Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 56


__ADS_3

Dini hari, Tamara merasa badannya terasa panas. Mungkin karena semalaman ini ia tidur tidak menggunakan baju di ruangan ber AC.


Meski Lukas sudah memeluknya saat baru mulai tidur, namun tetap saja Tamara merasa kedinginan. Karena beberapa kali Lukas melepas pelukannya dan selimut yang mereka pakai juga sering kali tersingkap.


Tamara menyelimuti tubuhnya dan menggigil kedinginan.


Lukas yang masih tertidur, tiba-tiba terbangun karena merasakan tubuh Tamara yang terus gemetaran.


"Kamu kenapa?"


"Dingin..."


"Sini, biar aku peluk," Lukas menggeser tubuhnya dan menarik Tamara ke dalam pelukannya.


Namun betapa terkejutnya Lukas saat merasakan tubuh Tamara yang panas.


"Kamu sakit?"


Tamara tak menjawab, tubuhnya semakin gemetar karena kedinginan.


Lukas yang panik tentu saja langsung bangun dari tidurnya, ia memegang kening Tamara yang memang sedang bersuhu sangat panas saat ini.


"Gawat..." Lukas berlari ke lemarinya dan mengambil satu kaos dan celana training. Dengan sigap Lukas memakaikannya untuk Tamara. Tak lupa ia juga memakaikan jaket di tubuh Tamara.


"Masih dingin?"


Tamara mengangguk.


Lukas mencari remot AC dan langsung mematikan AC nya.


"Kamu tidak terbiasa tidur dengan AC?"


Tamara lagi-lagi mengangguk.


"Maaf, kalau tau begitu aku tak akan membiarkan kamu tidur tanpa pakaian semalam," Lukas menyesali perbuatan isengnya yang mengakibatkan Tamara harus sakit sekarang.


Lukas melihat keluar jendela, dan di luar masih gelap.


"Kamu mau tidur lagi?"


Tamara mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita tidur lagi," ajak Lukas.


Lukas memeluk tubuh Tamara dengan erat, ia takut jika sampai Tamara sakit karena dirinya.


Waktu berlalu, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Namun Lukas masih terjaga sambil memeluk Tamara.


Meski tubuhnya terasa gerah karena AC yang dimatikan, namun Lukas berusaha menahannya. Berkali-kali ia mengecek kondisi tubuh Tamara dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Tamara.


Lukas merasa bersyukur, pagi ini suhu tubuh Tamara sudah kembali normal.


"Syukurlah, dia baik-baik saja," Lukas memandangi Tamara yang terlelap dalam pelukannya.


Perlahan ia melepaskan pelukannya, agar Tamara tak terbangun. Lagi-lagi Lukas mengirim pesan kepada kepala pelayan agar membawa sarapannya ke dalam kamar.


Ia juga meminta dibuatkan bubur untuk Tamara, dan segelas teh hangat. Setelah selesai mengirim pesan, Lukas beranjak menuju jendela di kamarnya.


Ia sedikit membuka jendela, dan mengecek suhu di luar. Ternyata pagi itu cuaca sudah mulai hangat, Lukas pun baru berani membuka lebar-lebar jendelanya.

__ADS_1


"Lukas..." Terdengar suara Tamara memanggilnya.


"Iya sayang, ada apa?" Lukas berlari kembali ke tempat tidur menghampiri Tamara yang ternyata sudah bangun.


"Aku haus," ucap Tamara lirih.


"Baiklah, tunggu sebentar," Lukas mengambil air minum yang memang tersedia di dalam kamarnya.


"Ini, minumlah perlahan," Lukas memberikan segelas air pada Tamara.


Tamara pun menerimanya dan meminumnya dengan cepat. Tak lama, segelas air putih sudah habis di tangan Tamara.


"Kamu sudah tidak apa-apa?" Tanya Lukas panik.


"Aku baik-baik saja," jawan Tamara.


"Tapi tadi sekitar jam dua, kamu menggigil dan tubuhmu demam tinggi," ucap Lukas masih dengan nada yang masih merasa khawatir.


"Iya, tadi aku memang merasa sangat kedinginan. Tapi sekarang sudah tidak lagi," balas Tamara.


"Syukurlah, aku khawatir kalau sampai kamu kenapa-kenapa," Lukas bisa bernafas lega kini.


Tak lama, pelayan pun datang membawakan sarapan pagi untuk Lukas dan Tamara. Pelayan membawakan sesuai dengan pesanan Lukas.


"Sekarang kamu makan dulu ya, sini biar aku suapi," pagi ini Lukas kembali bersikeras ingin menyuapi Tamara makan.


Meski merasa tubuhnya sudah baik-baik saja, namun Tamara tak menolaknya. Ia malah sangat senang karena diperlakukan sangat istimewa oleh Lukas.


"Maaf, gara-gara aku kamu jadi kedinginan semalam," Lukas menyesali perbuatannya.


"Makanya, kalau nyuruh aku tidur gak pake baju. Ya pelukannya jangan di lepas dong, aku kan jadi kedinginan," gerutu Tamara.


Tamara tersenyum melihat Lukas yang seperti ini. Seperti bukan Lukas yang ia tau. Mungkinkah Lukas sudah merubah sikapnya karena Tamara sudah memberikan tubuhnya?


"Tidak apa, lagi pula aku kan sudah baik-baik saja sekarang," Tamara berusaha menenangkan Lukas.


"Benar kamu sudah tidak apa-apa sekarang?"


"Iya, sini biar aku makan sendiri. Dan kamu juga makan sarapan mu dulu," Tamara mengambil mangkok berisi bubur di tangan Lukas.


Lukas pun menurut, ia membiarkan Tamara memakan sendiri sarapannya. Sedangkan Lukas juga ikut menyantap sarapan untuk dirinya.


Selesai sarapan, Tamara mengajak Lukas untuk keluar kamar.


"Gak mau mandi dulu?"


"Oh iya, kita belum mandi ya?"


"Mau mandi sama-sama?" Ajak Lukas.


"Ih... Gak ah, aku mandi duluan ya," Tamara pun beranjak menuju kamar mandi.


"Jangan lama-lama, nanti kamu demam lagi," teriak Lukas.


"Iya," sahut Tamara.


Sambil menunggu Tamara selesai mandi, Lukas berinisiatif untuk pergi ke kamar orang tuanya. Ia berniat untuk meminjam baju Vanesa untuk Tamara.


"Keluar juga kamu akhirnya, kenapa sarapan pake di kamar segala?" Protes Vanesa.

__ADS_1


"Tamara sakit mah," jawab Lukas.


"Apa? Sakit? Kamu apain dia sampai sakit?"


"Hehe, dia semalam tidur gak pake baju mah," jawab Lukas.


Plak...


"Aw, sakit mah," Lukas meringis kesakitan karena Vanesa memukul lengan Lukas dengan sangat keras.


"Kamu ini ya, kenapa Tamara sampai gak kamu pakein baju?"


"Lupa bawa baju ganti mah," Lukas masih meringis kesakitan.


"Kenapa gak bilang sama mamah?"


"Ya ini mau bilang," protes Lukas.


"Kamu ini, awas kalau sampai menantu mamah kenapa-kenapa. Kamu mamah coret dari daftar ahli waris," ancam Vanesa.


"Ya, mah... Jangan dong, nanti kalau aku jadi miskin kan kasihan Tamara. Masa dia harus menjalani hidup yang sulit selama jadi istriku sih?"


"Makanya, kamu harus lebih perhatian sama Tamara. Jangan nurutin nafsu terus."


"Iya mah, iya... Aku minta maaf. Terus mana baju buat Tamara?"


"Tunggu sebentar, biar mamah ambilkan," Vanesa berjalan menuju lemari pakaiannya. Sebelumnya ia memang sudah membeli beberapa pakaian untuk Tamara. Namun belum sempat ia memberikannya.


"Pakaian dalamnya jangan lupa mah."


"Iya..."


"Oh iya, aku kok gak liat papah. Lagi ada dimana papah sekarang?"


"Papah masih di luar kota, pekerjaan kita itu sebenarnya masih banyak. Tapi karena mamah dengar kamu datang ke sini, makanya mamah langsung buru-buru pulang. Tapi kamu malah mengurung diri aja di kamar."


"Ya maklumlah mah, namanya juga pengantin baru..."


"Mmm... Emang gak puas apa kalian selama bulan madu?" Cibir Vanesa.


"Hehe, belum mah..."


"Mau nambah lagi bulan madunya?"


"Boleh mah," Lukas nampak sangat bersemangat.


"Ye... Kamu ini, lusa itu kamu harus sudah masuk kerja. Lain kali saja mamah carikan waktu dan tempat untuk kalian bulan madu lagi."


"Hehe, makasih mah," entah apa yang terjadi pada diri Lukas. Sejak tadi malam, Lukas merasa tak ingin jauh dari Tamara. Ia juga merasa khawatir pada Tamara.


Apa ini artinya ia sudah mulai menyukai Tamara?


"Ini, berikan pada istrimu. Lain kali, mamah akan belikan yang model lain. Nanti akan mamah taruh di lemari bajumu."


"Makasih mah, aku balik ke kamar dulu ya!"


"Iya, kalau istrimu masih sakit suruh saja dia istirahat. Nanti makan siang biar mamah yang antar ke kamar."


"Oke mah," Lukas pun pergi meninggalkan Vanesa di kamarnya.

__ADS_1


Pagi ini, Lukas merasa sangat senang. Entah mengapa, menjalani peran sebagai suami yang baik ternyata menyenangkan juga.


__ADS_2