
Saat mereka tiba dikediaman Dominic, diam-diam Leonard menghubungi putranya saat ia sudah memastikan Tamara sudah berada di kamar Lukas.
Leonard meminta perawat untuk meninggalkannya seorang diri di dalam kamarnya, kebetulan saat itu Vanesa juga masih berada di lokasi proyek bersama Lukas.
Leonard mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Lukas.
Cukup lama Leonard menunggu hingga akhirnya Lukas pun menjawab panggilan teleponnya.
"Halo pah?" Sapa Lukas dari seberang sana.
"Lukas, apa kau sedang sibuk?"
"Aku baru mau istirahat, ada apa pah?"
"Bisa kah kau pulang malam ini? Naiklah pesawat agar cepat sampai," pinta Leonard .
"Maaf pah, aku memang belum sempat menjenguk papah lagi. Tapi yang ku dengar operasi papah berjalan dengan lancar, jadi ku rasa aku tak perlu melihat langsung kondisi papah. Papah pasti baik-baik saja kan?"
"Ya, papah sih baik-baik saja. Tapi istrimu itu yang tidak baik-baik saja. Papah tau kamu sangat sibuk, tapi sempatkanlah waktu untuk menghubunginya. Walau hanya sekedar bertanya apa dia sudah makan atau belum?" Nasihat Leonard.
Lukas terdiam, ia tau bahwa ia memang jarang sekali memberi kabar pada Tamara semenjak memegang proyek menggantikan Leonard.
"Pulanglah dulu malam ini, kasihan dia sudah dua minggu tidak bertemu kamu. Apa kamu tidak rindu padanya?"
"Bukannya aku tidak merindukannya pah, justru aku sengaja tak menghubunginya hingga proyek selesai," jawab Lukas.
"Kenapa?"
"Jika aku menghubunginya, aku takut akan semakin merindukannya," ucap Lukas.
Leonard tersenyum mendengar jawaban Lukas. Leonard tau putranya itu sudah menyimpan rasa pada Tamara.
"Pulanglah sebentar, perlu kamu tau setiap hari dia menangis karena merindukanmu. Yah, mungkin itu efek dari bayinya..." Leonard langsung bungkam, ia keceplosan tanpa sadar mengatakan tentang kehamilan Tamara.
"Bayi? Bayi apa pah?"
"Ah, gak apa-apa. Itu, pasti Tamara menangis karena efek terlalu lelah. Kamu pikir berada di rumah sakit itu tidak lelah? Meski ia hanya menemani papah, tapi Tamara pasti kelelahan," Leonard langsung memperbaiki ucapannya.
"Tamara hamil pah?"
"Eh... Itu, Eng... Udahlah, pokoknya kamu pulang saja dulu dan lihat langsung kondisi istrimu," Leonard yang sudah terlanjur basah mengatakan tentang bayi, langsung saja memutuskan panggilan telepon.
"Huft, keceplosan. Maafin papah ya Tamara, tapi mau bagaimana pun Lukas juga harus tau," gumam Leonard.
__ADS_1
Di lain tempat, Lukas yang mendengar kabar kehamilan Tamara hanya diam mematung.
"Tamara hamil?" Ucap Lukas tak percaya. Lukas tak tau harus bereaksi seperti apa? Karena memang ia tak menyangka akan secepat ini menjadi seorang ayah.
"Kenapa kamu melamun saja Lukas?" Suara Vanesa membuyarkan lamunan Lukas.
"Eh, mah?"
"Ada apa?"
"Mah, apa mungkin jika Tamara hamil?"
"Loh, memangnya kenapa tidak mungkin?"
"Apa bisa secepat itu hamilnya?"
"Ya memangnya kenapa? Kamu meragukan kesuburan mu sendiri?"
"Mana mungkin? Aku ini pria yang sehat," ucap Lukas.
"Iya... Iya, mamah tau. Terus maksudnya gimana? Tamara hamil?"
"Iya, tadi papah bilang begitu. Tapi, papah kok kaya mau nutupin dari aku ya?"
"Ah, kalau memang tidak mau membuatku kepikiran, kenapa papah malah bilang kalau Tamara terus menerus menangis karena merindukan aku?"
Plak...
Vanesa seketika memukul punggung Lukas.
"Aw, sakit mah. Apa sih, tiba-tiba mukul?"
"Tentu saja itu pasti efek dari kehamilannya. Sudahlah, pulang sana. Kalau naik pesawat pasti bisa sampai dengan cepat."
"Tapi mah, proyek di sini bagaimana?"
"Kan masih ada mamah? Sudah cepat sana pulang dulu temui istrimu!" Vanesa langsung meminta Lukas untuk pulang saat itu juga.
"Sekarang mah? Tapi aku kan belum mandi!"
"Mandi di rumah saja, sudah sana!"
Lukas pun menurut, ia juga khawatir dan penasaran dengan kondisi Tamara saat ini. Beruntung ada pesawat yang akan langsung terbang ke ibu kota, Lukas hanya perlu menunggu satu jam hingga pesawat berangkat.
__ADS_1
Vanesa yang mendengar kabar kehamilan menantunya, tentu saja merasa senang. Ia langsung menghubungi suaminya saat itu juga.
"Pah... Kok Tamara hamil papah gak kasih tau mamah sih?"
"Aduh, maaf mah... Soalnya Tamara sendiri yang minta, katanya takut mengganggu pekerjaan kalian."
"Jadi itu Tamara yang minta?"
"Iya... Mah, kamu kapan pulang?"
"Lusa ya pah, biar hari ini Lukas dulu yang pulang," Vanesa juga sudah sangat merindukan suaminya. Meski ia berkali-kali datang ke rumah sakit selama Leonard di rawat, tapi ia tak bisa lama menemui Leonard.
Suami istri itu terus menghabiskan waktu dengan membicarakan banyak hal di telepon. Bahkan mereka beralih ke video call untuk sekedar saling melepas rindu.
Maklum saja, selama ini Leonard memang tak pernah bisa jauh dari Vanesa. Kemana pun ia pergi, di sana pasti ada Vanesa.
Namun saat kecelakaan yang menimpa dirinya, untung saja saat itu ia sedang sendiri. Jika tidak, pasti Vanesa juga sudah ikut cedera seperti dirinya.
Sementara itu di dalam pesawat, Lukas berkali-kali ingin sekali menghubungi Tamara. Namun selalu ia urungkan. Lukas sengaja ingin memberikan surprise pada Tamara.
Sesuai perkiraan, naik pesawat memang sudah pasti bisa lebih cepat dari pada naik mobil. Pukul sembilan malam Lukas sudah tiba dikediaman Dominic.
Saat itu, di ruang keluarga ada Leonard dan Dominic yang masih bebincang-bincang dengan penuh semangat.
"Wah ini dia si calon ayah sudah datang," sambut Dominic saat melihat kehadiran Lukas.
"Tamara dimana kek?"
"Ada di kamar mu," jawab Dominic.
Lukas langsung melengos begitu saja, berlari menuju kamarnya.
"Tuh kan pah, apa ku bilang? Dia sudah jatuh cinta pada Tamara. Bahkan aku yang sedang sakit saja dia abaikan," ucap Leonard.
"Kamu benar, jika begini aku jadi merasa lega karena tak salah memilihkan calon istri untuk Lukas."
"Aku tau papah pasti akan memilihkan calon terbaik untuk anakku. Aku saja sudah papah berikan wanita terhebat dalam hidupku."
"Benar kan apa papah bilang? Dulu kamu juga sama menolak mentah-mentah Vanesa, eh... Sekarang malah bucin gak karuan," Dominic mengingat kembali saat ia menjodohkan Leonard dengan Vanesa yang juga merupakan putri dari rekan bisnisnya.
Kembali ke Lukas, ia saat ini sudah sampai di depan pintu kamarnya. Sambil mengatur nafas, perlahan Lukas membuka pintu kamarnya.
Di dalam kamar, Lukas menemukan Tamara masih tertidur lelap di atas kasur. Lukas memperhatikan wajah Tamara yang terlihat jelas bahwa saat itu Tamara pasti habis menangis.
__ADS_1
Lukas ingin langsung memeluk Tamara, namun mengingat ia belum mandi, Lukas memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dan karena Lukas tak ingin membangunkan Tamara, maka ia memilih untuk menumpang mandi di kamar orang tuanya.