Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Mendapatkan Undangan Pesta


__ADS_3

Setelah kepulanganku dari Amerika beberapa bulan yang lalu dan mendapatkan informasi tentang yang sebenarnya terjadi tapi aku kembali berkuliah seperti biasanya.


Kedua kakakku yang mengatur semuanya dan aku hanya fokus ke kuliahku saja. Karena tahun ini adalah tahun terakhir aku berkuliah dan tahun ini aku akan lulus makanya aku fokus ke kuliahku.


"Putri... Putri.." panggil Leni dan Bela di sebelahku.


"Eeh ... Mmm ya ada apa?" tanyaku terkejut.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Ya aku baik-baik saja, hanya sedikit melamun tadi."


"Jangan dipikirkan masalah ujian akhir itu. Kamu pintar Putri jangan khawatir." gumam Leni menepuk bahuku pelan. "Aku tidak memikirkan itu astaga. Aku hanya memikirkan apa yang telah terjadi setelah semuanya di tangani kedua kakakku itu, apalagi kakakku orang yang sangat kejam dan lebih kejam dari padaku.." desahku menatap matahari yang berada di atas kami


Putra dan Patra adalah pemilik asli mafia penguasa tapi mereka tidak ingin memimpin mafia penguasa dan menyerahkan ketua kepadaku dan mereka memiliki mafia rahasia dan mereka berdua adalah ketua mafia rahasia di seluruh dunia yang sangat ditakuti oleh seluruh mafia, anggota mafia rahasia milik mereka saja sangat kuat bahkan lebih kuat dari pada mafia tertinggi dan lebih kuat dari pada aku sendiri.


"Dari pada kamu mengkhawatirkan itu, mending kita istirahat di kantin." gumam Bela menarikku keluar kelas.


"Eee... Ta... Tapi... Hmm ya sudah lah.." desahku mengalah, aku mengikuti langkah kaki Bela dan Leni di depanku


Di kantin terlihat banyak teman-teman dari berbagai jurusan memenuhi kantin, aku dan Leni duduk di kursi yang masih tersedia sedangkan Bela memesankan makanan untuk kami.


Sambil menunggu Bela aku menatap disekitarku, tapi saat aku menatap di suatu pojok aku melihat bayangan Awan Viu dan juga beberapa kali aku berlari mengejar bayangan itu tapi selalu tidak menemukan. Bahkan saat aku akan kembali mengejar Leni menggenggam tanganku dan menatapku bingung.


"Putri, siapa yang kamu cari sebenarnya?"


"Aku... Aku melihat seseorang Leni!"


"Siapa?"


"Seseorang yang aku kenal, tapi saat aku mencarinya bayangan itu hilang." desahku pelan.


"Bayangan? Hahaha banyak orang disini Putri, dan kamu tidak mengenal orang lain selain kelas kita, paling itu hanya imajinasimu saja." gumam Leni menggelengkan kepalanya.


"Ta... Tapi... Hmmm ya mungkin saja." desahku pelan dan kembali terduduk di kursiku. "Apa sih yang aku pikirkan!!" gerutuku kesal dalam hati.


"Ada apa kalian berdua?" tanya Bela berdiri di sebelahku.


"Eeee... Tidak ada kok." gumam Leni tertawa pelan.

__ADS_1


"Ini makanan kalian, makanlah!" ucap Bela menaruh beberapa makanan di atas meja.


"Terimakasih." gumam Leni melahap makanannya. Aku tanpa berkata apapun hanya memainkan makananku dengan garpu.


"Putri ... Makanlah!"


"Aku, tidak berselera."


"Kenapa? Apa kamu sakit?"


"Tidak, aku hanya tidak berselera aja."


"Makanlah walaupun dikit Putri!" protes Bela kesal


"Hmmm baik-baik!" desahku mengalah dan memakannya.


Kalau masalah makan Bela paling cerewet menyuruhku makan yang banyak, katanya kalau aku pengen punya seorang pacar harus banyak makan, apalagi aku bertubuh kurus kering. Disaat aku makan, dua bawahanku Caca dan Cici datang kepadaku. Semenjak pindah dari China Caca dan Cici juga, aku pindah universitasnya agar mereka langsung dapat meneruskan kuliahnya tanpa mengembalikan mereka ke jurusan awal.


"Nona muda.."


"Ada apa?" gumamku meletakkan kembali sendok dan garpuku.


"Surat?" gumamku mengambil surat itu. Aku membaca surat itu dan ternyata surat itu berisi undangan pesta.


"Jangan bilang aku tidak di undang lagi?" gumamku ingin menyobek surat itu tapi Cici langsung menghentikanku.


"Eeh jangan nona muda, nanti nona gak bisa masuk ke dalam!"


"Oh kenapa gak bilang." desahku memasukkannya ke dalam saku pakaianku.


"Makasih ya." gumamku tersenyum.


"Baik nona muda." ucap Caca dan Cici berjalan pergi.


"Ada apa Putri?" tanya Leni dan Bela bingung.


"Ee.. Mmm tidak ada apa-apa kok."


"Oh ya kan besok hari ujian kita kan, nah besok malamnya akan ada pesta perpisahan setelah pengumuman kelulusan. Kamu hadir ya Putri!" gumam Leni tersenyum.

__ADS_1


"Oh pesta ya, baiklah!" desahku mencoba tersenyum.


"Habiskan dulu makananmu sebelum masuk lagi!"


"Ya, baiklah.." desahku menghabiskan makananku dengan cepat


Setelah aku menghabiskan makananku, aku dan dua teman baikku kembali ke dalam kelas dan pelajaran selanjutnyapun di mulai, aku membuka kembali kertas surat itu dan kembali membacanya.


"Pesta tertinggi ya? Kenapa aku tidak diundang?" gumamku pelan. Aku mengangkat kertas itu dan menemukan ada catatan kecil yang berada di tengah surat itu. Aku membuka dua kertas yang tertempel itu dari samping dan membacanya.


"Putri, ini adalah pesta tertinggi yang di adakan seluruh mafia tertinggi. Beberapa hari lagi adalah tepat dua tahun kematian keluargamu, sama seperti kejadian sebelumnya kalau saat pesta itu akan ada pembunuhan, sepertinya target pembunuhan ini adalah kamu dan kedua kakakmu tapi aku tidak bisa membuktikan kebenaramnya. Dan di pesta itu nantinya akan hadir mafia pemberontak jadi berhati-hatilah. San..." gumamku membaca surat itu


"Ohh begitu ya, kalau dari perkataan San ini. Aku jadi target, tapi kalau memang aku targetnya baguslah.." gumamku memfoto surat itu dan mengirimkannya kepada kedua kakakku. Dengan cepat kedua kakakku membalas surat itu.


"Ya kami tahu. Tapi hanya kamu yang tidak diundang sepertinya adikku, karena kami diundang. Kalau San bilang seperti itu, kamu harus berhati-hati." gumamku membaca pesan teks Putra.


Kriiiinnngggg.


Terdengar suara bel pulang kuliah yang terdengar sangat keras, aku menatap matahari yang akan terbenam dari jendela. Leni dan Bela mengajak pulang bersama tapi aku menolaknya jadi di kelas hanya tertinggal aku seorang saja.


Aku merapikan bukuku dan naik ke atas atap gedung perkuliahan ini. Aku mengumpulkan bawahanku dan menyuruh mereka waspada dan melihat situasi saat aku masuk ke dalam pesta itu. Dan saat mereka mengerti aku menyuruh mereka untuk kembali sedangkan aku.. Aku terus menatap matahari di depanku.


"Apa itu membuatmu kepikiran Putri?"


"Ya, aku berpikir. Pasti aku akan mati kak Han."


"Kamu jangan berfikir aneh-aneh, sepertinya San memberimu undangan itu agar kamu terhindar dari pembunuhan itu."


"Ya aku tahu, tapi disana ada mafia pemberontak kak. Datang pasti terbunuh enggak datang pasti akan terbunuh juga."


"Hmmm kamu jangan berfikir aneh-aneh adikku. Ada kami yang akan melindungimu!" gumam Han mengusap lembut rambutku


"Ya kak Han, terimakasih." desahku tersenyum.


"Ya udah pulanglah sebelum matahari terbenam. Aku juga harus belajar Putri besok ujian akhir, kamu juga belajar ya!" gumam Han pergi meninggalkanku.


"Hmmm ya aku tahu.." desahku pelan.


Matahari bersinar terang di ufuk barat pertanda hari ini akan berakhir. Aku menatap ke bawah gedung dan melihat banyak mobil yang berlalu lalang di bawah gedung perkuliahan, karena lokasi gedung dekat berada di pinggir jalan membuatku bisa melihat keadaan di jalanan.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang ya mungkin ini hari hari terakhir aku menghirup udara dunia. Tidak tahu kenapa aku memiliki feeling kalau aku yang akan mati entah di tangan mafia pemberontak atau di tangan pembunuh keluargaku atau bahkan di tangan Khan sendiri. Kalau aku bertemu Khan dan Khan adalah musuh aku tidak bisa melakukan apapun karena dia bisa mengendalikan tubuhku sedangkan Kak Awan, aku pasti akan mati juga kalau aku bertarung dengannya apalagi dia lebih kuat dariku. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada pastinya aku akan mati juga, kalau memang seperti itu ya sudahlah aku hanya pasrah melakukan sesuai kemampuanku saja lah.


__ADS_2