Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 97


__ADS_3

Pagi hari, Tamara bangun lebih dulu. Ia sengaja membiarkan Lukas beristirahat lebih lama. Tamara tau, suaminya itu pasti sedang merasa lelah.


"Hari ini akan aku ceritakan apa yang pernah Jake katakan padaku," batin Tamara.


Karena sudah lama rasanya tak membuat sarapan pagi untuk suami tercinta. Pagi itu, setelah mandi pagi, Tamara bergegas menuju dapur. Dengan semangat ia mencari bahan-bahan di dalam kulkas.


Tamara berencana memasak makanan simpel untuk ia suguhkan pada suami tercinta.


Namun betapa terkejutnya Tamara, saat melihat isi kulkas yang sudah tak lagi penuh. Benar, satu minggu ini ia memang tidak meminta Rima dan Asti untuk berbelanja.


"Nona sedang mencari apa?" Terdengar suara Rima dari arah belakang.


Tamara menoleh dengan muka masam.


"Kak, aku lupa kalau satu minggu ini kita gak belanja ya?"


"Iya non, waktu itu kan nona bilang kita pakai saja bahan yang ada untuk makan karena tuan muda sedang tidak ada," jawab Rima.


"Iya ya, tapi pagi ini aku mau buatkan sarapan untuk Lukas. Tapi kita tidak punya apa-apa di kulkas," gerutu Tamara.


"Tidak usah khawatir nona, saya akan membelikan bahan makanan di pasar terdekat," usul Rima.


"Kalau begitu aku ikut," Tamara dengan antusias ingin ikut juga pergi ke pasar.


"Tapi nona, nanti kalau tuan muda bangun bagaimana?" Rima merasa kurang setuju jika majikannya ini harus ikut ke pasar bersamanya.


"Kita tak usah lama-lama, aku ingin memilih sendiri bahan makanan yang terbaik untuk Lukas. Ayolah kak, sekarang saja kita berangkat," Tamara menarik tangan Rima agar bergegas pergi.


"Tapi nona..." Rima sudah tak bisa menolak keinginan majikannya lagi. Mau tak mau, ia terpaksa menuruti keinginan Tamara yang ingin ikut ke pasar bersamanya.

__ADS_1


"Kita naik motor saja biar cepat," usul Tamara.


Rima menurut, ia memakai motor matic milik Erik yang sudah standby di luar.


"Kak Erik, aku pinjam motornya ya!" Teriak Tamara.


Erik yang baru saja mandi dan tengah mengeringkan rambut setengah bingung, melihat Rima yang dipaksa untuk segera mengendarai motor milik Erik oleh Tamara.


Dalam hitungan detik, mereka pun sudah pergi meninggalkan Erik yang masih diam mematung melihat kepergian nonanya.


Sesaat kemudian, Erik pun tersadar. Ia bergegas melempar handuk yang dipegangnya, dan segera berlari menuju garasi, mengambil motor lainnya yang ada di sana.


"Mau kemana mereka?" Batin Erik. Ia menyusul ke arah gerbang komplek perumahan dengan kecepatan penuh.


Namun secepat apapun Erik mengendarai motornya, ia tak dapat menemukan Tamara dan Rima.


"Kemana mereka?" Erik melirik ke kanan dan ke kiri. Namun tak juga menemukan keduanya. Kali ini Erik memperlambat laju kendaraannya, khawatir ia telah mendahului keduanya karena terlalu ngebut.


"Cepat sekali mereka," gerutunya dalam hati.


Di sisi lain, Tamara dan Rima sudah sampai di pasar tempat tujuan mereka. Pasar yang letaknya berada di belakang komplek perumahan. Tadi saat keluar dari rumah, Rima memilih jalan memotong melalui gerbang belakang komplek agar lebih cepat sampai. Karena itulah, Erik tak dapat menemui mereka karena ia memilih jalan yang berbeda.


"Kamu tunggu di motor aja ya, aku gak lama kok. Cuma mau pilih beberapa bahan aja," ucap Tamara pada Rima sambil masuk ke sebuah kios.


Rima hanya mengangguk, tapi ia sudah memarkirkan motornya tak jauh dari kios tempat Tamara membeli bahan makanan. Tanpa sepengetahuan Tamara, Rima diam-diam ikut masuk ke dalam kios.


Tentu saja ia tak bisa membiarkan majikannya begitu saja seorang diri di tempat umum. Ditambah kondisi pasar saat itu sedang ramai, dan kios tempat Tamara berbelanja juga cukup dipadati oleh beberapa orang.


Tamara sudah memilih beberapa bahan makanan yang ia perlukan. Hanya tinggal menunggu si pedagang menghitung total belanjaannya. Rima juga ikut memantau tak jauh dari tempat Tamara berdiri.

__ADS_1


Namun, tanpa mereka ketahui. Seseorang mendekati mereka diam-diam. Seorang pria yang memakai pakaian serba hitam, masker, dan juga topi dengan warna yang sama.


Di tengah keramaian orang yang berlalu-lalang di sekitar kios, pria itu mendekati Rima yang tengah fokus pada majikannya. Sambil berjalan dengan cepat masuk ke dalam kios, pria itu menabrakkan diri ke arah Rima.


Rima yang sigap, segera menoleh ke arah orang yang menabraknya. Seolah tak sengaja, pria itu membungkuk meminta maaf, lalu kembali masuk ke dalam kios. Perhatian Rima teralih sepersekian detik, ia dengan gerakan kilat segera kembali fokus pada Tamara.


Untungnya Tamara masih sibuk dengan pedagang yang sedang memasukkan barang belanjaan Tamara ke dalam kantong plastik.


"Aaaaa..." Seseorang berteriak tepat di hadapan Rima. Rima bingung melihat seorang wanita berteriak sambil menatapnya dengan histeris.


"Ya ampun, mba... Kamu berdarah!" Ucap seorang pria sambil menunjuk perut Rima.


Rima dengan cepat melihat ke arah perutnya. Dan benar saja, ada banyak darah yang mengalir di perutnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari pria yang menabraknya tadi, namun pria itu sudah tidak ada.


Seketika Rima langsung dikerumuni oleh banyak orang, hingga membuatnya kehilangan pandangan pada Tamara. Majikannya itu pun tak terlihat menghampirinya, padahal Rima yakin Tamara juga pasti mendengar ada teriakan di sana.


Semua orang yang ada si sekitar Rima panik, ada yang berusaha menutupi luka di perut Rima. Ada juga yang berusaha menghubungi ambulance. Tak sedikit juga yang hanya menonton dan bertanya-tanya bagaimana bisa ada seseorang terluka di perutnya.


Di tengah banyaknya orang-orang yang mengerumuninya, Rima berusaha keluar dari dalam kerumunan. Matanya sibuk mencari keberadaan Tamara.


"Mba, duduk aja... Jangan jalan-jalan nanti darahnya tambah banyak yang keluar," ucap seorang ibu sambil memegangi tangan Rima.


"Saya gak apa-apa bu, saya mau cari seseorang," ucap Rima sopan sambil melepas pegangan tangan ibu tersebut. Dengan sigap, Rima keluar dari dalam kerumunan dan bergegas mencari keberadaan Tamara.


Saat itu ia sudah tau, pasti ada yang tidak beres. Seseorang pasti sengaja menusuknya agar bisa membawa Tamara. Sesaat ia menyesali keputusannya, membiarkan Tamara ikut ke pasar bersamanya.


Semua orang di pasar saling berbisik menatap Rima dengan heran. Bagaimana bisa seseorang dengan luka di perutnya tapi ia terlihat baik-baik saja?


"Apa ini sebuah prank?" Bisik seseorang.

__ADS_1


"Mungkin saja, apa ada stasiun televisi yang sedang meliput acara ini?" Bisik yang lainnya. Sebagian dari mereka sibuk melihat ke sana kemari mencari kamera tersembunyi.


Tapi sebagian lainnya tak percaya, mereka ketakutan bisa jadi ada orang gila yang memang sedang mengincar untuk membunuh seseorang di sana.


__ADS_2