
Waktu berlalu, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Lukas dan Tamara masih betah berada di dalam selimut menutupi tubuh polos mereka.
Tak ada satupun yang datang mengganggu, sepertinya seisi rumah sudah paham apa yang sedang pengantin baru ini lakukan di dalam kamar.
Lukas masih memejamkan matanya, sementara Tamara yang sudah bangun sejak tadi namun enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
Tamara masih betah memandangi Lukas yang hanya berbalut selimut tidur sambil memeluk dirinya.
"Lukas..." Tamara mencoba membangunkan Tamara.
"Mmm..." Terdengar suara berat Lukas, namun matanya masih terpejam.
"Aku lapar," bisik Tamara.
Seketika Lukas membuka matanya, ia melihat ke arah jam dinding yang langsung terlihat olehnya begitu ia membuka mata.
"Kamu lapar?"
Tamara mengangguk.
"Mau turun ke bawah?"
"Aku kan gak bawa baju ganti, masa aku turun cuma pakai handuk? Apa aku pakai baju yang tadi saja?"
"Jangan, mau aku minta mamah meminjamkan baju untukmu?"
Tamara langsung menggeleng.
"Aku malu kalau pinjam ke mamah," Tamara menolak.
"Kalau begitu mau ku minta pelayan membawakan makan malam ke kamar saja?"
Tamara tersenyum, ia pun mengangguk setuju.
"Kalau begitu, tunggu sebentar ya. Biar aku hubungi kepala pelayan dulu," Lukas lalu mengambil ponselnya di meja samping tempat tidur.
Lukas mengirim pesan kepada kepala pelayan untuk membawakan makan malam mereka berdua ke dalam kamar.
"Selesai, kita tinggal tunggu saja mereka membawakan makan malam untuk kita," Lukas kembali memeluk Tamara dengan erat.
"Lukas..."
"Mmm..."
"Aku merasa ada yang aneh."
"Apa?" Lukas menatap Tamara dengan khawatir.
"Kata orang-orang, kalau habis melakukan itu pertama kali, pasti akan ada darah yang keluar. Tapi aku kok enggak ya?"
"Oh, itu kan karena kamu sudah tidak perawan lagi," jawab Lukas santai.
__ADS_1
Tentu saja Tamara tak terima, ia langsung duduk menghadap Lukas.
"Tapi aku sungguh masih perawan sebelum menikah denganmu, aku tak pernah melakukannya dengan siapapun," protes Tamara. Ia bahkan hampir menangis karena Lukas berkata bahwa ia tidak perawan lagi.
"Aku tau," jawab Lukas singkat.
"Tapi tadi kamu bilang aku sudah tidak perawan," sedikit lagi air mata Tamara akan keluar.
"Ya memang..." lagi-lagi Lukas masih menanggapinya dengan santai.
Tamara memukul lengan Lukas.
"Aw... Sakit," Lukas meringis sambil mengusap-usap lengannya yang baru saja dipukul cukup keras oleh Tamara. Lukas pun ikut duduk berhadapan dengan Tamara.
"Kamu tidak percaya kalau aku masih perawan saat menikah denganmu?" Tamara sudah mulai emosi.
"Percaya," jawab Lukas.
"Lalu kenapa kau berkata seperti itu?"
"Ya karena kita sebelumnya memang pernah melakukannya," akhirnya Lukas mengatakannya juga.
"Apa? Kita? Kapan?"
Lukas menghela nafas panjang, ia tak percaya Tamara masih belum menyadari bahwa mereka memang pernah melakukan hubungan ini sebelumnya. Saat mereka pergi berbulan madu kemarin.
"Saat kita bulan madu, kamu lupa?"
Tamara berusaha mengingat-ingat. Namun ia tak mengingat apapun tentang berhubungan dengan Lukas. Ia hanya ingat saat ia mencium Lukas di teras belakang.
"Apa... Waktu itu? Tapi aku tak ingat apapun," Tamara menatap Lukas dengan penuh kebingungan.
Lukas tentu saja tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kali ini ia berniat untuk menggoda Tamara.
"Jadi kamu tidak ingat apapun?" Lukas memasang wajah kecewa.
Tamara mengangguk perlahan. Ia masih tak percaya mereka pernah melakukan hubungan ini sebelumnya.
"Wah... Aku tak percaya ini, padahal malam itu kamu yang menyerang ku dengan ganasnya. Aku sudah berusaha untuk menahan mu, tapi malam itu kamu begitu liar," Lukas mulai mengarang cerita.
"Oh ya?" Tamara masih berusaha mengingat-ingat.
"Wah, tega sekali kamu. Padahal kamu sudah mengambil ke perjaka an ku, tapi kamu malah lupa," Lukas berlagak kalau dirinya adalah korban dari Tamara yang malam itu sedang mabuk.
Tamara masih terdiam, ia masih berusaha mengingat. Namun tak ada satu hal pun yang dapat ia ingat malam itu, selain ciumannya dengan Lukas di halaman belakang.
"Lalu kenapa selama ini kamu diam saja?" Tanya Tamara.
"Tentu saja karena aku merasa malu, aku tak bisa menjaga diriku yang suci ini dari terkaman nafsumu malam itu," Lukas tak tahan melihat wajah bingung Tamara.
Hampir saja Lukas tertawa, hingga suara ketukan pintu menyelamatkannya.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Lukas menoleh ke arah pintu, sedangkan Tamara masih mematung tak percaya jika dirinya seliar itu saat mabuk.
"Tunggu sebentar," Lukas pun turun dari tempat tidur dengan tubuh yang polos.
Ia berjalan ke lemari baju untuk mengambil kaos dan celana pendek. Setelah memakai baju dan celana, Lukas melihat Tamara masih diam mematung. Tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka.
Lukas berusaha menahan tawanya, ia berjalan menghampiri Tamara lalu menutup seluruh tubuh Tamara dengan selimut.
Setelah memastikan tubuh Tamara sudah tak terlihat, Lukas pun berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukakan pintu.
"Mamah?"
Ternyata yang datang membawakan makan malam mereka adalah Vanesa.
Vanesa masuk begitu saja setelah Lukas membukakan pintu.
"Kenapa kalian malah mau makan di kamar?"
Belum sempat Lukas menjawab, Vanesa sudah menghentikan langkah kakinya. Saat itu Tamara sudah sadar dari lamunannya dan mengintip Vanesa dari balik selimut.
"Mah..." Suara Tamara terdengar menyapa Vanesa dari balik selimut.
"Hahaha... Oke, oke... Mamah paham sekarang, ya sudah kalian lanjutkan lagi saja ya, tapi jangan lupa makan dulu supaya stamina kalian tetap jreng," goda Vanesa pada anak dan menantunya.
"Kalau mamah paham, mamah keluar ya sekarang," Lukas mengajak Vanesa keluar setelah Vanesa meletakkan makan malam yang dibawanya di atas meja.
"Iya, ini mamah mau pergi. Dah Tamara, kita ngobrol lagi besok ya," Vanesa melambaikan tangannya pada Tamara.
Sedangkan Tamara hanya bisa menundukkan sedikit kepalanya mengiringi kepergian Vanesa keluar dari kamar Lukas.
Setelah Vanesa pergi, Lukas kembali mengunci pintu dan berjalan menuju tempat tidur.
"Bagaimana? Sudah ingat?"
Tamara menggelengkan kepalanya perlahan.
Lukas mendesah kesal. Ia lalu mengambil nampan berisi makan malam yang tadi dibawakan Vanesa.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu," Lukas memberikan satu piring untuk Tamara.
"Tapi Lukas, pinjamkan aku baju dulu. Masa aku makan tanpa memakai baju begini?"
Lukas yang melihat wajah memelas Tamara, seketika muncul ide jahilnya.
"Tidak bisa, karena kamu tidak ingat malam pertama kita yang menggairahkan itu. Sebagai hukuman, kamu harus tetap seperti itu sepanjang malam ini," ucap Lukas.
"Apa? Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, itu hukuman untukmu," tambah Lukas. Ia pun menarik kembali piring yang tadi akan diberikan kepada Tamara.
"Kok diambil lagi?"
"Sini, biar aku suapi," Lukas menyodorkan sendok ke mulut Tamara.
__ADS_1
Tamara menurut saja, malam itu ia makan sambil disuapi oleh Lukas. Tamara merasa semakin senang, meski ia kesal pada dirinya sendiri karena tak ingat malam pertama mereka, tapi setidaknya harapannya terkabul malam ini.
Setelah Tamara menyerahkan tubuhnya, Lukas jadi lebih perhatian padanya. Bahkan sampai rela menyuapinya makan malam.