
Delapan belas jam perjalanan melalui udara, ditambah satu jam proses di imigrasi, akhirnya Lukas dan Tamara tiba di kota tujuan dengan selamat. Mereka hanya tinggal berkendara dengan taksi sekitar tiga puluh menit untuk bisa sampai ke hotel yang sudah Lukas pesan sebelumnya.
Udara di kota itu sangat bersih dan sejuk meski saat ini sedang musim panas. Sama sekali tidak terasa hawa panas di sana. Sungguh pilihan yang tepat bagi Lukas untuk mengajak Tamara berlibur ke kota itu.
Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit, mereka pun tiba di sebuah hotel yang berada di samping danau. Pemandangan dari dalam kamar hotel itu pun tampak sangat menakjubkan. Dikelilingi bukit-bukit kecil dan juga danau yang sangat luas, sungguh sebuah pemandangan yang sangat langka yang dapat memanjakan mata mereka.
Setelah cek in, mereka berdua langsung di antar ke kamar yang sudah Lukas pesan. Kamar yang berukuran cukup luas. Di dalamnya juga terdapat ruang makan dan dapur pribadi.
Pelayan yang mengantar mereka menjelaskan tentang fasilitas hotel dengan sangat ramah. Setelah menjelaskan, pelayan itu pun pergi. Nanti saat makan malam, ia akan kembali bersama seorang chef yang akan membuatkan makan malam mereka. Saat ini Lukas dan Tamara memilih untuk beristirahat terlebih dahulu.
Mereka berdua memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang yang sangat megah itu. Ukurannya cukup besar untuk mereka berdua.
"Sayang, aku mau mandi dulu ya," ucap Tamara tiba-tiba. Perlahan Tamara beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari tempat tidur mereka.
"Mmmm..." jawab Lukas dengan enggan, matanya hampir terpejam namun mendengar suara Tamara yang akan segera mandi Lukas kembali membuka matanya.
"Sayang," panggil Lukas pada Tamara yang hampir masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya?" Tamara kembaliĀ menoleh ke arah Lukas.
"Aku ikut," ucap Lukas sambil beranjak bangkit dari tempat tidur.
"Mau mandi bareng?" Tanya Tamara dengan ekspresi wajah yang bingung.
Melihat wajah Tamara yang kebingungan, tanpa pikir panjang Lukas segera menarik tangan Tamara dan langsung mengajaknya ke kamar mandi.
"Hey..." Tamara berteriak karena Lukas tak hanya menarik tangannya, namun ia juga dengan cepat melucuti seluruh pakaian Tamara.
"Kenapa? Tak suka? Tak mau?" Lukas menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Eh, tidak, bukan begitu... Mmm... Aku cuma malu saja," ucap Tamara sambil memalingkna wajahnya.
Melihat Tamara yang seketika memalingkan wajah, Lukas meraih dagu Tamara dan menghadapkan ke wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa malu?" Tanya Lukas dengan nada yang sangat lembut.
Tamara bukannya menjawab, ia malah tersipu malu. Wajahnya memerah, dan ia terus menundukkan wajahnya.
Melihat wajah malu Tamara tentu saja Lukas merasa gemas.
"Ah, aku tidak tahan lagi..." Lukas menyerbu menyerang Tamara bertubi-tubi. Dengan lembut dan manis. Keduanya menyatu di dalam bak mandi yang ukurannya pas untuk mereka berdua. Setelah beberapa masalah yang mereka lewati, akhirnya keduanya kembali menyatu tanpa memikirkan apapun.
"Terima kasih sayang, karena kamu sudah menemaniku melalui setiap masalah yang datang padaku," ucap Tamara di sela-sela aktivitas mereka.
"Sama-sama sayang, tanpamu aku bukan apa-apa. Kamu adalah hadiah terindah yang pernah aku terima selama hidupku," ucap Lukas seraya membelai mesra rambut Tamara.
Keduanya melanjutkan aktivtas mandi bersama mereka. Hingga tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Terdengar suara bel berbunyi. Lukas keluar lebih dulu, ia hanya mengenakan baju handuk dan berjalan menuju pintu masuk untuk membukakan pintu.
"Selamat malam tuan muda, apa makan malamnya mau disiapkan sekarang atau nanti?" Tanya seorang pelayan.
"Datanglah lima belas menit lagi, kami baru saja selesai mandi," jawab Lukas.
Lukas berjalan kembali ke dalam kamar mandi, ia melihat Tamara juga sudah mengenakan baju handuk sama seperti dirinya.
"Ayo kita sudahi main airnya, makan malam kita akan segera datang," ucap Lukas.
Tamara mengangguk. Mereka berdua segera bersiap untuk acara makan malam mereka.
Makan malam kali ini akan menjadi makan malam yang sangat romantis, Lukas sudah memesan menu paling istimewa untuk mereka berdua. Bahkan koki yang memsaknya pun datang langsung ke kamar mereka untuk memperlihatkan proses pembuatan hidangan istimewa itu.
Lukas sudah selesai lebih dulu, ia memakai setelah jas berwarna biru muda. Begitu juga dengan Tamara yang mengenakan dress warna senada. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sempurna.
"Aku mau pakai make up dulu, kamu tunggu di ruang makan saja," ucap Lukas.
"Tidak usah pakai make up segela. Begini saja kamu sudah sangat cantik," ucap Lukas menggoda Tamara.
"Tapi ini kan momen spesial, masa aku ga pakai make up?"
__ADS_1
"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya, dan juga jangan menor-menor. Ingat, kamu itu sudah cantik."
"Iya, iya," Tamara mulai memoles wajahnya dengan perlahan. Sesuai dengan permintaan Lukas, Tamara hanya akan memakai make up tipis-tipis saja.
Selesai berdandan, tamara langsung menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Lukas yang menantinya dengan satu buket bunga di tangannya. Di area dapur, sudah ada seorang koki beserta asistennya yang sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka.
Di atas meja makan, ada lilin-lilin yang membuat suasana makan malam mereka semakin romantis. Tak lupa irama musik klasik juga terdengar mengiringi acara makan malam mereka.
Tamara berjalan perlahan menghampiri Lukas yang menatapnya dengan penuh cinta. Seikat bunga itu Lukas berikan pada Tamara membuat Tamara tersipu malu.
"Kapan kamu membeli bunga?" Tanya Tamara.
"Mmm... Rahasia," jawab Lukas. Ia lalu menggandeng tangan Tamara dan mengajaknya duduk di kursi makan. Tak lupa Lukas menarik kursinya untuk Tamara.
"Terima kasih sayang," ucap Tamara sambil tersenyum manis.
"Sama-sama sayang," jawab Lukas. Ia pun segera duduk di kursi yang berada di hadapan Tamara.
Setelah mereka berdua duduk, asisten koki membawakan dua porsi makanan pembuka. Tamara dan Lukas pun langsung memakannya. Selesai makanan pembuka selesai, asisten koki kembali untuk mengambil piring-piring kotor di atas meja.
Untuk hidangan utama, kokinya sendirilah yang langsung membawakan hidangan tersebut pada mereka berdua. Koki tersebut juga menjelaskan, apa nama hidangan mereka, apa saja bahan-bahan yang digunakan, dan bagaimana proses pembuatannya. Lukas dan Tamara merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh koki tersebut. Keduanya tak sabar untuk segera menikmati hidangan utama yang sangat mewah itu.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Lukas pada Tamara setelah mencicipi hidangan tersebut.
"Mmmm... Enak banget," jawab Tamara dengan mata berbinar.
Lukas merasa senang melihat kebahagiaan terpancar di wajah Tamara.
Keduanya lalu menghabiskan hidangan utama tanpa tersisa. Lanjut ke hidangan penutup, Hidangan penutup yang disajikan pun tak kalah menarik. Sebuah kue coklat yang dilapisi oleh emas, terlihat sangat lezat.
Tamara dan Lukas menikmati setiap hidangan dengan perasaan gembira. Memang memakan makanan enak dapat membuat hati menjadi senang.
Asisten koki sudah membereskan meja makan, sementara Lukas dan Tamara memilih untuk melihat pemandangan malam di balkon kamar mereka. Pemandangan malam di kota itu juga sangat indah, meski udaranya sedikit lebih dingin.
__ADS_1