Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 38


__ADS_3

Lukas dan Tamara sudah tiba di bandara, mereka bahkan sudah berada di dalam pesawat.


"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai biar aku bangunkan," ucap Lukas.


"Kenapa kamu selalu menyuruhku untuk tidur? Aku mau menikmati perjalanan ini," jawab Tamara menolak.


"Aku hanya takut kau akan mabuk perjalanan jika tidak tidur."


"Mabuk?"


"Mmm..." Lukas mengangguk. "Ya sudah kalau tidak mau tidur biar aku saja."


Lukas sudah memejamkan matanya.


"Lukas, apa kamu suka mengalami mabuk perjalanan?" Tanya Tamara penasaran.


"Tidak," Lukas kembali membuka matanya.


"Ya sudah kalau tidak," Tamara berpaling menghadap ke jendela pesawat.


Lukas hanya bisa geleng-geleng kepala saat Tamara membalas dirinya.


Empat jam perjalanan kembali menuju kota mereka.


Tiba di bandara.


Saat ini mereka sedang menunggu untuk mengambil koper mereka. Empat koper, yang tiga diantaranya berukuran besar. Sedangkan yang satunya kecil.


Lukas sudah mempersiapkan troli untuk mengangkut koper-koper itu.


Saat Tamara hendak mengambil koper mereka, Lukas sudah lebih dulu mengambilnya.


"Biar aku saja," ucap Lukas.


Empat koper sudah naik ke atas troli. Mereka lalu berjalan menuju lobi bandara.


"Tamara, tunggulah di sini. Aku akan mengambil mobil terlebih dahulu.


"Kenapa aku tidak ikut saja?" Tanya Tamara yang tak berani ditinggal sendirian di lobi bandara.


"Aku hanya sebentar, kalau kita harus ke parkiran akan repot membawa koper-koper ini," ucap Lukas.


Tamara akhirnya menurut, ada hal aneh yang Tamara lihat pada Lukas. Saat mereka akan pergi bulan madu, Lukas sama sekali tak peduli dengan kopernya. Hingga Tamara yang harus membawanya.


Namun kini, Lukas seolah tak ingin Tamara kesulitan karena membawa koper-koper besar itu.


"Secepat itu ia berubah?" Gumam Tamara sambil tersipu malu.


Tamara merasa, jika terus begini maka ia dan Lukas akan bisa menjadi pasangan normal seperti yang lainnya.


"Semangat Tamara. Tapi aku tak boleh berlebihan, Lukas tak suka dengan wanita yang suka menggoda. Aku harus menaklukan hatinya dengan hatiku yang tulus ini," ucap Tamara sambil meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menaklukan Lukas.

__ADS_1


Selang beberapa menit, mobil Lukas sudah sampai di depan Lobi.


Tin...


Tamara menoleh ke arah sumber suara. Ia lalu membawa troli berisi koper-koper besar itu ke belakang mobil.


Lukas membuka kaca jendela, ia menyuruh Tamara memasukkan koper-koper itu ke bagasi mobil.


"Cepat masukan koper-koper itu ke dalam mobil!" Perintah Lukas.


Ia sendiri tidak turun dari dalam mobil, dan memilih menunggu di sana.


"Apa? Aku sendiri yang membawanya?"


"Itu semua kan barang-barang punyamu, punyaku paling hanya setengah koper besar itu. Cepat masukan ke dalam!"


Tamara mendesah kesal, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Tamara akhirnya membawa semua koper itu masuk ke dalam bagasi mobil.


"Baru saja dipuji, dia sudah kembali ke sifat aslinya," gerutu Tamara.


Saat Tamara sedang kesulitan, tiba-tiba seorang pria datang membantunya.


"Biar aku saja," ucap pria itu.


Tamara yang kaget, lalu menoleh ke arah si pria.



"Tidak masalah," si pria tersenyum manis pada Tamara.


Setelah semua koper masuk ke dalam bagasi, pria itu lalu pergi meninggalkan Tamara.


"Tunggu..." Tamara berlari kecil menghampiri pria itu.


"Ini, sebagai ucapan terima kasih," Tamara memberikan sebuah gantungan kunci yang ia beli sebagai oleh-oleh tadi.


Awalnya ia memakai gantungan kunci itu di tasnya, karena modelnya yang lucu dan lagi hanya tersisa satu. Namun karena ia tidak punya sesuatu untuk membalas kebaikan pria itu. Tamara akhirnya memberikan gantungan kunci itu pada si pria.


Sebenarnya ada banyak gantungan kunci lainnya, hanya saja semua berada di dalam koper dan akan sulit untuk mengambilnya.


Jadilah Tamara memberikan satu-satunya gantungan kunci yang ia suka pada si pria.


"Terima kasih," pria itu tersenyum lalu tak lama ia beranjak pergi.


Tamara dengan langkah kaki riang kembali ke arah mobil karena Lukas sudah berkali-kali membunyikan klaksonnya. Tanda agar Tamara harus lebih cepat.


Di dalam mobil, Tamara masih senyum-senyum sendiri.


"Siapa tadi?"


"Ah iya, aku lupa menanyakan namanya," Tamara menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak kenal? Kenapa mau ditolong oleh orang yang tidak dikenal?" Tanya Lukas kesal.


"Memangnya kenapa? Orang mengenalku saja tidak mau membantu, jadi aku biarkan orang yang tidak ku kenal membantuku," jawab Tamara dengan ketus.


Lukas menoleh ke arah Tamara, saat itu Tamara sedang tersenyum sendiri mengingat kebaikan pria tampan tadi.


"Kenapa kau terus tersenyum?"


"Aku? Biasa saja," Tamara mengelak.


"Apa kau habis ditolong oleh pangeran sampai merasa senang begitu?"


"Kok kamu tau sih? Apa kamu melihat wajahnya? Ya ampun dia tampan sekali," puji Tamara sambil tersipu malu.


"Hah?" Lukas tak percaya dengan ekspresi wajah Tamara saat ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


Tiba di rumah, Lukas segera turun dari mobil dan masuk ke rumah lebih dulu. Ia lagi-lagi tak membantu Tamara menurunkan koper. Lukas hanya membukakan pintu bagasi saja, lalu pergi.


"Kenapa dia malah marah? Apa dia tak suka aku dibantu oleh orang lain?" Gerutu Tamara.


Tamara dengan hati-hati menurunkan koper-koper itu. Meski sedikit kesulitan, namun akhirnya ia berhasil menurunkan semua koper itu.


"Ahhh... Lelahnya," Tamara merebahkan diri di sofa ruang tengah. Ia tak melihat keberadaan Lukas di sana. Mungkin kini Lukas ada di dalam kamarnya.


Tamara melihat koper-koper itu, lalu ia memutuskan untuk menyimpannya dulu.


"Besok saja baru ku buka, aku saat ini terlalu lelah untuk membongkar semuanya."


Tamara berjalan menuju kamarnya, dan betapa terkejutnya Tamara saat melihat ada banyak barang di dalam kamarnya. Bahkan meja rias yang sebelumnya ada di kamar Lukas pun kini berpindah ke dalam kamarnya.


Kamar itu kini sudah didekorasi dengan sangat baik. Tamara melihat ada secarik kertas di atas kasur.


*Semoga nona suka dengan dekorasi kamar ini, semangat nona.


Tertanda Olivia*.


"Wah, ternyata ini dari kak Oliv," Tamara tersenyum senang.


Tamara melirik ke arah lemari bajunya, ia lalu berjalan ke sana dan membukanya.


"Wah... Lemari baju sudah terisi penuh," Tamara memandang kagum dengan isi lemari yang ketika ia tinggalkan tidak ada isinya kini telah terisi penuh.


"Tapi ngomong-ngomong kemana pakaian lamaku ya? Apa kak Oliv membuangnya?" Gumam Tamara.


Tamara tak peduli, toh pakaian lamanya semua sudah usang dan layak untuk dibuang.


Tamara merebahkan dirinya di atas kasur yang kini sudah dilapisi oleh bed cover.


"Ahhh... Nyamannya..." Tamara merasa sangat senang. Ia kembali teringat dengan wajah pria yang membantunya di bandara tadi.


"Ku pikir tidak ada pria tampan yang baik, ternyata masih ada," gumam Tamara sambil memandang langit-langit kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2