Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 115


__ADS_3

Di dalam ruang dokter, Sandra kini tengah duduk di hadapan dokter dengan perasaan was-was. Hatinya semakin berdebar kencang ketika dokter mulai memperkenalkan dirinya.


"Selamat malam, perkenalkan saya dokter Farrel. Dokter yang memeriksa pasien bernama Jake. Maaf dengan siapa saya bicara?" Tanya dokter Farrel sambil menatap ke arah Sandra.


"Saya Sandra dokter, ibu kandung Jake," Jawab Sandra.


"Baik, ibu Sandra. Begini... Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, ada banyak luka lebam di sekujur tubuh Jake."


"Luka lebam?"


"Iya ibu, itu diperkirakan akibat pukulan dari benda tumpul."


"Lalu bagaimana kondisi anak saya dokter?"


Dokter Farrel memperlihatkan hasil rontgen kepada Sandra.


"Apa itu dokter?" Tanya Sandra tak sabar ingin segera tau bagaimana kondisi Jake saat ini.


"Apa ibu lihat garis-gasris di sini?" Tanya dojter Farrel sambil menunjuk suatu area dari hasil rontgen tersebut.


"Iya dok, itu apa ya?"


"Ada beberapa retakan di tangan kanannya bu."


"Retakan?" Sandra mengernyitkan dahinya.


"Iya ibu, Jika dilihat dari posisi lukanya ini kemungkinan karena Jake melindungi dirinya dari hantaman benda tumpul." Dokter Farrel menjelaskan.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan dok?"


"Ibu tidak perlu khawatir. Saat ini, kami sudah memasangkan  gips. Jadi ibu tidak perlu merasa khawatir. Ibu hanya perlu memantau aktivitas anak ibu agar tidak terlalu banyak aktivitas."


"Apa anak saya bisa sembuh dok?"


"Dalam banyak kasus, tulang yang retak masih bisa disembuhkan. Syaratnya harus istirahat total, dan jangan melakukan banyak aktivitas terutama aktivitas yang terlalu membebani bagian yang retak."


Jawaban dari dokter Farrel membuat Sandra merasa sedikit lega.

__ADS_1


"Lalu, apa anak saya sudah sadar dok?"


"Anak ibu sedang tidur saat ini, sepertinya ia tidak tidur dalam beberapa hari terakhir."


"Kalau begitu apa saya bisa menemuinya dok?"


"Silahkan!" Dokter Farrel dengan ramah mempersilahkan Sandra untuk melihat kondisi Jake saat ini.


"Oh iya dok, apa anak saya perlu dirawat di rumah sakit?"


"Saran saya, sebaiknya dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Tapi jika ibu ingin membawanya pulang, kami persilahkan."


"Baik dokter, terima kasih." Sandra merasa sangat lega. Ia berjalan meninggalkan ruangan dokter menuju tempat tidur Jake.


Sandra melihat Jake yang tertidur pulas, ia merasa putranya saat ini terlihat sangat damai. Bahkan Sandra dapat melihat Jake tersenyum dalam tidurnya.


"Apa yang kau mimpikan nak?" Tanya Sandra sambil membelai lembut rambut Jake.


Sandra mengamati sekujur tubuh Jake, memang ada banyak luka lebam di sana-sini.


"Siapa yang tega melakukan ini padamu nak?" Sandra merasa tak tega melihat kondisi Jake saat ini. Rasanya ia ingin langsung membalas apa yang sudah orang itu lakukan pada putranya.


Sandra terus menerus membelai rambut Jake, rasanya ia ingin memindahkan rasa sakit yang kini Jake rasakan pindah ke tubuhnya saja. Lalu seketika Sandra teringat cerita Tamara yang mengatakan bahwa Jake bilang, Richard mengancam Jake akan menyakiti dirinya.


"Apa semua itu benar Jake? Apa benar ayahmu tega melakukan ini padamu?" Sandra memejamkan matanya. Tangannya menggenggam erat tangan Jake.


Sandra sama sekali tak habis pikir, seandainya apa yang Tamara ceritakan itu benar.


"Lalu buat apa selama ini kita tinggal bersama? Buat apa kau mencariku pada akhirnya? Buat apa semua ini? Jika akhirnya kau tega menyakiti anakmu sendiri?" Tanpa terasa, air mata Sandra jatuh menetes membasahi pipinya.


Meski mungkin pada awalnya ia tak mencintai Richard, namun seiring berjalannya waktu selama hidup bersama, Sandra pasti juga memiliki perasaan pada Richard. Itulah mengapa Sandra tak ingin mempercayai jika Richard tega melakukan perbuatan kejam itu pada putranya sendiri. Sandra tak ingin merasa kecewa pada Richard.


Sementara Sandra tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Di tempat lain, Dominic dan Lukas sudah tiba di lokasi tempat jatuhnya Richard. Dengan diantar pak Nuh menuju tempat itu, kini mereka bertiga sedang mengamati jurang yang sebenarnya tak terlalu dalam itu.


"Nuh, coba kau arahkan senter lebih ke kanan!" Perintah Dominic.


Pak Nuh menurut, mereka bertiga masih mencari kemungkinan keberadaan Richard. Namun mereka tak bisa melihat apapun di malam hari. Hanya terlihat bagian belakang mobil RIchard yang menghadap ke arah bawah jurang.

__ADS_1


"Sepertinya mobil itu tersangkut di dahan pohon," ucap pak Nuh.


Setelah diperhatikan dengan seksama, memang benar apa yang dikatakan pan Nuh.


"Nuh, cepat panggil bala bantuan. Seseorang harus turun ke bawah sana untuk memeriksa secara langsung!" Lagi-lagi Dominic memberi perintah.


"Baik Tuan," pak Nuh segera menghubungi bawahannya untuk segera datang ke tempat mereka berada saat ini.


Rencananya, seseorang akan turun dan memastikan apa Richard masih ada di dalam mobil atau tidak? Jika masih ada, apa dia masih hidup atau tidak? Jika masih hidup apa dia terluka parah atau tidak?


Setelah menelpon, pak Nuh kembali ke tempat Dominic.


"Beberapa orang akan datang ke sini tuan, saya juga meminta dibawakan alat berat untuk mengangkat mobil itu," lapor pak Nuh.


"Baiklah, untuk saat ini kita harus menunggu mereka datang," ucap Dominic.


"Baik tuan," jawab pak Nuh seraya mengangguk paham.


"Lain kali, redam emosimu. Terutama di depan istrimu," Dominic memberi wajangan kepada Lukas.


"Maksud kakek?" Lukas tak mengerti karena tiba-tiba Dominic mengatakan hal itu.


"Sekalipun kau ingin membunuh seseorang, tahan lah dulu. Jangan lakukan di depan istrimu," nasihat Dominic.


Lukas paham apa yang Dominic maksud, ia tau tadi dirinya dipenuhi emosi sehingga sangat sulit baginya untuk mengontrol diri. Rasa kesal yang ia tahan sejak pagi hari memuncak, dan akhirnya  ia lampiaskan begitu saja pada Richard yang saat itu sedang mengejar mereka.


"Aku tau aku salah kek, tapi... Aku benar-benar sudah menahan amarahku sejak pagi. Aku bahkan belum makan apapun sejak pagi," keluh Lukas.


Dominic menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau ini, masalah apapun yang sedang kau hadapi kau tak boleh sampai lupa makan. Ingat, ada seseorang yang harus kamu lindungi. Jika kamu lemah karena tidak makan, bagaimana kamu akan melindunginya?" Lagi-lagi Dominic memberi nasihat.


"Iya kek, makanya sekarang kita makan dulu yuk. Aku lapar," rengek Lukas.


"Sebelum kau makan, pastikan dulu istrimu itu sudah makan atau belum?" Ucapan Dominic menyadarkan Lukas bahwa Tamara juga pasti belum makan sejak pagi.


Pagi hari sekali Tamara sudah pergi berbelanja yang berakhir dengan penculikan. Saat diculik, tangan dan kaki Tamara diikat serta mulut tertutup lakban, Tamara pasti tak makan saat itu. Dan saat ia berhasil menemukan Tamara, ia sama sekali tak memberi sesuap makanan pun pada Tamara.

__ADS_1


Jangankan makanan, bahkan setetes air pun tidak. Lukas hanya memberikan satu botol air mineral yang ia beli di mesin penjual otommatis yang ada di lobi IGD.


__ADS_2