Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 98


__ADS_3

Di tengah-tengah pasar, diantara ramainya orang yang berkerumun sambil menatapnya dengan berbagai macam tatapan padanya, Rima berusaha tetap tenang sambil terus mencari sosok Tamara diantara orang-orang yang berada di sana.


Rima juga berusaha mengingat bagaimana rupa pria yang menabraknya tadi. Yang ia ingat hanya seluruh pakaiannya berwarna hitam.


Hal aneh yang Rima rasakan adalah, bagaimana bisa pria itu menusukkan benda tajam ke perutnya tanpa ia sadari? Saat ini jangan tanya bagaimana rasa sakit yang Rima rasakan, wajahnya jelas sudah terlihat pucat. Namun Rima berusaha keras menahannya.


"Mba, kamu tidak boleh banyak bergerak," seorang pria mendekati Rima dan meminta Rima untuk duduk sejenak. Luka di perut Rima terlihat makin parah, darahnya mengalir semakin banyak.


"Polisi, cepat lapor polisi... Seseorang baru saja diculik," dengan wajah pucat pasi Rima meminta pria itu menghubungi polisi.


"Diculik? Siapa yang diculik?" Semua orang kompak menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan heran.


"Baiklah, aku akan menghubungi polisi, tapi mba harus duduk dulu," pinta pria itu dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak, saya tidak punya waktu untuk duduk. Saya harus segera mencari nona Tamara!" Dengan tubuh bergetar Rima terus berjalan mencari Tamara.


Ada rasa bersalah yang sangat besar di dalam hati Rima. Rasa bersalah itulah yang membuat tekadnya semakin kuat untuk menahan rasa sakit akibat lukanya, dan terus mencari keberadaan Tamara.


Pria yang tadi mengkhawatirkan Rima terus mengikuti Rima di belakangnya. Jelas sekali pria itu khawatir, bisa saja Rima akan pingsan karena kehabisan darah.


Sambil menutupi lukanya dengan tangan, Rima berjalan keluar pasar. Langkah kakinya sudah mulai lemah. Tepat sebelum akhirnya ia terkulai lemas karena darah yang terus keluar dari tubuhnya. Tepat saat itu, Erik datang.


"Akhirnya ketemu," ucap Erik dengan senyum sumringah. Namun senyumnya hilang dalam sekejap melihat Rima yang pingsan tepat di depan matanya dengan tubuh bersimbah darah.


"Rima...!" Teriak Erik.


Erik pun lari menghampiri Rima yang sudah tak sadarkan diri. Beruntung, pria yang sejak tadi mengikutinya dengan sigap menangkap Rima, sebelum tubuh Rima jatuh ke tanah.


"Rima... Apa yang terjadi?" Tanya Erik pada pria yang kini menahan tubuh Rima agar tak jatuh ke tanah.


"Entahlah, tiba-tiba seseorang berteriak dan wanita ini sudah terluka di perutnya. Lalu ia meminta kami untuk menghubungi polisi karena seseorang telah diculik," jelas pria itu.


Erik pun seketika menyadari ketidak beradaan Tamara di sana.

__ADS_1


"Nona," batinnya.


"Bisakah saya minta bantuan pada anda?" Tanya Erik pada pria di hadapannya.


"Tentu," jawab pria itu ramah.


"Tolong bawa wanita ini ke rumah sakit, saya harus mencari seseorang," ucap Erik.


"Baiklah," pria itu menyanggupi.


"Terima kasih," Erik pun bergegas pergi. Sebelum itu, ia tak lupa memberi nomor ponselnya agar pria itu bisa memberi tahu ke rumah sakit mana Rima akan dibawa nanti.


Dengan perasaan campur aduk, Erik mencari ke setiap sudut pasar. Erik menanyakan ke orang-orang yang berada di sana apakah mereka melihat Tamara? Erik bahkan menunjukkan foto Tamara yang ada di ponselnya.


Namun orang-orang di pasar tak ada yang tau, bahkan pedagang di kios tempat Tamara tadi berbelanja pun hanya bisa mengatakan bahwa ia tak melihat kepergian Tamara. Tiba-tiba Tamara sudah tak ada bahkan tanpa membawa barang belanjaannya, padahal Tamara sudah membayarnya.


Mendengar jawaban dari pemilik kios, Erik semakin yakin bahwa majikannya itu saat ini sudah menjadi korban penculikan. Pelakunya tentu ia sudah bisa menebak.


"Sial, aku kecolongan..." Gerutu Erik.


"Aku memang salah, aku pantas menerimanya. Andai saja aku tak sembarangan menaruh motor di depan rumah, pasti semua ini tak akan terjadi," sesalnya dalam hati.


Tiba di rumah, rumah terlihat nampak sepi. Sepertinya tuan muda belum juga bangun dari tidurnya.


Erik bergegas masuk ke dalam rumah dan mengecek sendiri kondisi dalam rumah saat ini. Ternyata benar, Lukas belum juga bangun.


Erik lalu berjalan ke belakang rumah, dia menemukan Brian yang sedang menikmati sarapan pagi bersama Pras.


"Gawat...!!!" Erik menghampiri keduanya dengan wajah panik.


"Ada apa?" Jawab Brian dan Pras kompak.


Belum sempat Erik menjawab pertanyaan keduanya, tiba-tiba Asti muncul dari dalam rumah.

__ADS_1


"Gawat, Nona Tamara dan kak Rina tidak ada!" Ucap Asti dengan mata terbelalak namun suaranya ia kecilkan agar tidak terdengar oleh Lukas.


"Hah?" Brian langsung bangkit dan melihat ke arah Erik dengan serius. Begitu pula dengan Pras. Dari raut wajah keduanya seolah bertanya hal yang sama. "Apa ini yang mau kau katakan pada kami?"


Erik mengangguk, wajahnya terlihat kacau. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Dengar baik-baik," ucap Erik setengah berbisik. Mereka semua berkumpul mengerumuni Erik.


"Rima terluka parah saat sedang berbelanja bersama nona, seseorang menikamnya dengan pisau di perutnya," Erik bicara dengan nada serius.


Mereka semua terkejut, tentu saja.


"Lalu bagaimana dengan nona?" Tanya Asti. Dari caranya bicara ia seolah tak siap mendengar berita buruk yang akan keluar daru mulut Erik. Hal ini bukan hanya berlaku pada Asti, tapi juga Brian dan Pras.


Mereka bertiga merasakan hal yang sama, ada ketakutan yang amat sangat menanti ucapan Erik selanjutnya.


"Nona... Sepertinya nona diculik," kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Erik dengan berat hati.


Mereka semua tertunduk lesu.


"Kita lengah, ini salah kita!" Brian mengepal tangannya dengan keras.


"Lalu kita harus bagaimana? Dan... Ada dimana Rima sekarang?" Tanya Asti pada Erik.


Seseorang membawanya ke rumah sakit.


"Seseorang?" Brian memicingkan matanya, menatap Erik curiga.


"Iya..." Seolah tersadar, Erik menyadari kebodohannya. Ia membiarkan rekan kerjanya bersama dengan orang tak dikenal.


Mereka berempat terlihat semakin panik. Mata mereka kompak melihat ke dalam rumah. Berharap, Lukas tidur lebih lama dan bangun setelah mereka berhasil menemukan Tamara.


"Kita harus cari secepat mungkin, ini pasti ulah seorang yang bernama Richard itu," ucap Brian dengan tegas.

__ADS_1


"Erik, kau cari di setiap rumah sakit dan temukan Rima! Pras ikut aku, aku rasa aku tau kemana mereka menculik nona. Dan kau Asti, sementara kau harus berjaga di rumah seorang diri. Kita tidak bisa membohongi tuan muda, jadi katakanlah sejujurnya apa yang terjadi. Bersiaplah menghadapi kemarahannya," lanjut Brian.


Mereka semua mengangguk setuju, dan tanpa pikir panjang lagi semuanya bergerak sesuai arahan dari Brian. Mereka berharap semoga nona mereka baik-baik saja, dan mereka bisa segera membawa Tamara kembali pulang dengan selamat.


__ADS_2