Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 99


__ADS_3

Setelah semuanya pergi, hanya tersisa Asti seorang diri di halaman belakang rumah. Jantungnya berdegup dengan kencang. Bukan hanya karena ia takut menghadapi kemarahan Lukas, tapi juga ia sangat khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Tamara dan Rima.


Asti berjalan mondar-mandir memikirkan kata-kata apa yang bisa menenangkan hati tuan mudanya setelah tau bahwa istri tercintanya itu diculik.


Entah mengapa, saat itu waktu berlalu sangat cepat. Ia seolah tak ingin bekerja sama dengan Asti dan kawan-kawannya, dan hari sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Asti terus menatap pintu kamar tuan mudanya dari kejauhan, berharap tuan mudanya itu pingsan saja saat ini.


Tanpa Asti sadari, Lukas sebenarnya sudah bangun. Hanya saja ia terlihat sangat lelah dan enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Sempat beberapa kali memanggil Tamara, namun tak kunjung mendapat jawaban.


Lukas mengambil ponsel di meja, ia mengirim pesan pada Tamara.


Kamu dimana sayang? Aku merindukanmu...


Lukas tersenyum setelah mengirim pesan itu, menunggu beberapa saat lalu meletakkan kembali ponselnya di atas kasur. Lukas kembali merebahkan diri, ia tau istrinya pasti sedang sibuk menyiapkan makanan untuknya.


Tak lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Lukas.


Aku sedang berbelanja sayang, kamu mau makan apa?


Lukas membaca pesan dari Tamara sambil tersenyum.


Sama siapa? Jangan lama-lama, aku merindukanmu.


Tak butuh waktu lama, Tamara sudah membalas pesan itu.


Bersama beberapa pengawal, tenang saja aku tak membawa semuanya. Kamu tunggu saja di rumah ya!


Lukas mengangguk-angguk membaca pesan dari Tamara. Ia merasa tenang karena tau istrinya pergi dengan beberapa pengawal.


"Syukurlah, dia tidak pergi sendiri. Sekarang lebih baik aku mandi dulu," Lukas akhirnya beranjak dari tempat tidurnya. Ia menyeret kakinya, berjalan dengan malas menuju kamar mandi.


Setelah cukup lama, Lukas akhirnya keluar dari kamar mandi.


"Apa istriku sudah pulang?" Gumamnya sambil mengambil ponsel di meja.


Tidak ada satu pun pemberitahuan yang masuk di ponselnya yang datang dari Tamara. Hanya ada beberapa email dari Olivia dan beberapa pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Lukas mengabaikannya.


Setelah berpakaian rapih, Lukas akhirnya keluar dari dalam kamar. Asti yang sejak tadi menunggunya dengan perasaan was-was, kini jantungnya berdegup semakin kencang melihat kehadiran Lukas.

__ADS_1


"Istriku belum pulang juga?" Tanya Lukas seraya mengambil segelas air yang sudah tersedia di meja makan.


"Belum tuan muda," sebisa mungkin Asti berusaha menjawabnya dengan tenang. Asti menebak, tuan mudanya sudah tau jika istrinya pergi ke pasar. Meski ia sedikit bingung dari mana tuan mudanya tau?


"Kemana semua orang?" Tanya Lukas sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.


"Menemani nona, tuan."


"Semuanya?" Lukas menatap Asti penuh tanda tanya.


"I... Iya tuan," Asti menjawab dengan sedikit ragu.


Lukas hanya mengangguk, ia pun berjalan ke arah depan rumah.


"A... Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" Asti mengikuti Lukas berjalan ke arah depan rumah.


"Tidak, kau kembalilah bekerja," Lukas menjawab tanpa menoleh. Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya.


Apa masih lama sayang?


Lukas mengirim pesan dengan perasaan sedikit was-was karena Tamara tak kunjung pulang.


Berapa pengawal yang kamu bawa sayang?


Lukas mulai khawatir. Ia tak sabar menunggu balasan dari Tamara, Lukas pun langsung menelpon Tamara.


Beberapa kali menelepon, tak kunjung ada jawaban. Setelah percobaan yang ketiga kalinya, akhirnya Tamara membalas pesan Lukas.


"Kenapa dia tak menjawab telepon ku saja," Lukas mulai kesal. Namun ia tetap membuka pesan masuk dari Tamara.


Dua.


Balas Tamara.


Deg...


"Kenapa beda?" Batin Lukas. Belum sempat ia berfikir lebih jauh, Asti yang sejak tadi diam-diam berdiri di belakang Lukas tiba-tiba duduk bersujud di hadapan Lukas.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan muda, maafkan saya!" Ucap Asti sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Ada apa?" Lukas menatap Asti waspada.


"Saya mohon maaf tuan muda, saya tidak berkata jujur pada anda," Asti tak tau harus mulai mengatakan apa pada Lukas.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Lukas menatap tajam Asti, jantungnya berdegup semakin kencang. Lukas mempersiapkan diri dari jawaban Asti nanti.


Asti mendongakkan kepalanya menatap Lukas, dengan sedikit perasaan takut dan juga rasa bersalah ia mengatakan yang sebenarnya.


"Para pengawal sedang tidak mengawal nona, mereka pergi mencari nona," Asti mengepalkan tangannya dengan kuat. Mau tak mau ia harus sampaikan berita ini pada Lukas, karena cepat atau lambat Lukas pasti akan segera mengetahuinya.


"Mencari nona?" Lukas berusaha mencerna apa yang hendak Asti sampaikan padanya.


"Iya tuan muda, nona... Sebenarnya nona saat ini, sedang diculik," Asti akhirnya memberi tau Lukas apa sedang terjadi. Ia menceritakan kronologi hilangnya Tamara sesuai dengan apa yang Rima ceritakan tadi pagi.


Lukas mendadak merasa lemas, matanya memerah karena marah. Tangannya mengepal dengan kuat. Ia menatap Asti marah, ingin rasanya saat itu ia menghajar Asti.


"Apa yang kalian lakukan?" Lukas sudah terlihat sangat murka saat ini. "Bagaimana bisa kalian semua membiarkan hal ini terjadi? Untuk apa aku menyewa kalian sebanyak ini? Jika pada akhirnya istriku berada dalam bahaya seorang diri?"


"Maafkan kami tuan muda, kami sedang berusaha mencarinya," Asti menundukkan kepalanya. Ia menyesal tidak bisa menjaga nona mudanya dengan baik.


"Cepat cari keberadaan Tamara, jika sampai malam ini kalian tak bisa menemukan Tamara, habislah kalian!" Lukas berlalu meninggalkan Asti. Ia masuk ke dalam mobilnya, Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Sial!!! Aku kecolongan!" Teriak Lukas dari dalam mobil. Lukas berusaha menghubungi ponsel Tamara. Namun tak juga diangkat.


Lukas tak menyerah, ia kembali menghubungi Tamara.


"Angkat sayang, kumohon..."


Lagi-lagi tak ada jawaban.


Lukas benar-benar tak mau menyerah, selagi nomornya masih aktif, Lukas akan terus menghubungi Tamara.


Dan akhirnya setelah yang kesekian puluh kali ia menelpon, akhirnya panggilan itu dijawab. Namun bukan Tamara yang menjawab teleponnya, ada suara seorang pria di seberang sana.


"Halo... Tamara, sayang... Kamu..."

__ADS_1


"Wah, wah, gigih sekali ya kamu," ucap pria itu dingin.


__ADS_2