
Sementara itu, di tempat lain. Dominic bersama sopir pribadinya pak Nuh sudah berhasil menemukan tempat tinggal Richard.
Mereka berdua hanya diam mengamati kediaman yang cukup mewah tersebut dari kejauhan.
"Jadi kau tinggal di tempat sebesar ini?" Gumam Dominic.
Ia tak menyangka, jika sahabatnya Adrian memiliki anak yang durhaka seperti ini.
"Aku tak tau apa kau akan sedih atau bahagia melihat kehidupan mewah putramu ini?"
Sementara Adrian selama sisa hidupnya hidup dalam kemiskinan, ia hanya tinggal di rumah kontrakan yang sangat kecil bersama dengan cucunya.
Sungguh miris melihat betapa mewahnya rumah Richard. Berbanding terbalik dengan kehidupan ayahnya yang bisa dibilang sangat kesulitan.
"Benar-benar anak tidak tau diri," Dominic merasa sangat kesal jika mengingat cerita dari Lukas tentang Richard dan bagaimana ia menipu kakaknya sendiri dan menguras harta orang tuanya hingga jatuh miskin.
Dan setelah orang tuanya jatuh miskin, Richard sama sekali tak pernah peduli. Bahkan sekedar mengunjungi Adrian saja tidak, apalagi membantunya secara finansial.
"Nuh," Dominic memanggil pak Nuh yang sejak tadi diam saja tak menanggapi gumaman Dominic yang mengeluh tentang Richard.
"Iya tuan?"
"Menurutmu, kenapa Richard bertindak sejauh ini pada Tamara?"
"Mungkin dulu, tuan Adrian memperlakukan anaknya secara berbeda," jawab pak Nuh.
__ADS_1
"Berbeda?"
"Entahlah tuan, saya hanya merasa bahwa tuan Richard melakukan semua ini karena ia merasa sangat dendam pada keluarganya, terutama tuan Adrian. Namun karena dendamnya belum terbayarkan, tuan Richard melampiaskannya pada Tamara," pak Nuh menjelaskan.
"Berhentilah memanggilnya tuan!" Pinta Dominic.
"Baik tuan," pak Nuh menurut.
"Orang seperti dia tak pantas mendapat perlakuan hormat dari siapa pun," Dominic melanjutkan.
Pak Nuh hanya mengangguk, ia tau Richard memang tak pantas dihormati. Namun ia juga tak bisa memanggilnya seenaknya, bagaimanapun Richard adalah anak dari teman majikannya.
"Lalu, apa rencana tuan sekarang?" Tanya pak Nuh.
"Aku ingin menemui istrinya Richard, aku ingin tau apa dia ada sangkut pautnya atas semua masalah yang terjadi?" Jawab Dominic.
"Aku ragu."
"Ragu kenapa tuan?"
"Bisa jadi mereka bersekongkol," Dominic asal menjawab.
"Tapi kita tidak pernah tau jika tidak mencoba."
"Kau benar Nuh. Baiklah, kau tunggu di sini!" Pinta Dominic. Ia hendak keluar dari mobil, namun pak Nuh segera menghentikannya.
__ADS_1
"Tunggu tuan, kenapa tidak saya saja yang datang menemuinya?"
"Kau? Untuk apa?"
"Saya khawatir, bagaimana jika Richard menaruh seorang pengawal di dekat istrinya?"
Dominic memikirkan sejenak ucapan pak Nuh.
"Kau benar, aku tak berpikir hingga ke sana."
"Kalau begitu, biar saya saja yang turun menemui istri Richard," usul pak Nuh.
"Tapi... Apa tak mengapa jika kau yang turun?" Dominic pun juga merasa khawatir pada pak Nuh.
"Tenang saja tuan, saya kan pandai berkelahi."
"Benarkah?" Dominic tak percaya ucapan pak Nuh. Memang benar, Dominic tak pernah melihat pak Nuh berkelahi barang sekali pun.
Meski begitu, sebenarnya pak Nuh sangat ahli bela diri.
"Bagaimana tuan?" Pak Nuh kembali meminta izin dari Dominic.
"Baiklah, tapi jika di rasa aman kembalilah. Biar aku yang berbicara langsung pada istrinya," Dominic mengizinkan tetapi dengan syarat, dialah yang harus bicara pada istri Richard.
"Baik tuan, tapi jika saya di sana terlalu lama. Saya minta tuan untuk segera pulang ke rumah. Jika tuan ingin kembali ke tempat ini, datanglah bersama para pengawal," pesan pak Nuh sebelum pergi.
__ADS_1
Dominic mengangguk mengiyakan.