
Tak lama setelah mendapatkan titik lokasi dari Pras. Lukas bergegas ingin segera berangkat menuju titik lokasi.
"Ayo!" Ajak Lukas pada Erik.
"Tapi bagaimana dengan Rima, tuan?" Erik menatap Rima, tak tega jika harus meninggalkan Rima seorang diri.
Lukas terdiam sejenak. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Ya sudah, kau saja yang menemaninya. Biar aku sendiri yang menemui Tamara sendiri," ucap Lukas.
"Tidak bisa tuan muda, saya tidak mungkin membiarkan tuan muda pergi seorang diri."
"Lalu? Kau ingin bagaimana?"
Erik tampak bingung, ia sendiri tak memiliki solusi. Di satu sisi ia tak mungkin membiarkan tuan mudanya pergi ke tempat berbahaya seorang diri. Tapi ia juga tak tega meninggalkan Rima di rumah sakit sendirian.
Mengetahui anak buahnya yang bingung, Lukas langsung memberikan usul.
"Suruh saja pengawal yang ada di rumah menjaganya," usul Lukas sambil menatap Rima sejenak.
Erik nampak sumringah mendengar usul dari Lukas.
"Benar juga, kenapa aku tak memikirkan Asti?"
"Sudah cepat hubungi dia, minta dia untuk segera ke sini!" Perintah Lukas.
Belum sempat Erik menelepon Asti, seseorang mengetuk pintu kamar dan sedetik kemudian ia membuka pintu.
"Asti?" Erik tentu saja merasa sangat senang melihat kehadiran Asti di sana. Entah mengapa, kehadiran Asti bagaikan angin segar bagi Erik.
"Syukurlah, kau datang tepat waktu. Ayo, kita harus bergegas! Bukankah tempat itu lumayan jauh?" Ajak Lukas.
"Baik tuan muda," Erik mengiyakan ajakan Lukas yang baginya itu adalah perintah yang harus ia turuti.
Akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan Rima bersama Asti di sana. Sebelum pergi Erik sempat menitipkan Rima pada Asti.
"Apa nona sudah ketemu?" Tanya Asti dengan wajah khawatir.
"Belum, tapi kami sudah tau dimana nona berada," jawab Erik. Erik pun bergegas menyusul Lukas yang sudah berjalan jauh lebih dulu darinya.
"Tuan muda, biar saya menyetir," pinta Erik seraya mengambil kunci di tangan Lukas.
Lukas menurut, ia langsung duduk di kursi samping kemudi. Tidak ada waktu untuk mendebatkan siapa yang akan mengemudi, saat ini Tamara pasti sedang menantinya.
"Tamara pasti sedang sangat ketakutan saat ini. Tunggulah sayang, aku sedang dalam perjalanan menemui mu," batin Lukas.
__ADS_1
Erik melajukan mobil dengan kecepatan penuh, jarak yang harus ditempuhnya cukup jauh untuk sampai ke titik lokasi.
Selama perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Lukas. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu yang entah apa?
Butuh sekitar satu jam perjalanan untuk tiba di lokasi, beruntung saat itu jalanan tidak terlalu ramai, sehingga mereka bisa leluasa mengemudikan dengan cepat laju kendaraan tanpa khawatir akan menabrak mobil-mobil yang lalu lalang.
Saat hampir tiba di lokasi, Lukas semakin fokus menatap sekitar. Ia tak mau melewatkan apapun. Lukas menghafal apa saja yang ada di sekitar sana.
Dan tak lama, keduanya sampai di titik lokasi. Lukas dan Erik melihat seorang pria tengah memukul-mukul sebuah mobil dengan balok kayu.
Pria itu memukulnya dengan penuh emosi. Lukas lebih memperhatikan dengan seksama. Ia sadar, di dalam mobil itu pasti ada Tamara.
Erik yang juga menyadari hal itu segera membunyikan klakson mobil untuk menghentikan aktivitas Richard.
Dan benar saja, Richard berhenti dan menoleh ke arah mereka.
"Tuan muda, saya akan atasi pria itu. Tuan muda bisa membawa nona dengan mobil ini," pinta Erik.
Lukas mengangguk setuju.
Erik pun menghentikan mobilnya tepat di samping Richard.
Lukas keluar terlebih dahulu, dan di susul Erik setelahnya.
"Kau kah orang yang bernama Richard itu?" Tanya Lukas dengan nada sinis.
"Kau hebat, bisa menemukanku di sini," Richard berjalan mendekat ke arah Lukas.
"Tentu saja, itu semua berkat anak buahmu yang bodoh itu," jawab Lukas.
Richard menyeringai. Ia berjalan semakin dekat dengan Lukas dan bersiap menghajar Lukas dengan balok kayu. Namun Erik dengan cepat menyerang Richard terlebih dahulu.
Richard sudah mengayunkan balok kayunya.
Bugh...
Balok kayu mengenai lengan Erik, ia menangkis serangan Richard dengan lengannya. Dan secepat kilat Erik menarik balok kayu dan mendorongnya ke tubuh Richard.
Richard hampir goyah, namun ia segera mengontrol dirinya agar tidak terjatuh.
"Cih, kau hebat juga," Richard menyeringai menatap Erik.
"Ku rasa, kau salah memilih lawan," ucap Erik.
"Oh ya?" Richard menatap Erik dengan sinis nya. Ia terlalu menganggap remeh Erik yang dimatanya hanya seorang pengawal.
__ADS_1
"Jika kau bermain-main dengan tuan muda dan nona, maka kau harus berhadapan denganku!" Erik menatap tajam pada Richard. Ia tak main-main, apapun akan ia lakukan demi menjaga tuan muda dan nona nya.
"Owh, jadi kau ingin lebih dulu jadi bahan mainanku?" Richard mau basa basi, ia segera meluncurkan serangan pada Erik yang sudah menghalangi jalannya.
Serangan demi serangan Richard berikan pada Erik, namun semua itu dengan mudah dapat ditangkis oleh Erik. Baginya, Richard bukanlah lawan yang sepadan. Ditambah usia Richard yang sudah mulai menua, membuatnya lebih percaya diri untuk mengalahkan Richard.
Namun tak seperti yang Erik duga, meski Richard sudah mulai menua. Tapi Richard masih sangat lincah dan kuat. Serangan bertubi-tubi yang Richard berikan pada Erik, membuat Erik sedikit kelelahan.
Melihat Erik yang berusaha untuk menghalau Richard. Pras segera membuka pintu mobil dan memberi tanda pada Lukas bahwa mereka ada di sana.
Melihat itu tentunya membuat Lukas bergegas menghampiri mereka. Betapa leganya hati Tamara melihat kehadiran Lukas di sana.
Lukas akhirnya menemukan Tamara.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Lukas penuh kekhawatiran.
Tamara mengangguk dengan air mata yang terus berderai.
"Kau baik-baik saja Pras?" Lukas juga mengkhawatirkan kondisi Pras yang terlihat babak belur.
Pras mengangguk sambil tersenyum.
Lalu perhatian Lukas tertuju pada pria yang duduk di samping Tamara.
"Bukankah itu Jake?" Batin Lukas, namun ia tak mengatakan apapun.
"Sayang, ayo cepat kita pergi dari sini! Kita harus cepat bawa mereka berdua ke rumah sakit," pinta Tamara.
Lukas mengangguk. Melihat kondisi Pras yang terluka cukup parah, Pras memintanya untuk segera naik ke punggungnya.
"Ayo cepat naik!" Perintah Lukas.
"Tapi tuan muda..." Pras ragu-ragu, ia merasa segan jika harus digendong oleh majikannya.
"Cepatlah! Kita tak punya banyak waktu!" Lukas bersuara sedikit keras agar Pras mau menurutinya.
"Ayo kak, cepat!" Tamara juga meminta Pras untuk segera naik ke punggung Lukas.
Karena desakan dari kedua majikannya, Pras pun menurut. Ia dengan berat hati naik ke punggung Lukas.
Setelah Pras menaiki punggung Lukas, Lukas bergegas menuju mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan mendudukkan Pras di sana.
Saat Lukas membawa Pras, Tamara membantu Jake untuk keluar dari dalam mobil.
"Ayo Jake, aku tak bisa meninggalkanmu di sini," ucap Tamara.
__ADS_1
"Kenapa dia harus ikut juga?" Suara Lukas yang sudah kembali mengejutkan Tamara.