
Jake terkulai lemas setelah berhasil memukul kepala Richard. Sepertinya ia telah mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk pukulan itu.
Terlihat Richard yang langsung pingsan setelah mendapat pukulan di titik vitalnya.
Tamara yang melihat kejadian itu dari dalam mobil, merasa sangat lega. Ia bisa melihat Jake masih bisa berdiri meski seluruh tubuhnya penuh luka. Entah apa yang telah Richard lakukan sebelumnya pada Jake, hingga Jake menjadi babak belur begitu.
Pras menatap ke arah Jake. Ia sudah tak punya tenaga lagi sebenarnya, tapi tugasnya belum selesai. Pras belum menemukan keberadaan Tamara.
Sekuat tenaga dan sambil menahan sakitnya, Pras mencoba bangun. Ia berjalan tertatih menghampiri Jake.
"Nona, dimana nona?" Tanya Pras dengan suara lirih.
Jake tak sanggup bicara lagi, ia pun sudah kehabisan tenaga. Jake hanya menoleh ke arah mobil tempat Tamara berada.
"Nona di sana?" Tanya Pras lagi.
Jake mengangguk perlahan.
Pras kembali menyeret kakinya mendekati mobil dimana Tamara berada. Pras langsung membuka pintu bagian tengah mobil, dan benar saja, Tamara ada di sana dengan mulut tertutup lakban dan tangan serta kakinya terikat.
"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Pras.
Tamara hanya mengangguk-angguk dengan cepat. Air matanya tak mau berhenti mengalir melihat rupa Pras saat itu.
Pras segera membuka ikatan di tangan dan kaki Tamara. Meski sedikit kesulitan karena Pras sendiri juga punya banyak luka di tubuhnya, namun ia berusaha keras agar majikannya itu bisa selamat.
Sementara Pras membuka ikatan di tubuh Tamara. Jake terus menatap Richard, ia khawatir jikalau Richard terbangun sebelum sempat Tamara melarikan diri.
Dengan susah payah akhirnya Pras berhasil membuka ikatan Tamara.
"Pras, terima kasih. Kau baik-baik saja?" Tamara mengamati Pras dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Pras mengangguk.
"Nona, tuan muda sedang dalam perjalanan ke sini. Sebaiknya kita tunggu mereka saja," ucap Pras.
"Lukas sudah tau aku ada dimana?" Tanya Tamara.
Pras kembali mengangguk.
Sesaat kemudian Tamara menoleh ke arah Jake. Ia masih duduk di samping Richard.
"Kak Pras, tunggulah di sini. Aku ingin melihat kondisi Jake," pinta Tamara.
Namun Pras segera menahan Tamara.
"Jangan nona, pria itu bisa saja bangun sewaktu-waktu. Nanti nona akan berada dalam bahaya," Pras memohon agar Tamara tak keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Tapi... Jika memang om Richard bisa bangun sewaktu-waktu, berarti Jake berada dalam bahaya. Kita harus segera membawanya ke sini," mendengar ucapan Pras, Tamara jadi semakin mengkhawatirkan Jake.
Tanpa menunggu persetujuan Pras, Tamara keluar melalui pintu sebelahnya. Ia berlari ke arah Jake.
Pras hanya bisa menatap khawatir ke arah Tamara. Tenaganya benar-benar sudah habis. Pras berharap belum sadarkan diri hingga Tamara berhasil membawa Jake kembali ke dalam mobil.
"Jake... Kau tak apa?" Tamara sedih melihat kondisi Jake saat ini.
"Cepatlah pergi, ayahku bisa saja tersadar sewaktu-waktu," Jake menyuruh Tamara pergi.
"Tidak, aku tak mau pergi sendiri. Ayo kita sembunyi di dalam mobil sebelum om Richard sadar," pinta Tamara.
"Aku sudah tak punya tenaga lagi," jawab Jake.
"Ayolah Jake, kumohon. Aku akan membantumu," Tamara berusaha membantu Jake berdiri.
Melihat Tamara yang gigih membantunya sambil terus menangis, Jake mencoba menuruti kemauan Tamara.
Ia sekali lagi mengumpulkan tenaganya untuk berdiri.
Tamara memapah Jake berjalan menuju mobil dimana Pras menunggu. Setelah berhasil membantu Jake masuk ke dalam mobil, Tamara pun ingin menyusul masuk. Ia hendak duduk di kursi kemudi.
Namun belum sempat ia masuk, Tamara melihat Richard sudah sadar dan kini tengah memegang kepalanya yang terluka.
Tamara mempercepat langkah kakinya dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Richard melihat ke arah Tamara, dan langsung berteriak.
Mendengar teriakan Richard, sontak Jake dan Pras pun merasa khawatir. Mereka bersiap untuk menyelamatkan Tamara.
Beruntungnya Tamara berhasil masuk ke dalam mobil sebelum Richard berdiri dengan tegak. Sepertinya Richard masih merasakan pusing di kepalanya karena pukulan Jake yang sangat keras.
Begitu masuk ke dalam mobil, Tamara segera mengunci mobil secara menyeluruh. Tangannya gemetar, ia meringkuk di balik kemudi.
"Nona, apa anda bisa mengemudi?" Tanya Pras.
"Tidak," jawab Tamara sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya nona pindah, biar saya yang mengemudi," pinta Pras.
"Tapi, kamu terluka," Tamara menolak.
Saat keduanya sedang berebut ingin mengemudi, tiba-tiba...
Braaakkk...
Terdengar suara mobil di pukul. Tamara menoleh ke arah depan mobil dan melihat Richard memukul mobil dengan balok kayu.
__ADS_1
Tak hanya satu kali, Richard memukul bagian depan mobil berkali-kali sambil menatap tajam ke arah Tamara.
"Keluar kalian!" Teriak Richard.
Tamara meringkuk ketakutan, sedangkan Pras dan Jake berusaha waspada.
Richard kembali memukul-mukul seluruh bagian mobil dengan balok kayu dengan semakin kencang.
"Lukas, tolong aku..." teriak Tamara dalam hati. Ia berharap Lukas segera datang karena kaca mobil hampir saja pecah.
"Nona, pindah lah ke belakang," pinta Pras.
Tamara menurut, ia bergegas melompat ke kursi belakang. Duduk di antara Pras dan Jake.
Richard masih terus memukul kaca mobil hingga hampir pecah. Lalu tak lama kemudian, suara klakson mobil dari kejauhan terdengar.
Richard berhenti, ia membalikkan badannya dan berusaha melihat siapa yang datang.
"Nona, tuan muda sudah datang," ucap Pras pada Tamara dengan perasaan lega.
Richard tak menyangka yang datang adalah Lukas bersama seorang pengawal.
"Cih, bagaimana dia tau keberadaan ku?" Gumam Richard.
Mobil pun berhenti tepat di samping Richard. Lukas keluar lebih dulu, lalu disusul Erik.
"Kau kah orang yang bernama Richard itu?" Tanya Lukas dengan nada sinis.
Lukas melihat ke arah mobil yang sudah sebagian hancur, dan ia juga melihat balok yang dipegang Richard.
"Kau hebat, bisa menemukanku di sini," Richard berjalan mendekat ke arah Lukas.
"Tentu saja, itu semua berkat anak buahmu yang bodoh itu," jawab Lukas.
Richard menyeringai. Ia berjalan semakin dekat dengan Lukas dan bersiap menghajar Lukas dengan balok kayu. Namun Erik dengan cepat menyerang Richard terlebih dahulu.
Richard sudah mengayunkan balok kayunya.
Bugh...
Balok kayu mengenai lengan Erik, ia menangkis serangan Richard dengan lengannya. Dan secepat kilat Erik menarik balok kayu dan mendorongnya ke tubuh Richard.
Richard hampir goyah, namun ia segera mengontrol dirinya agar tidak terjatuh.
"Cih, kau hebat juga," Richard menyeringai menatap Erik.
"Ku rasa, kau salah memilih lawan," ucap Erik.
__ADS_1
"Oh ya?" Richard menatap Erik dengan sinisnya. Ia terlalu menganggap remeh Erik yang dimatanya hanya seorang pengawal.
"Jika kau bermain-main dengan tuan muda dan nona, maka kau harus berhadapan denganku!" Erik menatap tajam pada Richard. Ia tak main-main, apapun akan ia lakukan demi menjaga tuan muda dan nonanya.