
Pagi hari, Tamara sudah bangun sejak matahari belum menampakkan sinarnya. Hari ini ia merasa sangat bersemangat karena sudah lama Tamara tak menyiapkan sarapan pagi untuk Lukas.
Dengan bahan-bahan seadanya karena ia belum sempat berbelanja, Tamara membuat sarapan sederhana untuk Lukas.
Tadi malam, sebelum tidur, Lukas sempat bilang bahwa ia merindukan masakan Tamara. Selama beberapa minggu di luar, ia tak makan dengan benar.
Lukas merasa masakan di luar sudah tak seenak dulu, semenjak ia sering memakan makanan buatan Tamara. Lukas jadi tak tertarik untuk makan di luar.
"Untuk pagi ini, cukup ini saja. Nanti siang aku akan belanja bahan makanan dulu, supaya bisa memasak berbagai macam makanan untuk Lukas," batin Tamara.
Karena mencium aroma masakan Tamara, Lukas pun terbangun dari tidurnya. Lukas langsung berjalan menuju dapur, ia mencium aroma masakan yang ia rindukan.
Sebenarnya, masakan Tamara biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Namun karena Tamara memasaknya dengan penuh cinta, dan Lukas bisa merasakannya.
"Pagi-pagi sudah masak?" Tanya Lukas yang melihat Tamara tengah sibuk menyiapkan hidangan di meja makan.
"Eh, sayang... Kamu sudah bangun? Sini sarapan dulu, kamu bilang kamu kangen sama masakanku," ucap Tamara dengan senyum manisnya.
Lukas duduk di kursi makan, sambil terus menerus menatap Tamara yang sibuk menyiapkan ini dan itu.
Tak lama, dua porsi hidangan sudah tersedia di meja makan, satu dengan porsi besar dan satunya lagi porsi kecil. Tentu saja porsi besar ini untuk tuan muda Lukas yang sangat doyan makan.
"Ayo makan yang banyak, supaya kamu jangan sakit lagi," pinta Tamara.
"Seharusnya kamu yang makan banyak, kan kamu sedang dalam masa pemulihan."
"Aku tidak bisa makan banyak, bagiku ini sudah cukup. Dan lagi, melihat orang yang kusukai memakan masakanku dengan lahap saja sudah membuatku kenyang."
"Oh ya? Baiklah, lihatlah baik-baik. Betapa lahapnya aku memakan masakanmu," Lukas memasukan suapan besar ke dalam mulutnya.
Tamara tertawa melihat tingkah Lukas. Ia sangat senang karena Lukas seperti biasa, sangat menyukai makanan buatannya.
"Hari ini kita mau kemana?" Tanya Lukas.
"Aku mau beli bahan makanan, kamu mau mengantar ku?"
"Boleh, terus mau kemana lagi?"
"Udah sih itu aja. Oh iya, kamu gak kerja?"
"Engga, aku dikasih cuti satu minggu sama kakek," jawab Lukas dengan riang.
Tamara hanya menggangguk-angguk mendengar jawaban dari Lukas.
"Kamu gak mau pergi kemana gitu?" Tanya Lukas.
"Enggak ah, mau kemana? Lagian kan kakek kasih kamu cuti karena kamu lagi sakit," jawab Tamara.
"Ya gak dong, kakek kasih aku cuti itu buat nemenin kamu. Jadi kamu mau kemana aja, bisa aku temenin."
"Oh ya? Tapi aku gak tau mau kemana? Mending hari ini, sepulang belanja kita diam di rumah aja," usul Tamara.
__ADS_1
"Kamu pasti masih belum pulih ya?"
"Mmm... Sebenarnya sih iya, tapi mungkin besok aku sudah jauh lebih baik."
"Ya sudah, kalau gitu biar aku saja yang cuci piring. Kamu kan sudah capek masak."
"Aku gak capek kok, biar aku saja," Tamara menolak.
"Gak bisa, biar aku saja. Kamu duduk manis di sini ya," pinta Lukas.
Tamara pun menurut, ia membiarkan Lukas mengambil alih tugas mencuci piringnya.
"Memang kamu bisa?" Tanya Tamara ragu.
"Bisa dong," jawab Lukas dengan bangga. Meski memang agak kaku, tapi Lukas bisa menyelesaikan tugas mencuci piringnya dengan baik.
"Selesai," Lukas kembali ke meja makan dimana Tamara tengah menunggunya.
"Sayang, kenapa sih kamu gak mau kalau pakai asisten rumah tangga? Kamu kan jadi capek kalau mengerjakan semuanya sendirian," Tanya Lukas.
"Aku sama sekali gak merasa capek, aku malah senang karena ada sesuatu yang bisa ku kerjakan di rumah ini," jawab Tamara.
"Tapi aku khawatir kamu akan kelelahan," ucap Lukas sambil menggenggam tangan Tamara.
"Kalau aku lelah, aku akan istirahat sebentar dan akan melanjutkannya lagi nanti."
Lukas menatap dalam mata Tamara, ia melihat ada rasa cinta yang besar di sana.
"Tidak, kamu sendiri?"
"Aku juga tidak," jawab Lukas.
"Masa sih? Kamu kan tampan, pasti banyak wanita cantik yang suka sama kamu."
"Kalau itu sih memang banyak, tapi aku tak suka mereka."
"Kenapa?"
"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan teman lamaku. Aku tau dia sudah lama menyukaiku, bahkan saat hari pernikahan kita saja dia tak datang. Selama ini aku tak masalah berteman dengannya meski tau dia menyukaiku, namun beberapa hari yang lalu aku jadi membencinya."
"Kenapa?"
"Entahlah, aku tak suka dengan wanita yang rela memberikan tubuhnya hanya demi mendapatkan hati seorang pria."
Tamara terdiam, ada rasa sakit yang ia rasakan dalam hatinya. Ia tau, Lukas pasti sudah menemui wanita yang ia bilang sahabat lamanya itu, dan pasti wanita itu sudah berani merayu suaminya.
"Apa kamu sering dirayu seperti itu?"
"Pernah beberapa kali, bahkan ada yang rela memperlihatkan seluruh tubuhnya yang polos padaku."
Tamara lagi-lagi terdiam, ia ingat sebelumnya Tamara juga pernah merayu Lukas seperti itu.
__ADS_1
"Aku juga pernah merayu mu kan? Apa kamu merasa benci padaku?"
Lukas terdiam sejenak.
"Kalau dipikir-pikir, kamu merayuku kan karena statusku yang adalah suamimu. Jadi aku tak merasa benci sama sekali, bahkan jujur saja aku bahkan tergoda saat itu," Lukas berusaha mengingat momen bulan madu mereka.
"Oh ya? Jadi saat itu kamu sudah tergoda?" Tamara semakin penasaran.
"Ekhem... Ya begitulah," Lukas akhirnya mengakui ia memang tergoda karena melihat tubuh Tamara yang polos.
Tamara tertawa mendengat jawaban Lukas.
"Jadi, kenapa kamu tergoda padaku sedangkan pada mereka tidak?"
"Kamu kan istriku, sudah sewajarnya seorang istri menggoda suaminya. Sedangkan mereka kan tak punya hubungan apapun denganku, tapi berani-beraninya mereka malah menggodaku," Lukas kesal mengingat setiap peristiwa yang pernah ia alami.
Memang bukan sekali atau dua kali ia mengalami situasi yang sama dengan yang pernah Agnes lakukan padanya. Bahkan yang lebih parah Lukas hampir dibuat tak sadarkan diri dengan memberi obat tidur pada minuman Lukas.
Untung saja saat itu Lukas tak meminumnya, hingga ia bisa selamat dari terkaman wanita liar yang ingin memangsanya.
Tamara menggenggam tangan Lukas erat, dan aksi Tamara itu berhasil meredam rasa kesal Lukas.
"Kamu hebat, biasanya laki-laki akan tergoda dengan wanita yang merayunya seperti itu. Tapi kamu sama sekali tak tertarik dan bahkan membenci mereka," ucap Tamara sambil mengusap-usap tangan Lukas.
Lukas tersenyum.
"Itu karena aku merasa, aku terlalu sempurna untuk mereka. Aku tak pernah tau mereka sebelumnya pernah melakukannya dengan siapa saja? Jika aku tergoda, maka aku bukan lagi orang yang sempurna," jawab Lukas.
"Aku beruntung bisa mendapatkan hati dari orang yang sempurna sepertimu... Eh," Tamara langsung menutup mulutnya.
"Kenapa?"
"Maaf, ucapanku terlalu berlebihan."
"Tidak, berlebihan di bagian mana?"
"Mendapatkan hatimu..." Ragu-ragu Tamara menjawab.
Lukas tersenyum, ia meraih dagu Tamara dan mengecup bibir Tamara.
"Kamu tidak salah, kamu memang sudah berhasil mendapatkan hatiku," ucap Lukas santai.
Tamara diam mematung, ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Hei... Kenapa bengong?" Lukas melambaikan tangannya di depan wajah Tamara.
"Sejak kapan?"
"Entahlah, mungkin sejak pertama kali aku melihatmu tanpa busana," bisik Lukas.
"Apa? Dasar mesum!!!" Tamara memukuli punggung Lukas.
__ADS_1
Keduanya bercanda dan tertawa bersama. Kini mereka sama-sama tau bahwa mereka berdua saling mencintai satu sama lain.