Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 104


__ADS_3

Di dalam mobil, Tamara baru saja membuka matanya. Ia memperhatikan sekeliling dan betapa terkejutnya Tamara mengetahui dirinya ada di suatu tempat yang asing baginya.


Tamara ada di dalam sebuah mobil jenis mini bus, dan ia kini berada di kursi tengah dalam posisi terbaring. Tamara semakin terkejut ketika mengetahui kedua tangan dan kakinya terikat, ditambah sesuatu terasa menutup mulutnya hingga ia tak bisa membuka mulut saat itu.


Meski begitu, Tamara berusaha untuk tetap tenang. Karena ia melihat sosok pria yang tak dikenalnya duduk di kursi kemudi. Pria itu sedang menikmati se puntung rokok sambil bermain sebuah permainan di dalam ponselnya.


Tamara berusaha untuk mengamati sekelilingnya dengan lebih seksama. Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi hingga ia berada di tempat itu saat ini.


Tamara ingat, sesaat sebelum tidak sadarkan diri. Ia melihat ada keributan di pasar, saat itu ia sedang membayar hasil belanjaannya.


Namun tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan juga menariknya. Sempat melakukan sedikit perlawanan, tapi lawannya yang jauh lebih kuat tentu saja tak sebanding dengan kekuatan Tamara yang lemah. Beberapa saat kemudian Tamara merasa pandangannya sedikit kabur, dan lama kelamaan semua terlihat gelap, dan begitulah ia akhirnya tak sadarkan diri dan dibawa seseorang ke tempat yang ia sendiri tak tau dimana.


Saat Tamara masih sibuk memperhatikan sekeliling, tiba-tiba pria di hadapannya itu berteriak kesal. Sontak Tamara langsung memejamkan matanya, pura-pura kembali pingsan, dan seolah ia belum sadarkan diri.


"Sial, kenapa permainan ini sulit sekali?" Bentak pria itu, tak lama pria itu kembali fokus pada permainan. Namun beberapa saat kemudian, pria itu kembali berteriak. Begitulah seterusnya.


Sesekali pria itu juga memukul-mukul kemudi yang ada di hadapannya. Pria itu nampak kesal karena tak dapat berhasil memainkan sesuatu yang entah apa.


Tamara memilih untuk terus memejamkan matanya, sambil terus berpikir apa yang harus ia lakukan? Kewaspadaannya meningkat seiring dengan meningkatkan kekesalan pria yang ada di hadapannya itu.


Di tengah kewaspadaannya, Tamara teringat Rima.


"Benar, aku tadi kan ke pasar bersama kak Rima. Kemana dia sekarang?" Batin Tamara.


Saat Tamara baru teringat oleh Rima, saat itu juga Tamara tak lagi mendengar suara di sekitarnya. Suara permainan dari ponsel milik pria di hadapannya seakan lenyap. Suara amarah si pria pun tak lagi terdengar.


"Apa yang terjadi?" Tamara hendak mengintip memastikan apa yang sedang dilakukan oleh pria itu. Namun Tamara tak berani membuka matanya.


Tamara berusaha untuk lebih berkonsentrasi, ia berusaha mendengar suara sekecil apapun. Namun ia tak bisa mendengar sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk baginya.


"Kenapa tak ada suara apapun? Apa pria itu sedang menatapku?" Batin Tamara. Jantung Tamara berdegup kencang, ia takut jika sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya.


"Lukas, dimana kamu? Apakah kamu sudah mengetahui jika saat ini aku sedang di culik?" Tamara sangat ketakutan, ia berharap Lukas bisa segera menemukannya.


Tak lama, tiba-tiba terdengar suara pintu mobil terbuka. Seseorang keluar dan menutup pintunya dengan cukup kencang.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat Tamara terkejut. Lalu Tamara memberanikan diri untuk mengintip.


Pria di hadapannya sudah tak ada. Akhirnya Tamara mencoba untuk membuka matanya dan memperhatikan sekitar. Tak ada siapa-siapa di sana.


Tamara ingin sekali mencoba untuk duduk, namun seketika ia urungkan niatnya. Pria yang tadi duduk di hadapannya terlihat bersandar di pintu mobil bagian depan.


Tamara langsung menundukkan kepalanya, ia berharap pria itu tak melihat saat Tamara mendongakkan sedikit kepalanya tadi.


Di rasa masih hening, Tamara kembali melihat ke tempat dimana pria itu berdiri. Dan pria itu kini masih dalam posisi yang sama. Kini Tamara menyadari, bahwa kaca mobil terlalu gelap. Pria itu pasti tak bisa dengan mudah melihat ke dalam mobil.


Meski begitu, Tamara harus tetap waspada. Ia tak tau apa yang akan dilakukan pria itu nantinya.


Saat pria asing itu sedang berada di luar mobil, Tamara mengambil kesempatan untuk menenangkan dirinya. Ia harus tenang agar bisa menemukan jalan keluar dari tempat itu.


"Aku tidak boleh panik, aku yakin Lukas saat ini pasti sedang berusaha mencari ku," ucap Tamara dalam hati.


Tak lama kemudian, terdengar suara pria itu.


"Hei... Kenapa kau lama..." Pria itu tak melanjutkan ucapannya.


Tamara ingin sekali melihat ke arah luar, namun ia tak berani. Ia takut pria itu menyadari dirinya yang sudah sadar.


"Siapa kau? Mengapa kau memegang ponsel Brian? Dimana Brian?" Tamara masih bisa mendengar suara pria itu.


Deg...


"Brian?" Tamara mendengar nama seseorang ia kenal disebut oleh pria itu.


Lawan bicara pria itu seperti tak mengatakan apapun, Tamara tak bisa mendengar suara lainnya. Ia berusaha kembali berkonsentrasi. Lalu tiba-tiba...


Bughhh...


Tamara terkejut, tubuh pria asing itu tiba-tiba terdorong ke arah pintu mobil yang berada tepat di bagian kepala Tamara.


"Apa yang terjadi?" Tamara memberanikan diri untuk bangun agar ia bisa melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Tamara mendongakkan kepalanya dan melihat pria asing itu sedang dihajar habis-habisan oleh seseorang. Tamara penasaran siapa pria yang menghajarnya?


Tamara berusaha untuk bangun dan ia melihat Pras di sana. Dengan lincahnya Pras menghajar pria itu dan tak memberi kesempatan sedikitpun pada pria itu untuk membalasnya.


Ditengah pertarungan itu tiba-tiba terdengar suara seseorang dari kejauhan.


"Hei..."


Dor...


Terdengar suara tembakan. Tamara membelalakkan matanya. Ia khawatir Pras akan terkena tembakan, Tamara langsung memperhatikan dengan seksama.


Ternyata kekhawatiran Tamara tak terjadi. Pras dengan sigapnya membawa tubuh lawannya itu sebagai tameng.


Seketika Tamara merasa lega.


Namun perasaan lega itu tak berlangsung lama, karena kembali terdengar suara tembakan. Tak hanya satu kali, suara tembakan kali ini terdengar berkali-kali.


Tamara mendekat ke arah jendela, ia ingin melihat dengan lebih jelas apa yang terjadi di luar.


Pras membawa tubuh lawannya tadi sebagai tameng, dan ia berjalan mendekati si pemilik pistol hingga pemilik pistol kehabisan pelurunya. Pras melempar tubuh yang sudah bersimbah darah itu ke arah pemilik pistol, lalu dengan gerakan kilat Pras menendang kaki si pemilik pistol.


"Siapa dia?" Tamara memicingkan matanya. Berusaha melihat dengan jelas siapa orang itu.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Tamara berdegup dengan kencang.


"Itu kan..." Setelah sekian lama, akhirnya Tamara bisa melihat kembali sosok yang sudah lama tak ditemuinya. Sosok yang seharusnya bisa menjaga dan melindunginya saat orang tuanya tak ada. Namun sosok itulah yang ternyata telah merenggut nyawa kedua orang tuanya.


"Om Richard!"

__ADS_1


__ADS_2