama, pelayan datang membawakan teh hangat dan makan malam untuk Lukas dan juga Tamara.


"Tapi setelah ku perhatikan, wajahmu kenapa pucat sekali?" Tanya Tamara.


"Tentu saja karena aku belum istirahat sama sekali sejak kemarin malam," jawab Lukas.


Tamara menatap suaminya dengan iba, ia tau betapa sibuknya Lukas saat ini. Namun Lukas masih menyempatkan waktu untuk menemuinya.


"Istirahatlah," Tamara menepuk-nepuk lahan kosong di sampingnya.

__ADS_1


"Sebelum itu, kita makan dulu ya," ajak Lukas.


Tamara menurut. Lukas membawa nampan berisi makan malam Tamara ke atas tempat tidur, sementara itu Lukas juga menikmati makan malamnya di samping Tamara.


Kondisi Tamara sudah jauh lebih baik kini, meski masih ada aura sendu di raut wajah Tamara. Namun sekarang Tamara sudah bisa tersenyum.


Tentu saja ia tersenyum karena merasa dirinya sangat penting bagi Lukas. Tamara bahkan pertama kalinya melihat ada seorang pria menitikkan air mata di hadapannya.


Menurut cerita yang pernah ia dengar, seorang pria tak akan pernah menangis dihadapan siapapun. Kecuali jika kamu adalah seseorang yang sudah berhasil membuatnya nyaman berada di dekatmu.


Dan melihat air mata Lukas, tentu saja Tamara merasa hubungannya dengan Lukas semakin membaik. Ia hanya tinggal mendengar pengakuan cinta dari Lukas.


Selesai makan, Lukas mengajak Tamara untuk mandi bersama sebelum tidur. Lagi-lagi Tamara hanya menurut.


Tentu saja malam itu mereka tak hanya sekedar mandi, pasalnya memang sudah sejak dua minggu yang lalu Lukas menahan hasratnya. Dan kini saatnya ia melampiaskan hasratnya yang tertunda itu.


Meski mungkin momennya sedang tidak pas saat ini, namun Lukas tak lagi bisa menahannya. Apalagi ketika melihat tubuh mulus Tamara.


Tamara pun hanya pasrah saja mendapati perlakuan dari Lukas pada dirinya. Tamara sendiri juga sudah sangat rindu dengan belaian dari Lukas.


Setelah selesai ritual suami istri itu dan tak lupa membersihkan tubuh mereka, Lukas kembali membopong tubuh Tamara. Dengan telaten ia mengeringkan tubuh Tamara dengan handuk, bahkan Lukas juga memakaikan baju tidur untuk Tamara.


Selesai dengan Tamara, barulah Lukas mengurus dirinya sendiri. Meski tubuhnya terasa sangat lemas, namun Lukas tetap harus melakukan rutinitas malamnya. Dan yang tak boleh terlewat adalah rutinitas skincare nya.


"Selesai, ayo kita tidur. Tubuhku sudah sangat lemah," ucap Lukas seraya membaringkan tubuhnya di samping Tamara.


Tamara pun menggeser tubuhnya agar berada di dalam pelukan Lukas. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tertidur lelap.


Menjelang pagi, Tamara merasakan keram di perutnya. Sakit yang amat sangat ia rasakan di perut bagian bawahnya.


"Ssshhh... Ahhh, sakit sekali... Lukas..." Tamara berusaha membangunkan Lukas dengan suaranya yang lirih.


Mungkin karena terlalu lelah, Lukas tak mendengat suara Tamara. Namun tak menyerah, ia berusaha mengguncang-guncang tubuh Lukas sambil menahan sakit yang teramat sangat dari perutnya.


Semakin lama sakitnya semakin terasa, Tamara sampai menitikkan air matanya karena tak kuat menahan sakit.


Setelah sekian lama, Tamara akhirnya berhasil membangunkan Lukas. Dan betapa terkejutnya Lukas melihat kondisi Tamara yang sudah bermandikan keringat.


"Sayang, kamu kenapa?"

__ADS_1


"Lukas... Perutku rasanya sakit sekali," jawab Tamara sambil menangis.


"Sakit? Dimana?"


Tamara mengarahkan tangan Lukas tepat di bagian perutnya yang paling sakit. Saking sakitnya Tamara bahkan tak bisa menggerakkan tubuhnya.


Panik melihat kondisi Tamara, Lukas segera berlari keluar kamar. Ia berlari menuju kamar orang tuanya.


Lukas menggedor-gedor pintu kamar dengan sangat keras seraya memanggil-manggil mamah dan papahnya.


"Ada apa Lukas?" Tak lama Vanesa pun keluar dengan wajah yang masih mengantuk.


"Mah... Tamara mah," Lukas tak tau harus berkata apa. Ia langsung saja menarik tangan Vanesa menuju kamarnya.


"Tamara kenapa?" Seketika kesadaran Vanesa langsung pulih seratus persen mendengar nama menantunya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Perutnya sakit, aku tidak tau kenapa?"


Vanesa pun langsung berlari mendahului Lukas, ia khawatir dengan kondisi Tamara saat ini.


Sampai di kamar Lukas, Tamara masih meringis kesakitan. Tamara bahkan sampai menangis karena tak tahan dengan rasa sakitnya.


"Ya ampun, Tamara sayang... Kamu kenapa?"


"Perutku keram mah, gak tau tiba-tiba sakit," jawab Tamara dengan suara lirih.


"Kalau gitu kita harus cepat bawa ke rumah sakit," Vanesa meminta Lukas untuk bersiap.


"Tidak, biar mamah saja yang nyetir, kamu bawa Tamara ya... Sebentar mamah ambil kunci mobil dulu," Vanesa pun kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Ia segera menyiapkan mobil dan ingin membawa Tamara ke rumah sakit segera.


Lukas perlahan mengangkat tubuh Tamara, ia juga menggendong Tamara dengan hati-hati karena Tamara terus meringis kesakitan.


Saat kehebohan itu terjadi, beberapa pelayan juga mendengar keributan itu. Mereka yang tau dengan kondisi Tamara langsung membantu Lukas menyiapkan pakaian ganti untuk Lukas dan juga Tamara. Pelayan itu dengan sigap memasukkan pakaian ganti ke dalam tas dan berlari menyusul Lukas keluar rumah.


Kini Vanesa sudah siap dengan mobilnya, Lukas juga sudah tiba di samping mobil Vanesa. Dibantu beberapa penjaga dan pelayan, mereka menaikkan Tamara ke dalam mobil. Pelayan yang membawa baju ganti juga sudah tiba di sana.


Dengan kecepatan penuh, Vanesa mengendarai mobilnya. Meski seorang wanita, Vanesa ini memang handal dalam mengendarai mobil. Terutama di situasi darurat seperti sekarang ini.


Sementara di kursi belakang mobil Lukas masih memeluk Tamara yang juga masih merasakan sakit di perutnya. Rasa sakitnya seolah tak hilang-hilang dan malah semakin menjadi.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," Lukas hanya bisa membelai lembut rambut Tamara dan membiarkan tangan Tamara mencengkram nya sangat kuat. Sebagai bentuk pedulinya terhadap Tamara.


Lukas sendiri tak tau harus bagaimana saat ini? Ia panik dan tak tega melihat Tamara yang terus menerus meringis kesakitan, tapi ia juga tak tau harus berbuat apa.


__ADS_2