
Sekitar pukul dua belas siang, Tamara bangun dari tidur panjangnya. Ia mendapati Lukas sedang tidur di sebelahnya, di ranjang yang sama.
Tamara tersenyum melihat kehadiran Lukas di sisinya, ia tadi sempat bermimpi jika Lukas akan pergi meninggalkannya. Tangan Tamara membelai wajah Lukas yang tengah tertidur lelap.
Namun betapa terkejutnya Tamara, ketika ia merasakan tubuh Lukas yang sangat panas.
"Lukas..." Tamara mencoba membangunkan Lukas.
"Mmm... Nanti ya sayang, aku mau tidur sebentar lagi, kepalaku terasa berat," sahut Lukas masih dengan mata terpejam dan suara yang sedikit parau.
"Lukas, kamu sakit?"
Kali ini Lukas diam saja tak menjawab pertanyaan Tamara. Tamara yang khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk pada Lukas, segera turun dari tempat tidurnya. Sambil mendorong tiang infusan, Tamara berjalan menuju ruang perawat.
"Suster, bisa minta tolong periksa suami saya? Badannya panas tinggi sekali," ucap Tamara.
"Baik nona, tunggu sebentar," perawat itupun mengambil beberapa peralatan untuk memeriksa Lukas, dan tak lama Tamara dan perawat itu pun kembali ke ruang VVIP.
Terlihat Lukas masih meringkuk di atas tempat tidur pasien, tempat dimana seharusnya Tamara berbaring saat ini.
"Selamat siang tuan Lukas, mohon izin saya ingin memeriksa kondisi tubuh anda," ucap perawat dengan sopan.
Meski tak menjawab, Lukas merubah posisi tidurnya dengan mata yang masih terpejam.
Setelah dirasa Lukas mengizinkannya memeriksa, perawat itu langsung mengecek suhu tubuh Lukas dan juga tensi darah Lukas.
"Tensinya normal nona, namun suhu tubuhnya memang sedang tinggi. Saat ini berada di 39,3°C. Apa nona mau saya memanggil dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut?"
"Iya suster, saya minta tolong ya suster. Saya takut suami saya kenapa-kenapa," ucap Tamara.
"Baik nona, kalau begitu saya permisi dulu ya nona. Nanti saya akan kembali lagi bersama dokter," perawat pamit undur diri.
Setelah perawat pergi, Tamara mendekati Lukas. Ia menggenggam tangan suaminya dengan erat.
"Kamu sudah tidak apa-apa?" Tanya Lukas tiba-tiba, namun matanya masih saja terpejam.
"Aku gak apa-apa sayang, aku sudah baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang kamu yang sakit?" Tamara membelai lembut wajah Lukas.
"Aku tidak sakit, aku hanya ingin istirahat sebentar," jawab Lukas sambil memegang tangan Tamara yang menyentuh pipinya.
"Tapi badan kamu panas banget, aku jadi khawatir."
Lukas akhirnya membuka matanya, ia melihat dengan jelas ekspresi wajah Tamara yang kini tengah mengkhawatirkannya.
"Aku baik-baik saja," ucap Lukas sambil menatap Tamara dengan matanya yang sayu.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat ya sayang."
Lukas yang hampir memejamkan matanya, kini membelalakkan matanya dengan lebar.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu istirahat," Tamara mengulangi ucapannya namun lebih singkat kali ini.
"Kamu tadi panggil aku apa?"
"Apa?" Wajah Tamara merah karena malu, ia memang tadi sempat memanggil Lukas dengan panggilan sayang.
"Cona ulangi sekali lagi, aku tidak mendengarnya dengan jelas tadi."
Tamara terdiam cukup lama, ia berkali-kali mengambil ancang-ancang untuk mengucapkan kata istimewa itu. Namun mulutnya seolah rapat terkunci.
"Ayolah... Aku mau dengar lagi," rengek Lukas.
"Iya sayang..." Tamara dengan suaranya yang pelan akhirnya mengabulkan keinginan Lukas.
"Aduh... Yang kencang dong, aku kan gak denger," Lukas masih merengek.
"Iya sayang..." Tamara bersuara dengan lebih keras.
Lukas tersenyum senang, ia pun mengacak-acak rambut Tamara karena gemas.
"Makasih ya sayang," Lukas pun kembali memejamkan matanya dan kembali tertidur. Namun senyum di wajah Lukas belum juga hilang, sepertinya Lukas sangat senang karena Tamara memanggilnya dengan sebutan sayang.
Belum lama Lukas memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Dan tak lama, seorang dokter dan perawat yang tadi memeriksa kondisi Lukas datang.
"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?" Dokter itu bertanya dengan sopan.
"Baik nona, tunggu sebentar ya."
Tak butuh waktu lama untuk dokter memeriksa kondisi Lukas.
"Tuan muda sepertinya hanya kelelahan, saya akan berikan beberapa vitamin dan juga obat penurun panasnya ya nona," ucap dokter tersebut.
"Jadi suami saya baik-baik saja dok?"
"Iya nona, jadi jika sampai tiga hari demamnya belum juga turun, nanti bisa kita cek darahnya."
"Oh begitu ya dokter? Ya sudah terima kasih ya dokter," ucap Tamara.
"Sama-sama nona," setelah memberikan resep yang nanti kan ditebus oleh perawat, dokter itu pun langsung pamit dan pergi dari ruangan itu.
Setelah dokter dan perawat pergi, Lukas baru membuka matanya.
"Mereka sudah pergi?"
"Kamu pura-pura tidur?"
"Hehe... Sudah ku bilang kan, aku tidak kenapa-napa."
__ADS_1
"Iya sih, tapi kan ku tetap khawatir."
"Gak usah khawatir sayang, aku ini kan kuat gak gampang sakit."
Tamara tersenyum mendengar ucapan Lukas. Tak lama, Vanesa dan Leonard juga perawat pribadi yang Leonard datang.
"Loh kok pasiennya ganti?" Tanya Leonard begitu melihat Lukas yang terbaring di ranjang pasien.
"Sekarang Lukas yang sakit pah, aku sih udah sehat-sehat aja," jawab Tamara.
"Kamu yakin sudah sehat sayang?" Vanesa membelai lembut rambut Tamara.
"Sudah mah, hanya terkadang masih agak nyeri di bagian perut," jawab Tamara sambil tersenyum getir.
"Apa? Masih sakit?" Lukas langsung bangun dan turun dari tempat tidur, Lukas juga memindahkan Tamara naik ke atas tempat tidur.
"Loh... Aku gak apa-apa kok, beneran cuma sakit dikit aja," ucap Tamara.
"Tidak ada yang namanya sakit sedikit, sakit ya tetap sakit. Kenapa kamu gak bilang?"
"Kan kamu gak tanya."
"Lain kali gak usah tunggu ditanya, kalau sakit ya kamu harus bilang."
"Tapi beneran aku gak apa-apa."
"Gak apa-apa gimana? Kamu habis keguguran, kamu harus banyak istirahat."
Vanesa dan Leonard hanya bisa saling menatap dan menggelengkan kepala melihat pertengkaran Tamara dan Lukas. Sedangkan perawat pribadi Leonard hanya tersenyum geli melihat tingkah Lukas dan Tamara yang menggemaskan.
"Kamu tau itu kalau Tamara habis keguguran dan harus banyak istirahat, tadi kenapa malah kamu yang tidur disitu?" Omel Vanesa pada putranya.
"Hehe, tadi kepalaku terasa berat mah," Lukas merengek manja pada Vanesa.
"Tuh kan, mamah bilang juga apa? Tadi kan mamah suruh kamu istirahat selama Tamara sedang di kuret, tapi kamu gak mau dengerin mamah. Sekarang kamu malah sakit kan? Kalau udah sakit, gimana mau jagain Tamara?"
"Habis aku khawatir mah."
"Kan mamah udah bilang, ada mamah yang jaga. Kamu itu gak percaya sama mamah?"
"Bukan begitu mah, aku cuma gak tenang aja kalau gak lihat sendiri kondisi Tamara."
"Tuh kamu denger Tamara? Anak ini sudah bucin sekali sama kamu," ucap Vanesa pada Tamara.
Tamara hanya tersenyum malu mendengar ucapan mamah mertuanya.
"Nih mamah bawain makan buat kamu," Vanesa menyerahkan kotak makan pada Lukas. "Oh iya, kamu sudah makan sayang?" Vanesa beralih pada Tamara.
"Belum mah," jawab Tamara.
__ADS_1
"Ayo sini mamah suapi," Vanesa mengambil nampan berisi makan siang Tamara yang sudah tersedia di meja sejak tadi.
Tamara pun menurut, ia makan dengan disuapi oleh Vanesa. Sedangkan Lukas memakan makanan yang dibawakan Vanesa padanya.