Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 88


__ADS_3

Dari dalam rekaman CCTV, nampak dengan jelas. Seorang pria yang berumur sekitar lima puluh tahunan berjalan menghampiri Tamara. Pria itu bahkan sudah mengikuti Tamara sejak ia dan kedua pengawalnya masuk ke dalam supermarket.


Dan yang mengejutkan, ada sosok Jake di belakang pria itu. Jake terlihat sedang mengawasi gerak-gerik pria yang tengah mengincar Tamara.


Dan saat Tamara sedang jauh dari para pengawalnya, pria itu nekat mendekati Tamara. Pria itu bahkan terlihat merogoh saku bajunya seolah tengah menyembunyikan sesuatu. Dan ketika sudah beberapa langkah lagi pria itu tiba di tempat Tamara berdiri, terlihat jelas di dalam rekaman CCTV bahwa ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dan hendak menusukkannya ke arah Tamara.


Beruntung Jake yang saat itu tau apa yang akan dilakukan oleh si pria asing itu, segera menarik tangan Tamara menjauhi kerumunan dan membawa ke tempat yang sepi.


Tamara tentu merasa sangat terkejut menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, sesuatu yang buruk hampir saja menimpa dirinya. Lututnya terasa sangat lemas mengetahui nyawanya tadi benar-benar terancam.


"Jadi, apa yang Jake bilang itu benar?" Ucap Tamara dengan lemah.


"Nona, anda baik-baik saja?" Erik dengan sigap memapah Tamara untuk duduk di sofa yang berada di ruangan lain kantor keamanan.


Tak hanya Tamara, Erik pun sebenarnya ikut terkejut dengan kejadian yang hampir saja membahayakan nyawa majikannya itu. Bahkan kepala keamanan pun langsung bertindak mencari keberadaan pelaku setelah aksinya sudah gagal tadi.


Namun sayang, pria itu tidak bisa ditemukan keberadaannya. Kepala keamanan sama sekali tak bisa melihat keberadaan pelaku yang tengah mengincar Tamara.


Kepala keamanan langsung mengerahkan bawahannya untuk segera mencari pria itu.


"Nona, anda baik-baik saja?" Erik merasa khawatir karena wajah Tamara yang terlihat pucat setelah melihat sendiri dari rekaman CCTV, musibah yang hampir saja menimpa dirinya.


"Kak, pria itu siapa? Lalu dimana Jake sekarang? Bisakah kamu mencarinya? Aku mau tau lebih banyak darinya, sebenarnya apa yang pria itu incar dariku?" Ada banyak pertanyaan dalam benak Tamara, namun pertanyaan terbesar dalam hatinya adalah kenapa Jake menyelamatkannya?


"Nona tunggu di sini sebentar biar saya ambilkan minum dulu," Erik bergegas mengambilkan minuman untuk Tamara.


"Ini nona, minum dulu. Tenangkan dulu diri nona," Erik memberikan satu botol air mineral yang ia dapat.


Tamara segera meminum dan habis hampir setengahnya.


Cukup lama Tamara menunggu di sana, ia menunggu kabar dari tim keamanan supermarket yang mencari keberadaan si pelaku ataupun Jake. Bahkan saat Rima dan Asti datang setelah selesai berbelanja kebutuhan mereka pun belum juga ada kabar dari tim keamanan.


"Nona, sebaiknya kita menunggu kabar di rumah saja," saran Rima.


"Benar nona, anda pasti shock dan harus istirahat saat ini," tambah Asti.


Tamara pun menurut, namun sebelum mereka pulang Tamara berpesan untuk tidak memberi tau kejadian yang baru saja ia alami pada Lukas.


Tamara takut Lukas tidak bisa fokus bekerja karena khawatir pada kondisi Tamara saat ini.


Selama perjalanan pulang, Tamara terus menerus memikirkan kemana perginya Jake. Ia tak tau apa yang mungkin akan terjadi pada dirinya jika Jake tak datang menyelamatkannya.

__ADS_1


"Kemana sebenarnya dia pergi?" Batin Tamara.


"Ah iya, aku kan menyimpan nomornya." Tamara bergegas membuka ponselnya dan mencari nomor Jake.


Tanpa pikir panjang, Tamara langsung menghubungi nomor itu. Panggilan tersambung namun setelah sekian lama tak ada yang menjawabnya.


Tamara mencoba sekali lagi menghubungi saat ia sudah berada di dalam kamarnya, dan ada suara seseorang di sana yang mengangkatnya.


"Halo?" Suara itu nampak sangat asing bagi Tamara.


"Ini bukan suara Jake," batin Tamara. Tamara pun hanya diam dan berusaha mendengarkan dengan seksama suara si pengangkat telepon.


"Halo!!!" Suara itu terdengar setengah berteriak.


Tamara masih terdiam.


"Hei, ini... bicaralah!" Terdengar suara ponsel yang dilempar. Lalu tak lama ada suara lainnya bicara.


"Halo?" Suaranya sedikit lirih, namun Tamara bisa mengenali suara itu.


"Jake?" Ucap Tamara setengah berbisik.


"Halo... Halo..."


"Jake, kau baik-baik saja?" Tamara yang khawatir langsung bertanya setelah memastikan itu adalah suara Jake.


Namun lagi-lagi Jake seolah tak mendengar suara itu.


"Halo? Tidak ada suara, mungkin hanya telepon iseng," Jake pun berpura-pura seolah telah mematikan sambungan ponselnya, namun ia segera memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.


Mau tak mau Tamara tetap mendengarkan apa yang bisa ia dengar melalui panggilan itu.


"Hah, menganggu saja. Puas kau sekarang? Gara-gara kamu, aku jadi kehilangan bocah itu!" Bentak suara laki-laki yang tadi.


"Maaf," suara Jake masih terdengar lirih.


"Katakan padaku, kenapa kau mengganggu rencanaku?"


"Sudah ku bilang kan, aku tak ingin kau melukainya."


"Arrghhh..."

__ADS_1


Bugh...


Terdengar suara pukulan yang sangat keras, Tamara hampir berteriak. Untung saja ia berhasil menekan suaranya agar tidak keluar.


"Kurang ajar sekali kamu mau mengaturku! Dengar ya, sebelum aku dapatkan kembali hak ku, aku tidak akan berhenti!" Ancamnya.


Tamara seperti tersadar dan mengenali suara itu.


"Om Richard?" Batin Tamara.


"Cih, kau bahkan sudah membuat saudara mu bangkrut dan juga sudah membunuhnya, apa itu tidak cukup?" Suara Jake semakin terdengar lirih, mungkin karena pukulan yang baru saja diterimanya.


"Anak kurang ajar, kau berani melawanku?"


*Bugh...


Bugh...


Bugh*...


Tamara tak sanggup lagi mendengar suara pukulan yang pasti sangat menyakitkan itu. Tamara langsung mematikan sambungan teleponnya.


Namun dari sini dia tau satu hal, Jake bisa saja diculik pria yang sudah ia gagalkan rencananya tadi. Dan kini Jake pasti sedang mendapat ganjarannya. Tapi kenapa dia tega sekali? Bukankah Jake bilang bahwa ia anak kandung Richard? Lalu kenapa Richard tega memukuli anaknya sendiri?


Tamara tak habis pikir, belum lagi ucapan Jake terakhir kali sebelum akhirnya ia dipukuli.


"Siapa saudara yang ia maksud? Apa itu ayahku? Jika memang benar, kenapa?" Belum selesai rasa penasarannya, kini sudah ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.


"Jika benar yang dikatakan Jake, berarti ayahku bangkrut akibat ulah om Richard dan apa maksudnya om Richard membunuhnya? Apa om Richard yang sengaja mencelakai kedua orang tuaku?" Tamara berpikir semakin keras.


Hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


Tamara bergegas membukakan pintu dan melihat Rima membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Tamara.


"Ini nona, makan siang anda," ucap Rima sambil membawa masuk nampan berisi makan siang Tamara.


"Kak, bagaimana ini?"


Rima melihat wajah Tamara yang khawatir, entah mengkhawatirkan apa.


"Ada apa nona?"

__ADS_1


__ADS_2