
"Apa? Film horor katamu?" Tamara melotot ke arah Lukas.
"Iya, kenapa? Kau takut?"
Tamara hanya bisa menghela nafas panjang, ia tak mau menjawab pertanyaan Lukas. Jelas sekali dari raut wajah Lukas ia akan menggoda Tamara nantinya.
"Kalau takut kita pulang saja," ajak Lukas.
"Siapa yang takut? Lagi pula sayang kan tiketnya sudah dibeli," ucap Tamara.
"Baguslah kalau kau tak takut," Lukas tersenyum licik. Ia bisa melihat dengan jelas wajah takut Tamara.
Film pun di mulai, benar saja sepanjang film di mulai Tamara hanya menutup matanya. Ia sama sekali tak berani menonton film horor tersebut. Ditambah waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Lukas menoleh ke arah Tamara yang terus saja memejamkan matanya, ia berniat untuk menjahili Tamara.
Lukas yang duduk di samping kiri Tamara, mencolek lengan tangan kanan Tamara. Dengan tangannya yang panjang itu tentu ia bisa mencapainya tanpa perlu merasa kesulitan.
"Aaa..." Tamara menjerit ketika ia merasakan ada sesuatu yang mencolek lengan kanannya.
Tentu saja teriakan Tamara itu membuat semua orang yang berada di dalam bioskop menoleh padanya.
"Kau bilang kau tidak takut?" Goda Lukas.
"Lukas, tadi ada yang mencolek di sebelah sini. Tapi di sini kan tidak ada siapa-siapa," ucap Tamara dengan wajah yang ketakutan.
Tentu saja hal itu membuat Lukas tertawa.
"Kenapa tertawa?" Tamara menatap Lukas dengan wajah kesal.
"Tidak apa, ayo kita nonton lagi," Lukas kembali menonton film horor itu.
Kali ini, Tamara tak berani menutup matanya. Ia takut, ada sesuatu yang mencoleknya lagi.
Tamara memberanikan diri menonton film yang sangat seram baginya itu.
Lukas diam-diam melirik ke arah Tamara, dia mencoba menahan tawanya melihat Tamara yang dengan wajah ketakutan tapi masih berusaha untuk bisa melihat ke layar lebar.
Hingga ada adegan jump scare, Tamara berteriak histeris. Tamara secara reflek bersembunyi di lengan Lukas. Untungnya tak hanya Tamara yang berteriak, kali ini ada beberapa orang juga yang kaget dengan adegan itu.
Tubuh Tamara bergetar hebat, ia sungguh sangat ketakutan kali ini.
Lukas tak tega juga melihat Tamara yang sudah sangat ketakutan itu. Ia menggandeng tangan Tamara dan mengajaknya keluar dari bioskop.
"Kenapa keluar? Filmnya kan belum selesai," tanya Tamara.
"Apa kamu masih sanggup menonton film itu? Sudahlah kita beli minum dulu."
Lukas memesan minuman untuk Tamara, sementara Tamara menunggu di kursi kafe.
Tak lama Lukas pun datang membawa segelas minuman untuk Tamara.
"Minumlah," ucap Lukas sambil menyodorkan gelas minuman pada Tamara.
"Terima kasih," Tamara segera meminum minuman pemberian Lukas.
__ADS_1
"Apa kau sudah merasa jauh lebih baik?" Tanya Lukas.
"Sudah jauh lebih baik," jawab Tamara.
"Syukurlah," Lukas melihat ke arah luar bioskop ternyata lampu mall sudah padam.
"Sepertinya kita tidak bisa belanja malam ini," ucap Lukas.
"Kenapa memangnya?" Tanya Tamara.
"Mall sudah tutup," Lukas menunjuk ke arah luar bioskop.
"Apa? Tutup? Lalu bagaimana cara kita keluar dari sini?" Tanya Tamara dengan panik.
Melihat wajah panik Tamara membuat Lukas memiliki ide jahil kembali.
"Waduh... Bagaimana ini? Tamara, sepertinya kita harus menginap di sini."
"Apa? Menginap? Di tempat ini?"
Lukas mengangguk, wajahnya terlihat serius sekali.
"Aduh... Bagaimana ini? Mana kita habis menonton film horor lagi, pasti akan ada banyak hantu di tempat ini," Tamara terlihat semakin panik.
"Ya mau bagaimana lagi?" Lukas berusaha menahan tawanya.
Wajah polos Tamara yang kebingungan membuat Lukas semakin tak sanggup menahan tawanya.
"Hahaha..."
"Kenapa tertawa?" Tanya Tamara bingung.
"Kamu itu lucu sekali sih, memangnya kamu gak pernah nonton di jam segini?"
"Engga," Tamara menggelengkan kepalanya.
"Aku juga gak pernah, tapi cobalah kamu berpikir apa mungkin ada orang menginap di dalam mall? Mereka membuka bioskop hingga malam hari tentu saja sudah memikirkan cara untuk para penonton bisa keluar dari gedung ini," jelas Lukas.
"Jadi, kita tidak harus menginap?"
"Ya kalau kamu mau silahkan," Lukas masih saja mengejek Tamara.
"Ih... Ya gak mau lah," Tamara langsung menolak mentah-mentah.
Lukas tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Tamara yang sangat lucu baginya.
"Puas kamu ngerjain aku?" Tanya Tamara dengan tatapan kesal.
"Habis kamu lucu sih, ku pikir kau tak akan percaya. Tapi ternyata kau percaya begitu saja," masih ada sisa tawa di wajah Lukas.
Tamara menatap wajah bahagia Lukas, ia tersenyum. Setidaknya ia bahagia saat ini, mungkin Lukas tak menyukainya, namun ia cukup bahagia melihat Lukas tertawa lepas karena dirinya.
Lukas menyadari Tamara yang terus saja menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Lukas.
"Kau senang sekali, syukurlah... Setidaknya aku bisa membuatmu tertawa."
Ucapan Tamara berhasil membuat Lukas terdiam. Ia menutup mulutnya rapat-rapat kali ini.
"Ehem..." Lukas berdehem melawan rasa canggungnya. Tanpa ia sadari, ia merasa senang berada di dekat Tamara.
"Pulang yuk, kamu belanja sendiri besok pagi gak apa-apa kan?"
"Iya, aku bisa sendiri kok. Paling aku mau minta temenin kakek, bolehkah?"
"Iya, terserah kamu saja," Lukas lalu berjalan lebih dulu. Ia mencari pintu keluar sesuai dengan petunjuk dari dalam mall.
Tamara mengikuti tepat satu langkah di belakang Lukas. Tamara masih terbawa suasana saat menonton tadi.
Terlebih mereka hanya berjalan berdua menuruni tangga darurat yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari gedung.
Langkah kaki Lukas yang panjang dan cepat berusaha Tamara imbangi, meski akhirnya ia harus jatuh karena kakinya terkilir.
"Aw..."
"Kamu kenapa?"
"Kamu jalannya jangan cepet-cepet dong, aku kan takut kalau ketinggalan," jawab Tamara sambil menahan air matanya.
"Kau takut?"
Tamara mengangguk.
Lalu tiba-tiba ada suara yang semakin mengejutkan Tamara.
Brak...
Seperti suara pintu dibanting.
Tamara yang terkejut, tentu saja badannya semakin bergetar ketakutan.
Lukas melihat itu, awalnya ia ingin berusaha tak memperdulikan Tamara. Namun ia tak tega juga melihat Tamara yang sudah hampir menangis karena ketakutan.
"Tidak apa, itu hanya suara pintu. Ayo kita pulang," Lukas menggandeng tangan Tamara.
Kali ini Lukas jalan lebih pelan karena takut Tamara akan jatuh lagi.
Tiba di parkiran yang letaknya di basemen, suasana jauh lebih sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang terparkir saling berjauhan.
"Ayo masuk!" Lukas membukakan pintu untuk Tamara.
Tamara segera masuk dan duduk sambil memegang seat belt. Tak lama Lukas pun sudah berada di dalam mobil.
"Pakai sabuk pengaman mu!" Pinta Lukas.
Tamara menurut, ia pun segera memakai sabuk pengamannya.
"Lukas hati-hati ya," Tamara menundukkan wajahnya. Ia tak berani melihat ke depan, karena lampu parkiran yang mulai meredup.
__ADS_1
Lukas menyadari hal itu, ia bergegas keluar dari tempat parkir. Lukas tak ingin membuat Tamara semakin tak nyaman.