
Sementara itu, Tamara di tempat yang berbeda. Kini tengah diam mematung, ia masih tak percaya dengan apa yang kini tengah menimpanya.
Ia duduk terdiam di kontrakan Adrian, banyak orang yang berlalu lalang di rumah itu. Dan mereka juga secara bergantian memeluk dan mengucapkan bela sungkawanya pada Tamara.
Ya, Tamara kini tengah berduka. Adrian yang tadi pagi dibawa ke rumah sakit ternyata tak mampu lagi untuk bertahan lebih lama. Dokter memvonisnya karena serangan jantung. Meski nyatanya, Adrian sempat terjatuh di kamar mandi. Namun penyebab kematiannya adalah karena serangan jantung.
Tentu saja hal ini membuat Tamara syok, sosok kakek yang juga sebagai pengganti ibu dan ayahnya kini telah tiada. Adrian pergi meninggalkan Tamara untuk selamanya.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Tamara masih tak percaya dengan kepergian Adrian yang terlalu mendadak ini. Sejak dinyatakan meninggal, Tamara sama sekali tak memberikan ekspresi apapun. Bahkan menangis pun tidak.
Semua proses pemakaman di urus oleh keluarga suaminya. Tamara sendiri masih diam mematung, seolah semua ini hanyalah mimpi belaka. Tamara masih tak mau percaya dengan kenyataan yang kini tengah menimpanya.
Saat semua orang sudah pergi, kini hanya ada Dominic dan beberapa asistennya. Sementara ia meminta Olivia, sekertaris pribadi Lukas untuk mengurus proyek yang kini sedang Lukas jalani.
Dominic meminta Vanesa untuk kembali ke ibu kota, ia sangat khawatir dengan keadaan cucu menantunya itu. Kondisi Tamara masih sama seperti saat pertama kali ia menerima kabar duka itu, hanya diam mematung tak berekspresi.
"Tamara, ayo kita pulang dulu," ajak Vanesa. Saat itu, ia baru saja tiba di rumah duka, di kontrakan Adrian.
Tamara hanya menurut, kemana pun orang-orang membawanya pergi. Saat ini pikiran Tamara sedang kosong, ia tak mampu memikirkan apapun.
Tiba di kediaman Dominic, Vanesa hendak mengajaknya untuk kembali ke kamar Lukas. Namun Tamara malah berjalan terus menuju kolam renang di halaman belakang.
Di tempat itu memang biasanya Adrian menghabiskan waktu bersama Dominic, jika Adrian sedang berkunjung ke sana.
Tamara duduk di kursi yang berada di tepian kolam. Sambil menatap ke arah kolam renang, tatapannya kosong.
"Sayang, kita makan dulu ya. Kamu belum makan loh dari siang, kasihan itu bayi dalam kandungan kamu pasti lapar," rayu Vanesa.
Tamara hanya menggeleng.
"Ayolah sayang, apa kamu gak kasihan dengan anakmu?"
Tamara hanya diam saja, tatapannya masih tetap kosong. Vanesa hanya bisa menghela nafas, ia tak tau lagi bagaimana harus merayu Tamara untuk sekedar makan atau minum barang seteguk.
"Dia masih tidak mau makan?" Tanya Leonard. Ia sungguh tak tega melihat kondisi menantunya saat ini.
"Tidak bisa begini terus, kita harus segera memberitahu Lukas," ucap Dominic.
__ADS_1
"Tapi anak itu masih belum bisa dihubungi," keluh Vanesa.
"Titip pesan saja pada Olivia, biar saat dia kembali ke lokasi proyek nanti, Olivia yang akan memberitahunya," saran Leonard.
"Tenang saja, aku sudah menitipkan pesan padanya sebelum aku kembali," jawab Vanesa.
"Semoga Lukas bisa lekas kembali, Tamara pasti sangat membutuhkan kehadiran Lukas saat ini," ucap Dominic.
Tak lama ia meminta pelayan untuk menyiapkan makan lama untuk Tamara. Sejak siang Tamara belum menyentuh makanan atau minuman apapun.
Dominic juga meminta beberapa penjaga dan pelayan untuk menemani Tamara dari jarak yang cukup aman, ia juga khawatir Tamara mungkin akan nekad melakukan hal yang tidak-tidak saat ini.
Sementara itu di lokasi proyek, Lukas baru mengaktifkan kembali ponselnya, sebelumnya ia mengganti dengan mode pesawat. Sehingga orang-orang tak ada yang bisa menghubunginya.
Dan betapa terkejutnya Lukas ketika melihat siapa yang menjadi pengawas di lokasi proyek saat ini, Olivia sekertarisnya.
"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Lukas heran.
"Saya menggantikan nyonya untuk sementara tuan muda," jawab Olivia.
"Memangnya mamah kemana?"
"Apa? Kakek Adrian meninggal?" Tanya Lukas tak percaya.
"Iya tuan muda."
Lukas pun mengecek ponselnya, dan benar saja, semua keluarganya memberitahu melalui pesan singkat bahwa Adrian meninggal dunia. Dan pesan terakhir yang ia terima adalah dari Vanesa yang memberitahunya tentang kondisi Tamara saat ini.
Tak lama ponsel Lukas pun berdering, panggilan masuk dari Vanesa.
"Lukas, kamu kemana saja sayang?"
"Mah... Apa benar berita yang baru saja ku dengar?"
"Benar sayang, cepatlah pulang. Kakekmu sudah menyiapkan jet pribadinya supaya kamu bisa pulang denhan cepat malam ini juga," pinta Vanesa.
"Baik mah, aku akan segera pulang. Tapi Tamara bagaimana mah?"
__ADS_1
"Kamu nanti lihat sendiri saja ya, yang pasti kamu harus cepat pulang. Tamara sangat membutuhkanmu saat ini," ucap Vanesa sebelum ia mematikan sambungan teleponnya.
Lukas pun segera kembali ke bandara, dan ternyata jet pribadi milik Dominic sudah menunggunya di sana. Tak butuh waktu lama, Lukas sudah sampai kembali di ibu kota.
Dengan kecepatan penuh, Lukas mengemudikan mobilnya. Bahkan tiba di kediaman Dominic pun ia memarkirkan mobilnya dengan sembarangan.
Lukas langsung berlari ke kamarnya, namun ia tak menemukan sosok Tamara di sana.
"Tamara dimana?" Tanya Lukas pada pelayan yang ada di sana.
"Nona sedang berada di halaman belakang tuan muda," jawab para pelayan.
Lukas pun berlari menuju halaman belakang, dan langkah kakinya terhenti saat ia melihat sosok Tamara yang berdiri mematung di pinggir kolam.
Tak jauh dari tempat Tamara berdiri, ada beberapa penjaga dan pelayan yang siap sedia bila Tamara nekad menceburkan dirinya ke dalam kolam.
Pelan-pelan Lukas mendekati Tamara. Entah mengapa, hatinya terasa begitu sakit melihat Tamara yang tengah terpukul atas kepergian Adrian saat ini.
Dan saat beberapa langkah lagi Lukas sampai di tempat Tamara berdiri, tanpa disangka Tamara hendak menceburkan dirinya ke dalam kolam.
Sontak Lukas dan beberapa penjaga langsung berlari menghampiri Tamara. Beruntung Lukas tiba tepat waktu, ia langsung menarik Tamara ke dalam pelukannya.
Lukas memeluk Tamara dengan sangat erat. Hingga Tamara baru tersadar, siapa orang yang kini tengah memeluknya.
"Lukas?"
"Iya sayang, ini aku," jawab Lukas sambil mengecup kening Tamara.
"Lukas..." Terdengar suara Tamara yang lirih.
Lukas memandangi wajah istrinya, ia melihat kesedihan yang mendalam di wajah Tamara.
"Lukas... Kakek pergi, aku... Sekarang aku... Aku tak punya siapa-siapa lagi, Lukas... Bagaimana ini?"
Terbata-bata Tamara berucap, sambil menitikkan air mata. Tangis yang sejak tadi ia tahan, kini pecah dihadapan Lukas.
Tentu saja hal ini membuat hati Lukas semakin tersayat, tanpa terasa air matanya juga ikut menetes seiring dengan suara isak tangis Tamara yang akhirnya pecah di pelukan Lukas.
__ADS_1
"Menangislah sayang, jangan takut... Ada aku di sini," ucap Lukas sambil mengelus kepala Tamara dengan lembut.
Di kejauhan, Vanesa dan Leonard juga saling berpelukan. Mereka akhirnya bisa merasa sedikit lega melihat Tamara bisa meluapkan kesedihannya.