
Di dalam jurang yang dipenuhi dengan semak belukar, Pras kembali ke mobil yang tadi ia naiki bersama Brian. Mobil itu sudah hancur terutama di bagian depannya.
Namun beruntungnya Pras, dia dapat dengan mudah menemukan ponsel milik Brian yang terjatuh di dalam mobil. Letak jatuhnya ponsel pun tidak terlalu sulit untuk di gapai.
Pras mencoba membuka ponsel milik Brian, namun sayangnya ponsel itu terkunci. Pras berjalan mengitari mobil dan mencari ponsel miliknya sendiri. Ia tak menemukan ponsel miliknya di dalam mobil.
"Dimana ponsel milikku?" Gumam Pras. Ia mencoba mencari di sekitar tempat mobil terjatuh. Ia bahkan menelusuri sepanjang area tempatnya terjatuh tadi.
Pras sendiri tak yakin kapan ponselnya terjatuh. Karena ia terlalu fokus pada Brian.
Setelah mencari beberapa lama, Pras akhirnya berhasil menemukan ponsel miliknya. Ponsel milik Pras tergeletak jauh dari dari lokasi tempat mobilnya terjatuh.
Mungkin ponselnya terlempar saat mobil jatuh tadi, pikir Pras. Ia lalu membuka ponselnya. Namun sayang, tidak ada sinyal di tempat itu.
"Sial, aku harus keluar dari tempat ini," ucap Pras.
Pras mengamati sekitar, ia berusaha menemukan jalan keluar dari tempat ini. Pras melihat ke atas tebing tempatnya terjatuh tadi.
"Apa aku harus naik ke atas agar bisa keluar dari sini?" Batin Pras. "Aku punya pisau lipat, rasanya aku tak perlu memanjat. Aku bisa saja membuka jalan untuk keluar dari tempat ini."
Sekali lagi Pras memperhatikan sekelilingnya. Semak-semak dan pohon yang ada di sekitarnya tidak terlalu rapat. Pras yakin bisa membuka jalan agar ia bisa keluar dari tempat itu.
Pras menyiapkan pisau lipatnya yang berlumuran darah. Tak lupa sebelum pergi ia membuka ponsel Brian terlebih dahulu. Pras menggunakan sidik jari Brian agar ponsel Brian bisa terbuka.
"Aku harus menonaktifkan password nya agar bisa dengan mudah ku buka nanti," ucap Brian.
Setelah mengotak-atik ponsel Brian, Pras akhirnya pergi. Ia meninggalkan tubuh Brian begitu saja di dalam jurang. Ia sama sekali tak peduli apa akan ada orang yang menemukan Brian atau tidak.
"Dia pantas mendapatkannya," batin Pras. Pras pun pergi meninggalkan tempat itu.
Berjalan dengan tubuh yang terluka sungguh bukan hal yang mudah. Ditambah Pras harus membuka jalan dengan memotong dahan-dahan kecil pepohonan yang menutupi jalan, juga memangkas semak belukar yang cukup tinggi dengan pisau lipatnya.
Meski ia pernah mendapatkan pelatihan tentang hidup di alam liar, namun ia belum pernah berjalan seorang diri di tengah hutan belantara seperti ini. Meski begitu, Pras pantang menyerah, ia teringat dengan nona mudanya yang kini sedang dalam bahaya. Pras juga memikirkan bagaimana paniknya tuan muda Lukas mengetahui istrinya telah diculik.
"Aku harus bergegas," tekad Pras.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup jauh. Pras akhirnya menemukan aliran sungai. Ia merasa sedikit lega.
"Syukurlah, aku menemukan sebuah sungai." Pras membasuh wajahnya. Ia kembali mengecek ponsel miliknya dan Pras pun tersenyum sumringah.
"Syukurlah, ada sinyal di sini." Pras tanpa pikir panjang langsung menghubungi nomor Lukas.
Karena Lukas lah satu-satunya orang yang Pras pikirkan, jika ia menemukan sinyal nanti, orang pertama yang akan Pras hubungi sudah pasti adalah majikannya. Lukas harus tau jika ada mata-mata di sekitar mereka.
Tak lama ketika panggilan terhubung, terdengar suara Lukas di seberang sana.
"Pras?" Suara Lukas terdengar panik.
"Tuan muda, maafkan saya," itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh Pras.
"Kau baik-baik saja? Kau dimana? Mana Brian? Kau sudah menemukan Tamara?" Lukas langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Tuan muda... Saya... Saya baik-baik saja," Pras terharu karena hal pertama yang ditanyakan oleh Lukas adalah keadaan dirinya.
"Sungguh kau baik-baik saja?" Tanya Lukas meyakinkan.
"Iya tuan muda, begini tuan muda, saya ingin melaporkan sesuatu pada anda," Pras memulai laporannya.
"Brian... Tuan muda, Brian..." Pras mengepalkan tangannya.
Lukas diam saja menanti kelanjutan laporan dari Pras. Lukas mengerti, mungkin Pras butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Karena Lukas merasa sepertinya tebakannya benar mengenai Brian.
Pras mengambil nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.
"Tuan muda, Brian bukanlah bagian dari kita. Sejak awal, dia adalah mata-mata. Namun tuan muda tak perlu khawatir, karena saya telah menghabisinya," akhirnya Pras berhasil melaporkan apa yang ingin ia katakan.
Lukas menghela nafas panjang, meski ia sudah menduganya namun mendengarnya secara langsung masih tetap membuatnya terpukul. Lukas tak menyangka, ia bisa-bisanya kecolongan karena membiarkan musuh berada dalam selimut.
Lukas menyesali dirinya yang kurang teliti dalam menyeleksi pengawal. Terlebih pengawal itu untuk mengawal Tamara, istrinya. Orang yang paling ia cintai.
"Baiklah, lalu apa rencanamu sekarang?" Tanya Lukas.
__ADS_1
"Saya menemukan ponsel Brian, dan saya sudah berhasil membukanya. Namun saya belum melihat lebih jauh, saya yakin di dalam ponsel Brian akan ada petunjuk mengenai keberadaan nona," Pras menjelaskan.
"Periksalah!" Perintah Lukas, namun nada bicaranya tetap terdengar lembut.
"Baik tuan muda," Pras lalu membuka kembali ponsel milik Brian. Ia membuka aplikasi pesan dan mencari isi pesan terakhir yang masuk ke ponsel itu.
Benar dugaan Pras, ia berhasil mengetahui dimana lokasi keberadaan Tamara kini.
"Sepertinya itu tidak jauh dari sini," batin Pras.
Pesan terakhir yang Pras lihat adalah share lokasi yang dikirim kan oleh seseorang. Namun Brian tak menyimpan nomor tersebut, sehingga Pras hanya bisa menduga-duganya saja.
"Pantas saja dia membawaku ke sini, tempatnya ternyata tak jauh dari sini," ucap Pras.
"Kau menemukan lokasinya?" Tanya Lukas. Panggilan telepon masih tersambung antara Lukas dan Pras.
"Iya, tuan muda," jawab Pras.
"Kirimkan padaku! Aku akan segera kesana," pinta Lukas.
"Sebaiknya jangan tuan muda," dengan cepat Pras melarang Lukas mendatangi lokasi itu.
"Kenapa?"
"Sepertinya, ponsel tuan muda sudah diretas. Saya melihat satu aplikasi aneh dan saya bisa mengetahui keberadaan tuan muda saat ini," ucap Pras sambil terus mengotak-atik ponsel Brian.
"Apa kau hanya bisa melihat lokasiku?" Tanya Lukas dengan nada panik.
"Sepertinya iya tuan muda, saya hanya bisa melacak lokasi anda saat ini."
"Syukurlah, dia hanya memakai peretas GPS saja," Lukas terdengar sedikit lega. "Begini saja, kau kirimkan lokasi itu pada Erik, setelah itu aku dan Erik akan mengatur strategi di sini."
Pras terdiam sejenak. "Baiklah tuan muda." Pras akhirnya setuju dengan ide dari Lukas itu.
"Kalau begitu, kita bertemu di sana tuan muda," ucap Pras sebelum mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Setelah panggilan berakhir, Pras lalu mengirimkan lokasi ke ponselnya terlebih dahulu, setelah itu barulah ia mengirimkannya ke nomor Erik.
"Baiklah nona, tunggu sebentar lagi. Saya pasti akan menyelamatkan anda," tekad Pras.