Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 101


__ADS_3

Saat Brian mengajak Pras bersamanya, Pras curiga mengapa Brian tau dimana keberadaan Tamara. Meski begitu ia memilih diam dan mengikuti saja kemana Brian akan membawanya.


"Mengapa orang itu bisa tau kalau nona sedang pergi keluar pagi ini? Apa dia mengawasi rumah kita?" Tanya Pras memecah keheningan.


"Bisa jadi," jawab Brian singkat.


Pras memandang Brian.


"Apa kau tak melihat ada mobil mencurigakan yang ada di sekitar rumah?" Pras kembali bertanya sambil memandang Brian.


"Tidak," jawab Brian datar


"Lalu... Bagaimana mereka bisa tau pagi itu nona pergi keluar rumah dan hanya membawa satu pengawal?" Pras masih menatap Brian.


"Entahlah, mungkin saja mereka tak sengaja bertemu di pasar," jawab Brian tanpa ekspresi.


Jawaban Brian sungguh tak masuk akal bagi Pras, bagaimana mungkin bisa sekebetulan ini? Pras menatap Brian dengan curiga.


"Apa mungkin ada mata-mata diantara kita?" Tanya Pras lagi, ia bersiap dengan jawaban Brian.


Namun bukannya menjawab, Brian hanya diam saja. Ia hanya memfokuskan dirinya untuk melajukan mobilnya semakin kencang.


Pras melirik ke kanan dan ke kiri, kewaspadaannya semakin meningkat saat tau dimana mereka berada saat ini.


"Apa menurutmu nona muda ada di tengah hutan pegunungan seperti ini?"


Lagi-lagi Brian tak menjawab.


"Kau kah mata-mata itu?" Pras semakin bersiap.


Brian tertawa kecil mendengar pertanyaan terakhir Pras.


"Kau mencurigai ku?" Brian menyeringai menatap Pras.

__ADS_1


"Kau memang mencurigakan," Pras menatap tajam pada Brian. Tangannya bersiap mengambil pisau lipat yang selalu ia sembunyikan di saku celananya.


Secara mengejutkan, Brian membanting stir mobil dan mengarahkan mobil ke arah jurang. Pras berpegangan erat, matanya terus tertuju pada Brian yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Mobil yang mereka kendarai melaju menabrak semak dan pohon-pohon kecil menuju jurang, dan tak lama, blassshhh... Mobil menukik tajam masuk ke dalam jurang dan Braaakkk...


Bagian depan mobil menghantam bagian bawah jurang dan hancur seketika. Brian dan Pras berusaha keras keluar dari dalam mobil yang sudah hancur itu, keduanya masih tetap sadar meski sudah jatuh ke jurang yang cukup dalam.


Keduanya terluka di beberapa bagian tubuh, namun mereka berhasil meloloskan diri. Tentu saja karena keduanya memang sudah terlatih dalam situasi bahaya seperti ini.


Pras berdiri bersiap menghadapi Brian.


"Apa maumu?" Tanya Pras dengan penuh kewaspadaan. Ada beberapa luka lecet di tubuhnya, tapi Pras tampak baik-baik saja.


Begitu juga dengan luka-luka di tubuh Brian yang jauh lebih banyak. Meski begitu Brian mampu berdiri dengan tegak, bersiap menghadapi Pras.


"Jadi kau memilih untuk menjadi pengkhianat?" Pras tak pernah menyangka bahwa salah satu rekan kerjanya ada yang berkhianat.


Brian menyeringai.


Pras mengepal tangannya, ia geram menerima kenyataan bahwa Brian ternyata memang sudah merencanakan ini sejak awal.


"Lalu apa mau mu membawaku ke tempat ini? Dimana nona sekarang?" Dengan perasaan geram, Pras mencoba bertanya setenang mungkin.


"Nona? Untuk apa kau ingin tau keberadaan nona? Kau bahkan tak akan bisa menyelamatkan nona, karena aku akan menghabisi mu hari ini," seketika Brian berlari ke arah Pras meluncurkan serangan.


Sebuah bogem mentah hampir saja mendarat di wajah Pras. Beruntung Pras langsung mengelak, ia menangkap lengan Brian dengan sigap. Mencengkram kuat-kuat, dan membanting tubuh Brian yang lebih besar darinya.


Brugh...


"Kau sengaja memilihku karena kau pikir aku lawan yang mudah kan?" Tanya Pras sambil menatap tajam pada Brian.


"Hahaha..." Brian hanya tertawa menanggapi pertanyaan dari Pras padanya. Dengan mudahnya Brian kembali bangun, kali ini ia merogoh sesuatu dari dalam sakunya.

__ADS_1


Sebuah pisau lipat, benda yang sama dengan yang ada di dalam saku celana Pras. Brian sudah lebih dulu mengacungkan pisaunya, lalu sepersekian detik kemudian Pras ikut mengacungkan pisau miliknya juga.


Tanpa basa basi, Brian kembali menyerang Pras bertubi-tubi. Sedangkan Pras saat ini hanya ada di posisi bertahan. Brian menyerang Pras dengan sangat cepat. Meski banyak luka di tubuhnya, namun seolah luka itu bukan apa-apa bagi Brian.


Tubuhnya yang besar mampu menahan rasa sakit akibat terjatuh ke jurang tadi.


Pras hampir kewalahan menghadapi serangan Brian yang bertubi-tubi, meski tubuhnya lebih kecil dari pada Brian, Pras mampu mengimbangi kecepatan serangan Brian. Hingga akhirnya...


Ssaaaahhhht...


Brian berhasil menggoreskan pisaunya di lengan Pras.


"Ahh... Ssshhh... " Pras segera menjauh dari Brian.


"Sial, aku kecolongan," batin Pras.


Meski lengannya sempat terkena goresan pisau Brian, namun Pras tetap harus fokus. Pras melihat Brian yang tersenyum seolah ia telah menang, Pras tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan secepat kilat langsung berlari ke arah Brian.


Pras meluncurkan serangan pertamanya, sebuah pukulan yang akan mendarat di wajah Brian. Dengan sigap Brian menangkisnya. Namun ternyata serangan di wajah itu hanya tipuan. Tangan Pras yang memegang pisau kini sudah berhasil menancapkan senjata miliknya ke perut Brian.


Mendapat serangan mendadak itu Brian langsung jatuh tersungkur. Tak sampai disitu, Pras kembali menarik pisaunya dan kali ini dengan cepat ia tancapkan pisau kecil itu ke dada Brian. Brian yang sudah jatuh tentu saja tidak bisa menangani serangan barusan.


Dengan kecepatan yang sama, Pras kembali menarik pisaunya dan terus menerus menancapkan ke dada Brian. Ia berada di posisi yang menguntungkan untuk menyerang Brian.


Tentu saja diserang secara terus menerus membuat Brian tak berdaya, ditambah luka yang semakin banyak karena Pras tak henti-hentinya menusukkan pisaunya ke tubuh Brian.


Darah yang keluar pun semakin banyak. Hingga akhirnya Brian terkulai lemas tak berdaya. Saat itulah Pras baru berhenti menyerang Brian.


"Kau tak mau menyebut dirimu pengkhianat? Tak peduli apapun perkataanmu, bagiku kau tetap pengkhianat. Dan aku paling benci dengan pengkhianat! Kau mau membunuhku? Kau pikir aku mudah? Maaf saja, kau memilih lawan yang salah!" Pras akhirnya berdiri dari atas tubuh Brian yang sepertinya sudah tak bernyawa.


Pras meninggalkan tubuh Brian begitu saja. Ia berjalan ke arah mobil yang sudah hancur itu. Pras yakin, ia akan mengetahui keberadaan Tamara dari percakapan Brian dengan komplotannya. Oleh sebab itu, Pras akan mencari ponsel Brian di dalam mobil.


Di lain tempat, Lukas kini sudah berada di kediaman Dominic. Ia yang merasa buntu tak tau harus mencari Tamara kemana memilih untuk meminta bantuan dari kakeknya.

__ADS_1


Begitu bertemu dengan Dominic, Lukas segera menceritakan masalah apa yang selama ini menimpa ia dan Tamara. Lukas menceritakan semuanya secara detail. Dominic yang baru tau tentang masalah yang sedang dihadapi oleh cucu-cucunya itu tentu saja merasa geram.


"Aku yakin, salah seorang pengawalmu itu ada yang berkhianat," ucap Dominic.


__ADS_2