Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 68


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan sang papah mertua, Tamara menjalani masa awal kehamilan selama beberapa hari pertama di dalam ruang perawatan rumah sakit karena harus menemani Leonard yang masih dalam masa perawatan pasca operasi kepalanya beberapa hari yang lalu.


Setelah ia mengetahui kabar kehamilannya, Tamara sama sekali tidak memberi tau kepada siapapun termasuk kepada Lukas dan kakeknya. Ia masih ragu dengan perasaan Lukas terhadapnya, dan masih belum siap jika Lukas tiba-tiba marah padanya karena ternyata ia mengandung benih dari Lukas.


Beruntung Tamara tak mengalami mabuk saat awal-awal kehamilan, sepertinya janin dalam kandungannya mengerti bahwa saat ini mereka sedang menjaga sang kakek di rumah sakit.


Tamara juga rutin mengkonsumi vitamin yang diberikan oleh dokter. Ditambah para perawat yang juga menjaga Leonard ikut memperhatikan apa yang Tamara konsumsi sesuai dengan perintah Leonard.


Tamara jadi bisa menjalani masa-masa awal kehamilannya dengan mudah, hingga tak terasa kini waktunya Leonard sudah diperbolehkan pulang.


Selama Leonard dirawat, keluarganya hanya datang sesekali untuk menjenguknya dan menunggunya saat operasi sedang berlangsung. Itu pun hanya Vanesa dan Dominic, sedangkan Lukas sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.


Tamara merasa cemas karena tak bisa bertemu dengan suaminya, namun selama ini Leonard selalu menenangkannya dan mengatakannya bahwa Lukas pasti sedang sibuk-sibuknya.


Menurut kabar terakhir yang mereka dengar, Lukas sudah berhasil mendapatkan proyek besar itu. Dan kini saatnya ia merealisasikan proyek besar yang dimaksud.


Leonard bilang, saat ini adalah masa-masa sibuknya Lukas yang tugasnya adalah bertanggung jawab atas berjalannya proyek. Lukas akan mengawasi pekerjaan bawahannya agar proyek bisa selesai tepat waktu dan sesuai dengan yang diharapkan.


Siang itu, Tamara mendorong Leonard yang duduk di kursi roda. Di bantu oleh seorang perawat yang sudah disewa oleh Leonard untuk ikut pulang juga ke rumah.


Bahkan saat Leonard pulang pun, tak ada satu keluarganya pun yang datang menjemput. Hanya seorang supir dan juga kepala pelayan yang datang menjemput.


Mereka berlima pulang langsung ke kediaman Dominic yang berada di pusat ibu kota. Sepanjang perjalanan, Leonard hanya tertidur karena efek obat yang diberikan oleh dokter.


Tamara pun ikut tertidur, karena memang ia merasa bahwa tubuhnya jadi semakin mudah lelah saat ini.


Tak terasa mereka akhirnya tiba juga di ibu kota. Leonard saat itu sudah terbangun, ia membangunkan menantunya karena sebentar lagi mereka akan tiba di rumah.


"Tamara, bangunlah. Kita sudah mau sampai," Leonard membangunkan Tamara yang tertidur di sebelahnya.


Tamara meregangkan badannya dan melihat keluar jendela. Benar saja, mereka bahkan hampir tiba dikediaman Dominic.


"Untuk saat ini, sebaiknya kamu tinggal di rumah kami ya. Papah khawatir kalau kamu sendirian di rumah," ucap Leonard.


Tamara mengerti betapa khawatirnya Leonard pada dirinya, tapi ia juga sudah sangat merindukan rumah yang sudah dua minggu ini ia tinggalkan.

__ADS_1


Meski begitu Tamara tak berani protes, ia hanya menuruti perkataan papah mertuanya.


Sampai di kediaman Dominic, mereka semua disambut oleh beberapa pelayan yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.


Tamara pun diminta untuk langsung istirahat di kamar Lukas.


"Karena sekarang di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, jadi nanti kamu makan di kamarmu saja ya," ucap Leonard.


Lagi-lagi Tamara hanya menurut perkataan Leonard. Setelah bersama dengan papah mertuanya selama dua minggu terakhir, Tamara jadi semakin dekat dengan Leonard.


Tamara merasa Leonard adalah sosok ayah yang ideal, ia membayangkan ayahnya dulu juga seperti Leonard saat ini.


"Jika ayahku masih hidup, dia juga pasti akan sama perhatiannya dengan papah saat ini. Beruntungnya Lukas, ia masih memiliki kedua orang tua yang lengkap," gumam Tamara saat ia hanya tinggal seorang diri di dalam kamar.


Tamara mengecek ponselnya, hari ini juga ia belum mendapatkan kabar dari Lukas. Sejak dua minggu terakhir, Lukas jarang menghubunginya. Tamara bahkan sempat berpikir kalau Lukas pasti lupa bahwa ia sudah memiliki istri.


"Apa aku harus menghubungi nya duluan?" Tamara ingin menghubungi Lukas lebih dulu, hanya saja ia takut kalau justru akan mengganggu pekerjaan Lukas saja.


"Hahhh... Apa dia tidak merindukan aku? Aku bahkan hampir gila karena sangat merindukannya."


Tamara memandang foto Lukas yang ada di ponselnya, saat itu ia ingat pernah mengambil foto Lukas diam-diam.



Selama ini Tamara hanya bisa memendam perasaannya karena tak enak jika harus menangis di depan Leonard. Meski terkadang, diam-diam ia sering menangis di dalam kamar mandi.


Tamara amat sangat merindukan Lukas saat ini, dalam keheningan Tamara menangis sesenggukan.


Bagaimana ia tidak rindu dengan Lukas, ia tak pernah bertemu dengan Lukas sejak dua minggu yang lalu. Memberi kabar pun hanya sekilas saja melalui pesan singkat.


Ditambah Tamara sedang berbadan dua kini, perasaannya yang sensitif semakin membuatnya merindukan Lukas.


Kemarin-kemarin, selalu ada Leonard atau perawat yang menemaninya. Sehingga Tamara tak merasa kesepian. Namun kini, Tamara benar-benar seorang diri di kamar Lukas.


Sambil memeluk guling, Tamara terus menangis. Hingga tak terasa matanya mulai mengantuk, dan akhirnya Tamara pun tertidur.

__ADS_1


Dalam mimpinya, Tamara bermimpi bertemu dengan Lukas. Namun di dalam mimpi itu, Lukas malah berpaling meninggalkannya. Ia pergi entah kemana, dan tidak tau bersama siapa?


Tamara pun tersentak saat terbangun, keringatnya mengalir dengan deras. Mimpi itu terasa begitu nyata.


"Apa ini? Apa benar Lukas sudah meninggalkan aku?" Tamara memegang perutnya. Ada perasaan takut di dalam hatinya, namun Tamara berusaha menepisnya.


"Tidak mungkin, Lukas saat ini sedang bekerja keras. Dan lagi, ia pergi bersama dengan mamah. Lukas tak mungkin berpaling meninggalkan aku. Aku sekarang sedang mengandung anaknya," gumam Tamara.


Ia meyakinkan diri bahwa tadi itu hanyalah bunga tidur yang tak berarti, ia yakin Lukas baik-baik saja saat ini dan pasti Lukas sedang fokus dengan pekerjaannya saat ini hingga tak ada waktu untuk menghubunginya.


Tamara melihat jam di dinding kamar, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia melihat ada nampan berisi makanan di meja samping tempat tidurnya.


Pasti tadi ada pelayan yang masuk ke sini untuk mengantar makanan, Tamara tadi memang tidak mengunci pintu kamar.


Akhirnya Tamara memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ia mencuci muka dan mengganti pakaiannya.


Matanya masih terlihat sembab karena menangis tadi, Tamara memutuskan untuk mengompresnya terlebih dahulu.


Setelah selesai merapihkan dirinya, Tamara kembali ke tempat tidurnya. Ia membuka makanan yang tertutup, dan memakannya dengan lahap.


Memang sejak datang ke rumah, ia belum makan apapun sama sekali. Oleh sebab itu, Tamara merasa sangat lapar saat ini.


Saat tengah asik menyantap makanannya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ada sosok Lukas yang kemudian masuk.


Tamara hanya bisa diam mematung, ia masih berpikir bahwa sosok Lukas yang saat ini adalah ilusinya saja.


"Kamu baru makan?" Tanya Lukas yang melihat Tamara hanya bengong saja melihat kehadiran dirinya.


"Lukas?"


"Iya sayang, ini aku..." Lukas menghampiri Tamara dan duduk di samping Tamara.


Tamara masih terdiam, air matanya mulai menganak di pelupuk mata Tamara.


"Maaf ya, aku kemarin-kemarin tidak memberimu kabar. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan aku," ucap Lukas sambil mengusap lembut rambut Tamara.

__ADS_1


Tamara langsung menangis dan memeluk Lukas dengan erat.


"Aku merindukanmu," tangis Tamara pecah dalam dekapan tubuh Lukas.


__ADS_2