Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 85


__ADS_3

Lukas yang merasa perkataannya pada Tamara sudah keterlaluan pun hanya bisa terdiam. Berkali-kali ia mendesah dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Ada penyesalan di dalam hatinya, mengapa ia tak bisa mengontrol emosinya. Lukas terus menerus menatap Tamara yang kembali sibuk dengan aktivitas memasaknya.


Tamara bahkan tak berkata apapun, namun Lukas tau hatinya pasti sedang terluka saat ini. Namun Lukas tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memandangi Tamara yang sibuk menyiapkan hidangan tanpa bicara apapun.


Bahkan ekspresinya saat ini hanya datar saja. Berkali-kali Tamara mencoba mengatur nafasnya, dan menghindari kontak mata dengan Lukas.


Ini pertengkaran pertama mereka, dan Lukas tak tau harus berbuat apa?


Makanan sudah terhidang di meja. Biasanya, Tamara akan duduk di samping Lukas dan menemani hingga Lukas selesai makan. Namun kali ini Tamara langsung kembali ke dapur, ia memilih untuk mencuci peralatan bekas masaknya dari pada menemani Lukas makan.


Lukas perlahan mulai menyantap makanannya, sambil terus menatap Tamara yang sama sekali tak mau menatapnya.


Lukas menghela nafas panjang, ia tau semua ini memang salahnya yang bicara terlalu kasar pada Tamara. Lukas meletakkan sendoknya dan berjalan menuju Tamara.


Lukas melepaskan sarung tangan untuk mencuci piring yang sedang dipakai Tamara. Ia lalu menarik tangan Tamara dan mengajaknya duduk di tempat biasa Tamara menemaninya.


"Duduklah, aku tak mau makan sendiri," ucap Lukas. Nada bicaranya sudah mulai lembut kali ini.


Tamara tak menolak, ia menurut saja dengan apa yang diperintahkan Lukas. Tamara sedang berusaha menahan emosinya. Ia tak mau menangis di hadapan Lukas.


Setelah Tamara duduk, Lukas ikut duduk dan kembali menghabiskan makanannya hingga bersih tak bersisa.


Selesai makan, Lukas menatap Tamara yang masih belum mau melihat ke arahnya.


"Ada yang mau kau katakan padaku?" Tanya Lukas.


Tamara menggeleng. Ia lalu mengambil piring kosong milik Lukas dan membawanya ke tempat cuci piring. Tamara melanjutkan cucian piringnya, hingga selesai.


Dan Lukas, masih setia memandanginya dari ruang makan.


Lukas benar-benar tak tau harus bagaimana memulai percakapan dengan Tamara.


Selesai mencuci piring, Tamara kembali duduk di samping Lukas. Ia sendiri bingung bagaimana harus bersikap di depan Lukas saat ini.


Di satu sisi ia ingin mengungkapkan kekesalannya pada Lukas, namun di sisi lain Tamara takut Lukas akan semakin marah.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua sama-sama diam tak bersuara, keduanya hanya duduk berdampingan tanpa mengatakan apapun.


Keheningan itu terhenti saat suara ponsel Tamara berdering, sebuah nomor yang tak dikenal menghubunginya.


Lukas yang duduk di samping Tamara juha melihatnya, namun ia tak berkomentar apapun.


Tamara segera mengangkat panggilan masuk dari nomor tak di kenal itu.


"Halo," sapa Tamara.


"Sudah hidup bahagia kamu ya sekarang?" Suara seseorang yang asing terdengar di seberang sana.


Tamara bingung dengan ucapan orang itu, sejatinya ia tak kenal siapa yang menghubunginya. Tapi mengapa orang ini seakan sangat mengenal dirinya.


Dan yang paling bisa Tamara tangkap adalah nada bicaranya yang sangat sinis.


"Maaf, ini dengan siapa?" Tanya Tamara.


"Wah, kau lupa suaraku? Luar biasa, apa karena kau sudah kaya sekarang makanya kau sudah melupakanku?"


Tamara berusaha mengenali suara siapa itu, namun ia sama sekali tak bisa mengingat. Melihat Tamara yang kebingungan, Lukas jadi ingin ikut mendengarkan.


"Maaf, tapi aku benar-benar tak tau. Tidak bisakah anda menyebutkan saja nama anda?" Tamara berusaha sopan berbicara dengan orang asing itu.


"Hahaha... Tamara... Tamara... Ingat suaraku baik-baik, sampai kapanpun aku tak akan pernah lupa bagaimana kamu, ayah dan ibumu menghancurkan semuanya. Ayahku sampai menjual semua harta bendanya hanya demi menyelamatkan mu. Dan sekarang, inikah balasanmu?"


Tamara tercengang, ia langsung menatap Lukas dengan mata terbuka lebar.


"Siapa?" Tanya Lukas tanpa bersuara.


Tamara belum menjawab pertanyaan Lukas, ia sendiri belum yakin seratus persen dengan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Ada apa anda menghubungi saya?" Tamara sengaja memakai bahasa formal, karena ia merasa tak akrab dengan orang itu.


"Tentu saja untuk menagih harta yang seharusnya menjadi hak ku!" Jawab orang itu dengan suara lantang.


"Saya tak menerima apapun dari kakek, anda sendiri kemana saja selama ini? Kenapa baru datang dan meminta harta warisan ketika ayah anda sudah meninggal?" Suara Tamara tak kalah lantang. Lukas sampai terkejut, ternyata Tamara juga bisa bersuara lantang seperti itu.

__ADS_1


"Tentu saja kamu tak berhak lagi atas harta ayahku, karena gara-gara kamu semua harta ayahku habis tak bersisa. Sekarang, kamu malah enak-enakan tinggal bersama suamimu yang kaya raya itu. Dengar Tamara, kamu tak boleh melupakan masa lalu."


"Tentu saja saya tidak lupa, tapi saya tak merasa pernah memaksa kakek untuk menjual apapun demi saya. Dan selama empat belas tahun ini anda tak pernah menampakkan diri anda, lalu sekarang dengan tidak malunya anda meminta sesuatu yang seolah itu hak anda. Apa anda tidak malu?"


"Kenapa aku harus malu? Tamara, sekarang kau harus mengembalikan semua harta ayahku yang dulu pernah ia jual untuk menyelamatkan mu. Jika tidak, maka jangan harap aku akan membiarkan hidupmu bahagia! Aku bisa saja membuat suami kaya mu itu meninggalkanmu!"


Richard mematikan sambungan teleponnya, Lukas yang emosi segera merebut ponsel Tamara dan hendak menelpon balik orang yang sudah kurang ajar berkata kasar pada istrinya.


Namun aksi Lukas langsung di cegah oleh Tamara.


"Jangan," ucap Tamara sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya gemetar seperti orang ketakutan.


"Kamu kenapa?" Lukas seketika panik melihat ekspresi Tamara yang langsung berubah.


Tadi saat menerima telepon Tamara seperti seorang yang sangat berani tak kenal takut. Namun kini, Tamara berubah menjadi orang yang ketakutan. Bertolak belakang sekali dengan aksinya tadi.


"Kamu takut karena ancamannya?"


Tamara tak menjawab, ia justru menangis tanpa suara dengan tangan yang gemetar.


Tentu saja hal itu langsung membuat Lukas memeluk Tamara.


"Kamu tidak usah takut, dia tidak akan bisa melakukan apapun padamu. Mulai besok, kamu tidak boleh keluar rumah seorang diri ya. Aku akan menyewa beberapa pengawal untuk menjaga rumah ini. Aku tak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Lukas sambil mengusap-usap punggung Tamara.


"Tapi..." Lirih terdengar suara Tamara di dalam pelukan Lukas.


"Tidak ada tapi-tapian, melihat ekspresimu yang ketakutan seperti ini aku tak bisa tinggal diam. Kita belum mengenal dengan baik paman mu itu, maka dari itu kita harus mengantisipasi agar tak terjadi hal yang kamu takutkan."


Tamara melepaskan pelukan Lukas, ia mendongak ke arah Lukas yang kini menatapnya dengan khawatir.


"Aku bukan takut ada om Richard," ucap Tamara dengan wajah sendu.


"Lalu apa yang kau takutkan?"


"Aku takut kalau om Richard benar-benar akan membuatmu meninggalkan aku," Tamara berusaha menahan tangisnya.


Lukas tersenyum melihat Tamara yang ternyata lebih takut kehilangannya dari pada berhadapan dengan pamannya sendiri.

__ADS_1


Sejenak, mereka berdua lupa dengan pertengkaran yang baru saja terjadi. Sekarang Lukas tau, kecemburuannya tadi hanyalah sia-sia. Karena nyatanya Tamara sangat mencintainya hingga takut kehilangan dirinya.


__ADS_2