
Namun Tamara salah, Lukas bukannya marah. Ia malah meraih tengkuk Tamara dan mencium Tamara semakin dalam.
Meski terkejut, Tamara menikmati ciuman itu. Tentu saja jantung Tamara semakin tak karuan dibuatnya.
Tak lama, Lukas melepas ciumannya dan mengusap bibir Tamara.
"Sekarang kamu mandi ya, trus siap-siap. Kita akan ke rumah kakek Dom, kamu bilang ada oleh-oleh buat kakek," ucap Lukas.
Tamara hanya bisa mengangguk tanpa berkata apapun.
Lukas pun keluar dari kamar Tamara.
"Fiuhhh... Untunglah dia bukan orang yang sulit. Hanya sekali cium saja sudah bisa meredakan amarahnya," gumam Lukas.
Lukas pun berjalan menuju kamarnya, ia juga akan bersiap untuk datang ke rumah kakeknya.
Di dalam kamar, Tamara masih mematung. Ia menyentuh bibirnya, dan tak lama Tamara berteriak tanpa suara. Wajahnya terasa memanas.
Tamara tak menyangka Lukas akan membalas ciumannya. Dan lagi Lukas juga membelikannya sarapan pagi.
"Kalau begini bagaimana mungkin aku akan marah padanya?" Gumam Tamara.
Ia pun teringat ucapan Lukas yang akan mengajaknya ke rumah kakek Dom. Tamara segera bangun dan membuka koper oleh-olehnya.
Tamara memisahkan beberapa oleh-oleh untuk kakek Dom, papah dan mamah mertuanya. Tak lupa untuk Olivia juga.
"Tapi kak Oliv ada di sana juga gak ya? Sudahlah, aku siapkan saja dulu. Nanti biar ku tanya Lukas apa apa akan ada kak Oliv di sana," gumam Tamara.
Setelah selesai merapihkan oleh-oleh untuk dibagikan ke keluarga suaminya. Tamara pun bergegas keluar kamar, tak lupa ia membawa mangkok kosong bekas makan bubur tadi.
Sebelum mandi, Tamara lebih dulu mencuci bekas makannya dan juga Lukas. Tamara juga dengan gerakan cepat merapihkan dapur dan ruang makan. Setelah beres semua, barulah Tamara bisa mandi dengan tenang karena rumahnya sudah bersih dan rapih.
Tamara mandi dengan cepat, karena ia takut Lukas akan lama menunggunya karena sebelumnya Tamara sudah banyak membuang waktu untuk memisahkan oleh-oleh dan juga bersih-bersih dapur dan ruang makan.
Selesai mandi, Tamara langsung berlari menuju kamarnya. Dan benar saja, Lukas sudah siap dan hendak mengetuk pintu kamarnya.
Melihat Tamara yang baru saja selesai mandi, Lukas menghadang jalan Tamara.
"Coba ku lihat," Luka memegang kedua bahu Tamara. Ia memerhatikan dengan seksama apakah di wajah Tamara masih ada sisa-sisa kesedihan?
"Ada apa?" Tanya Tamara dengan wajah tersipu karena Lukas memperhatikannya dengan seksama.
"Tidak apa, sudah cukup. Ayo cepat pakai bajumu," Lukas menggandeng tangan Tamara dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Tamara.
"Kok kamu ikutan masuk?"
"Aku mau lihat, baju apa yang akan kamu pakai?"
__ADS_1
Tamara mengangguk, setelah di dalam kamar pun Tamara membuka pintu lemarinya dan Lukas melihat dengan seksama.
Setelah memilah beberapa baju, Lukas akhirnya menemukan satu yang dirasa pas.
"Coba pakai ini," pinta Lukas.
Tamara hanya diam mematung.
"Kenapa? Kau tak suka?"
"Apa aku harus memakainya di depanmu?"
"Ah... Baiklah aku akan keluar," Lukas pun berlalu pergi.
"Padahal aku sudah pernah lihat tubuh polosnya, kenapa dia harus malu-malu?" Gumam Likas sambil berlalu keluar kamar.
Setelah Lukas keluar, barulah Tamara bisa bernafas dengan lega. Sebelumnya ia merasa sangat gugup karena berada satu ruangan kembali dengan Lukas, belum lagi kini ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di badannya.
Meski Lukas sudah berkali-kali melihat tubuh polos ya, namun merasa kalau mereka belum pernah melakukan hubungan apapun, Tamara jadi masih merasa canggung jika harus berganti pakaian di depan Lukas.
Tamara melihat pakaian yang dipilih oleh Lukas.
"Bagus juga seleranya," ucap Tamara. Ia pun bergegas mengenakan pakaian yang dipilih oleh Lukas.
Setelah berganti pakaian dan berdandan sedikit, Tamara pun keluar dari kamarnya.
Lukas menoleh ke arah Tamara.
"Cantik..." Jawab Lukas.
"Benarkah?"
"Mmm..." Lukas tersenyum, ia lalu mematikan televisi dan berjalan ke arah Tamara.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" Ajak Lukas seraya menggandeng tangan Tamara.
"Tapi... Itu oleh-olehnya..." Belum selesai Tamara bicara Lukas sudah mengangguk paham. Ia mengambil tas berisi oleh-oleh yang sudah disiapkan Tamara di dalam kamarnya.
Kali ini Lukas benar-benar memperlakukan Tamara bagaikan seorang ratu, Lukas membukakan pintu mobil untuk Tamara, Lukas selalu tersenyum manis dan menatap mesra Tamara, Lukas juga membawakan tas berisi oleh-oleh ke dalam bagasi mobil.
Lukas juga terus menggenggam tangan Tamara selama di perjalanan menuju rumah Dominic. Ia sengaja melakukannya agar wajah Tamara terus terlihat bahagia hingga di rumah kakeknya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di kediaman Dominic yang mewah dan megah.
__ADS_1
Lukas sekali lagi membukakan pintu untuk Tamara, ia juga terus menggandeng Tamara saat masuk ke rumah kakeknya itu.
Beberapa pelayan datang menyambut mereka berdua.
"Ambilkan tas di dalam bagasi," ucap Lukas sambil melempar kunci mobilnya.
"Baik tuan muda," ucap si pelayan sambil membungkukkan badannya.
"Sepi sekali, kemana semua orang?" Tanya Lukas pada pelayan yang lainnya.
"Tuan Dominic ada di halaman belakang, sedangkan tuan Leonard dan nyonya Vanesa seperti biasa sedang berada di luar kota," jawab pelayan lainnya.
"Baiklah, kalau begitu kami akan menemui kakek di belakang," ucap Lukas.
Lukas dengan senyum manisnya menatap Tamara dengan tatapan penuh cinta.
"Kita temui kakek di belakang ya," ucap Lukas pada Tamara.
"Iya," Tamara menurut saja. Wajahnya masih merona karena perlakuan Lukas padanya.
Tentu saja Lukas merasa sangat senang karena ia berhasil membuat Tamara yang semula sedih menjadi bahagia seperti sekarang ini.
Mereka berdua pun berjalan menuju halaman belakang tempat Dominic biasa menghabiskan waktu dengan membaca buku sambil mendengar riak air dari kolam ikan kesukaannya.
"Siang kek..." Sapa Lukas seraya menghampiri Dominic yang tengah fokus membaca.
Dominic pun menoleh ke sumber suara.
"Kalian? Baru datang?"
"Iya kek, bagaimana kabarmu kek?"
"Tentu saja baik, kalian sudah pulang sejak kemarin kenapa baru sekarang datang ke sini?" Tanya Dominic penuh selidik.
"Maaf kek, kami sangat lelah kemarin dan lagi aku benar-benar minta maaf karena mengunjungi kakekku lebih dulu," Tamara tertunduk karena takut Dominic akan memarahinya.
"Jadi kalian sudah menemui Adrian?"
"Sudah kek, kemarin," Lukas menggenggam erat tangan Tamara. Ia tau saat ini Tamara sedang grogi karena pertanyaan dari Dominic tadi.
"Baguslah..." Dominic tersenyum melihat Lukas yang sedang berusaha menenangkan istrinya itu.
"Ayo duduk, kenapa kalian hanya berdiri saja?" Dominic mempersilahkan keduanya duduk berhadapan dengannya.
"Tidak usah takut, wajah kakekku memang kadang sedikit galak tapi dia sebenarnya baik kok," ucap Lukas.
Tamara menoleh ke arah Lukas, ia pun tersenyum kembali.
__ADS_1
Dominic bisa melihat dan mendengar dengan jelas ucapan Lukas itu, namun ia tak mau berkomentar. Ia cukup tau bahwa Lukas sudah memperlakukan Tamara dengan baik.