Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 123


__ADS_3

Di kediaman Richard, di ruang rahasia yang tersembunyi dari balik lemari pakaian Sandra.


Jake dan Erik memeriksa satu per satu berkas yang menumpuk di atas meja. Satu per satu mereka memeriksa setiap detail yang tertulis pada berkas itu.


"Coba lihat ini," Erik sepertinya menemukan sebuah berkas yang mencurigakan.


Jake segera menghampiri Erik.


"Apa ini berkasnya?" Tanya Erik memastikan.


"Sepertinya benar, coba ku lihat," Jake mengambil berkas di tangan Erik dan membacanya lebih teliti.


"Kau benar," Jake menatap Erik sambil tersenyum senang. "Ayo kita cari lagi berkas lainnya. Aku yakin pasti masih ada berkas lainnya."


Mendapatkan temuan tersebut tentu saja membuat Erik dan Jake senang. Pencarian mereka tak sia-sia.


"Syukurlah nona, sekarang anda bisa menerima keadilan atas meninggalnya kedua orang tua anda," batin Erik.


Setelah berjam-jam berada di ruangan bawah tanah yang pengap dan berdebu, Jake dan Erik berhasil menemukan semua dokumen tentang pemalsuan perusahaan yang dibuat Richard beberapa tahun silam. Dokumen yang menjadi bukti bahwa Richard lah orang yang sengaja membuat perusahaan milik ayah Tamara bangkrut.


Ada juga surat hutang piutang yang jumlahnya sangat besar. Saat Jake dan Erik membaca surat tersebut ada yang aneh dengan surat hutang itu. Nominalnya sangat besar, namun bunga yang diberikan juga tak kalah besar. Dan lagi, di dalam dokumen tersebut tertulis jika si pemilik hutang meninggal maka ahli warisnya lah yang akan menanggung hutang-hutang itu.


Itulah kenapa Adrian akhirnya menjual seluruh hartanya, karena Adrian tak mau cucunya itu menanggung hutang orang tuanya. Belum lagi bunganya terus bertambah seiring berjalannya waktu. Dan saat itu Tamara masih sangat kecil, mana mungkin ia bisa mencari uang sebanyak itu untuk melunasi hutang-hutang orang tuanya.


"Ini sama saja seperti memiliki hutang seumur hidup," ucap Erik.


"Kau benar," Jake menghela nafas panjang.


"Semua berkas yang kita butuhkan sudah ketemu, ayo cepat kita bereskan tempat ini sebelum ayah dan ibumu kembali," Erik mengumpulkan kembali berkas-berkas yang berserakan di lantai. Sebelumnya ia sudah memisahkan berkas yang ia butuhkan untuk dibawa ke kantor polisi.


Sebelum pergi ke kantor polisi, tak lupa Jake dan Erik juga membereskan ruangan-ruangan yang sebelumnya mereka buat berantakan.


"Kau siap?" Tanya Erik pada Jake sambil memegang berkas yang menjadi bukti tindakan jahat Richard.


Jake mengangguk yakin.


Akhirnya mereka berdua bergegas pergi ke kantor polisi, karen Dominic sudah menunggu mereka di sana.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian.


Pagi hari, di rumah Lukas dan Tamara.


Tamara tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk Lukas, di bantu oleh Asti tentunya. Karena Rima sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


Namun saat ini Rima masih belum bisa bertugas, karena sedang dalam masa pemulihan. Rima diberi waktu untuk istirahat dan pulang ke kampung halamannya.


Sama seperti Rima, Pras juga diberi waktu untuk istirahat hingga pulih kembali.


Sementara Erik masih setia menjadi pengawal Tamara di rumah.


Sarapan sudah jadi, Tamara memanggil Lukas yang masih mempersiapkan diri di dalam kamar.


"Ayo sayang, sarapan sudah siap," ucap Tamara.


Lukas tersenyum ke arah Tamara.


"Iya sayang, sebentar lagi," balas Lukas yang sedang membetulkan posisi dasinya.


Tamara berjalan mendekat, lalu ia membenarkan posisi dasi yang dipakai Lukas.


"Ayo sarapan dulu, nanti keburu dingin," Tamara berkata manja pada Lukas.


Melihat ekspresi manja Tamara, tentu saja Lukas tak mungkin tak menurutinya.


"Ya sudah, ayo!" Lukas menggandeng tangan Tamara dan mengajaknya ke ruang makan bersama.


Di sana sudah menanti Asti dan Erik.


"Selamat pagi tuan muda," ucap keduanya kompak.


"Selamat pagi, kalian sudah sarapan?" Tanya Lukas ramah pada keduanya.


"Sudah tuan," jawab mereka kompak sambil tersenyum canggung.


Lukas tak menyadari hal itu, namun Tamara yang paham langsung memberi kode pada Asti untuk segera meninggalkan mereka berdua di ruang makan.

__ADS_1


Sebenarnya, Asti dan Erik juga belum sarapan. Namun mereka tak mungkin mengatakan itu di depan Lukas.


"Senangnya tuan muda dan nona bisa kembali ceria seperti biasa," ucap Asti.


"Benar, rasanya beberapa hari terakhir ini mereka berdua selalu bersitegang karena Richard masih belum mengakui kesalahannya beberapa tahun yang lalu. Padahal buktinya sudah jelas begitu," balas Erik.


"Ya, dan itu membuat tuan muda jadi gelisah. Tuan muda masih khawatir jika nanti Richard akan kembali mencelakai nona," sambung Asti.


"Tapi hari ini kan Richard keluar dari rumah sakit, dan sepertinya akan langsung di bawa ke kantor polisi."


Asti mengangguk, ia berharap tuan mudanya bisa merasa tenang. Sehingga tak ada lagi keributan di rumah.


Setelah Erik dan Jake berhasil membawa bukti-bukti ke kantor polisi, Dominic langsung membuat laporan tentang pemalsuan investasi yang dibuat oleh Richard beberapa tahun yang lalu.


Polisi yang sudah menerima laporan berikut dengan bukti-buktinya pun langsung memproses laporan dari Dominic. Tanpa menunggu waktu lama, polisi segera membuat surat penahanan untuk Richard.


Namun karena kondisi Richard yang masih belum pulih total, maka polisi memilih untuk menunggu hingga Richard diperbolehkan keluar dari rumah sakit oleh dokter.


Beberapa polisi pun dikerahkan untuk berjaga di sekitar ruang perawatan Richard.


Karena kasus yang dilaporkan merupakan kasus yang terjadi beberapa tahun silam. Richard tentu saja masih mengingatnya. Karena ingatannya yang hilang hanya ingatan dari beberapa bulan terakhir saja.


Meski begitu, Richard terus saja menyangkal perbuatannya. Padahal sudah jelas ada bukti-bukti yang semuanya mengarah pada Richard.


Hari ini, Richard sudah diperbolehkan oleh dokter untuk keluar dari rumah sakit. Dan Richard juga akan langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Tak hanya itu, karena surat penahanan Richard sudah keluar, maka Richard akan langsung ditahan di kantor polisi.


Sandra yang sebenarnya tidak tau apapun perbuatan Richard di masa lalu. Tetap setia menemani Richard selama proses pemeriksaan.


Sedangkan Jake, setelah ia melaporkan ayahnya, Jake tak berani pulang ke rumah. Saat ini Jake tinggal di rumah Dominic. Itupun karena permintaan Dominic.


"Kau ini cucunya Adrian juga, jadi anggaplah aku seperti kakekmu sendiri," ucap Dominic kala itu.


Tentu saja Jake merasa sangat bersyukur. Karena ia sendiri tak punya tujuan jika harus pergi dari rumah.


Ayah dan Ibu Jake sama-sama sebatang kara. Ayahnya yang sudah tak lagi punya orang tua, dan ibunya yang dibuang oleh keluarganya.

__ADS_1


Pada hari keluarnya Richard dari rumah sakit ini, Jake juga sebenarnya berada di sana. Ia ikut mengiringi Richard ke kantor polisi.


Hanya saja, Jake masih belum berani menampakkan wajahnya.


__ADS_2