
Deg....
Tatapan tajam Lukas bukannya membuat Tamara takut tapi malah membuat Tamara terpesona.
"Kau benar-benar ingin memangsaku?" Tanya Lukas.
Tamara menelan air liurnya, dia tak bisa menjawab pertanyaan Lukas. Bukan karena pertanyaannya yang sulit, namun karena Tamara merasa grogi Lukas menatapnya seperti itu.
"Hah..." Lukas menghela nafas, ia membalikkan badannya membelakangi Tamara.
Tamara masih saja mematung, entah mengapa jantungnya berdebar semakin kencang. Ia tau tatapan itu adalah tatapan tajam, namun entah mengapa ia sangat menyukainya.
Tamara akhirnya memilih pergi meninggalkan Lukas seorang diri di dalam kamar.
"Masalah hatimu aku tak bisa bertanggung jawab," gumam Lukas yang tau Tamara pergi meninggalkannya.
Tamara berjalan menuju teras belakang vila, ia menatap langit yang nampak seperti malam hari padahal saat ini waktu masih menunjukkan pukul dua belas siang.
"Gawat, melihat tatapan matanya yang tajam saja bisa membuat jantung ini tak karuan. Apalagi jika dia menatapku dengan hangat?" Gumam Tamara.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil berteriak dalam hati.
"Aaaa... Kenapa sih kamu ganteng banget?" Teriak Tamara dalam hati.
Seorang pelayan datang menghampiri Tamara.
"Ada yang bisa saya bantu nona?"
Tamara terkejut mendengar ada kehadiran seseorang di sana. Ia menoleh ke sumber suara.
"Eh?"
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Pelayan itu mengulang pertanyaannya.
"Bisakah kau singkirkan majikanmu itu dari hadapanku? Semakin aku sering melihatnya semakin hati ini tak tahan dibuatnya," ucap Tamara dalam hati.
"Mmm... Tidak, terima kasih," namun nyatanya itulah yang keluar dari mulut Tamara.
"Baik nona, kalau begitu saya permisi dulu. Jika nona membutuhkan sesuatu silahkan nona panggil saya di dapur," ucap pelayan itu seraya membungkukkan badannya.
"Oh... Iya," Tamara mengangguk mengiyakan ucapan pelayan tersebut.
Pelayan itu lalu pergi meninggalkan Tamara seorang diri.
"Hah..." Tamara menghela nafas.
"Kenapa kamu jahat sekali? Memiliki wajah yang tampan, dan membuatku menjadi istrimu, tapi kau bahkan tak mencintaiku," gumam Tamara.
"Apa yang harus kulakukan?" Tamara semakin frustasi, saat ini ia memilih untuk menghindari Lukas terlebih dahulu.
__ADS_1
Di sisi lain, Lukas yang tak mengerti dengan sikap Tamara, jadi merasa kepikiran mengapa Tamara tak menjawab pertanyaannya?
"Aku kan hanya bercanda, kenapa dia seperti itu? Apa salahku?"
"Ngomong-ngomong kemana dia pergi?" Lukas berniat untuk mencari keberadaan Tamara. Ia berjalan keluar kamarnya dan bertemu dengan seorang pelayan yang sedang membersihkan ruangan.
"Kau lihat dimana istriku?" Tanya Lukas.
"Ada di teras belakang tuan muda," jawab pelayan dengan sopan.
"Baik, terima kasih," Lukas pun berlalu menuju teras belakang vila. Dan benar saja, ia melihat Tamara yang sedang melamun.
Namun sedetik kemudian, Tamara mengacak-acak rambutnya.
Lukas mengernyitkan dahinya, ia bingung apa yang sedang dilakukan oleh Tamara saat ini. Lukas tak mau mendekat, ia hanya memperhatikan Tamara dari jarak yang aman. Tidak cukup dekat, namun dapat terdengar apa yang diucapkan oleh gadis itu.
"Ayolah... Lupakanlah!!!" Tamara kembali mengacak-acak rambutnya.
"Hei, jantung! Tolong berhenti berdebar, aku tau dia tampan, tapi di luar sana masih ada banyak pria yang lebih tampan darinya."
"Ayolah hati! Bekerja samalah denganku, dia tidak menyukaimu, untuk apa kau terus menyukainya? Kau hanya akan membuat sakit dirimu sendiri!"
"Hei mata, dengarkan! Mulai sekarang kau tak boleh menatapnya lebih dari tiga detik, ingat! Jika tidak, maka aku akan mendapat serangan jantung seperti tadi."
Tamara terus meracau tanpa ia sadari Lukas sedang terkekeh mendengar ocehan Tamara.
"Jadi dia sedang galau sekarang?" Gumam Lukas.
"Sedang apa kau?" Lukas keluar dari persembunyiannya dan mengejutkan Tamara.
"Ah, kau mengejutkan aku saja!" Protes Tamara.
"Kenapa kau terkejut? Apa kau sedang melakukan sesuatu yang aneh?"
Tamara memalingkan wajahnya, ia tak mau melihat ke arah Lukas.
"Hei, kenapa kau tak melihat ke arahku?" Lukas berusaha melihat wajah Tamara.
Tamara terus saja mencari celah untuk tak melihat ke arah Lukas, namun Lukas juga tak mau menyerah. Ia berusaha untuk membuat mata Tamara melihat ke arahnya.
"Ahhhh... Kau itu kenapa sih?" Gerutu Tamara.
"Kau yang kenapa? Kau terus menghindari tatapan mataku, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Tamara menghela nafas.
"Iya! Aku menyembunyikan perasaanku darimu, kenapa? Kau suka? Puas kau karena telah membuatku tergila-gila padamu?" Tamara akhirnya melampiaskan isi hatinya pada Lukas.
"Oke... Oke... Santai saja, bukan salahku kalau kau tertarik padaku."
"Tentu saja salahmu!"
__ADS_1
"Salahku?"
"Iya!" Tamara pergi meninggalkan Lukas sambil menghentakkan kakinya.
"Sebenarnya aku ini kenapa sih?" Gumam Tamara. "Apa begini rasanya jatuh cinta?"
Lukas yang ditinggalkan seorang diri di teras belakang malah tertawa geli melihat tingkah laku Tamara yang menurutnya sangat lucu itu.
Di ruang makan, saat jam makan siang. Lukas makan seorang diri di sana. Dia tak tau kemana perginya Tamara.
"Kemana gadis bodoh itu pergi?" Gumam Lukas.
Setelah meninggalkan Lukas tadi, Tamara bersembunyi di kamar salah seorang pelayan. Bahkan saat jam makan siang pun ia meminta pelayan untuk membawanya ke sana.
"Jika tuan muda mencariku, jangan bilang kalau aku ada di sini," bisik Tamara pada seorang pelayan yang ia tumpangi kamarnya.
"Lalu saya harus jawab apa nona?"
"Jawab saja aku keluar vila."
"Baik nona," pelayan itu lalu pergi meninggalkan Tamara di kamarnya.
"Apa mereka sedang bertengkar?" Tanya salah seorang pelayan yang lain.
"Entahlah, namanya juga pengantin baru. Mereka kadang suka bertengkar karena masih beradaptasi dengan watak masing-masing," jawab pelayan tadi.
"Kau benar."
"Sudahlah, aku tak punya waktu untuk bergosip denganmu. Aku harus mengambil makanan untuk nona Tamara," pelayan itu akhirnya pergi untuk mengambil makan siang Tamara.
Lukas di ruang makan masih celingukan ke sana kemari. Ia tak melihat sosok Tamara di sekitar sana. Padahal ini sudah jam makan siang, namun hingga makanannya habis, sosok Tamara tak juga muncul.
Lukas akhirnya berjalan mengelilingi vila, ia bertanya pada para pelayan namun tak satu pun dari mereka melihat Tamara.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan pelayan yang diminta Tamara untuk merahasiakan keberadaannya.
"Hei, apa kau melihat istriku?"
"Mmm... Anu tuan muda, saya tadi melihat nona berjalan keluar vila," pelayan itu menjawab dengan ragu-ragu.
Lukas memicingkan matanya, menatap dengan curiga.
"Hujan-hujan begini?"
"I-iya tuan muda," pelayan itu tak berani menatap Lukas.
"Oke, baiklah." Lukas berlalu meninggalkan pelayan itu.
Namun ternyata diam-diam ia mengikuti kemana pelayan itu pergi. Dia masuk ke dalam kamarnya.
"Hah, ternyata gadis itu bersembunyi di sana. Baiklah, kita lihat sampai kapan kau akan bisa bertahan di tempat itu."
__ADS_1
Lukas berjalan kembali menuju kamarnya, sambil bersiul riang. Entah mengapa suasana hatinya sedang sangat senang saat ini.