
Lukas berjalan menghampiri Tamara dan Adrian.
"Sayang, ini minumannya..." Ucap Lukas seraya menyerahkan dua gelas minuman kepada Adrian dan Tamara.
"Qo cuma dua?" Tanya Tamara.
"Iya, kita kan bisa minum barengan," goda Lukas.
Tamara tersenyum, begitu pun Adrian.
"Ehem..." Adrian jadi gatal tenggorokannya mendengar ucapan Lukas barusan.
"Tapi kamu kenapa cuma beli minum?" Tanya Tamara lagi.
"Ah, itu karena aku bingung kamu sukanya yang mana?"
"Ya udah, biar aku aja yang beli. Kamu tunggu di sini ya sama kakek," Tamara hendak berlalu pergi namun Lukas segera menahannya.
"Ada apa?" Tamara bingung karena langkah kakinya dihentikan oleh Lukas.
"Di sini hanya terima uang cash, ini kamu bawa saja. Aku tau kamu gak ada uang cash," ucap Lukas sambil menyerahkan dompetnya.
Meski bingung, Tamara tetap mengambil dompet Lukas sambil tersenyum.
"Baiklah, kamu mau apa?"
"Apa saja, terserah pilihan kamu," jawab Lukas lembut.
"Kakek?"
"Kamu tau kan selera kakek?" Adrian malah menantang Tamara apakah ingat dengan kesukaan kakeknya.
"Baiklah," Tamara pun berlalu meninggalkan Lukas dan Adrian berdua.
"Duduklah," Adrian meminta Lukas untuk duduk di sampingnya.
"Iya kek," Lukas pun menurut.
"Kamu ternyata laki-laki yang baik," ucap Adrian.
"Ya?" Lukas tak menyangka Adrian akan berkata seperti itu.
Adrian menatap jauh ke atas langit.
__ADS_1
"Beberapa waktu yang lalu, saat kalian baru menikah. Aku mendapat kabar dari Dominic bahwa kamu terpaksa menikahi Tamara karena posisimu di perusahaan terancam akan diturunkan. Sejak saat itu, aku jadi merasa khawatir kamu akan memperlakukan cucuku dengan tidak baik."
Lukas hanya diam mendengarkan ucapan Adrian, jantungnya berdegup kencang karena memang sebenarnya itulah yang terjadi.
"Aku terus mencemaskan Tamara, selama kalian berbulan madu aku bahkan tak berani menghubunginya. Aku takut pilihanku ternyata salah. Terlebih saat tadi pagi Tamara datang seorang diri, itu membuatku semakin yakin bahwa kamu tidak menyukai Tamara."
Lukas melihat ada kesedihan di wajah Adrian.
"Namun saat tadi kau datang menjemputnya, dan mengajaknya berkencan. Aku jadi merasa sedikit lega. Bahkan malam ini kau telah membuktikan padaku bahwa kamu memang peduli pada cucuku."
Adrian menoleh ke arah Lukas, Lukas jadi tak tau harus berkata apa?
"Tamara gadis yang ceria sejak kecil, namun keceriaannya sempat hilang sejenak ketika kedua orang tuanya meninggal. Belum lagi gosip mengenai kedua orang tuanya yang membuat Tamara semakin sedih."
"Gosip? Gosip apa itu?"
"Gosip yang disebarkan oleh pamannya Tamara sendiri. Gosip yang mengatakan bahwa kedua orang tua Tamara sengaja menabrakkan diri, karena mereka memang ingin bunuh diri. Kamu tau kan orang tua Tamara terlilit hutang dalam jumlah yang banyak?"
"Iya kek, aku pernah mendengarnya."
"Gosip itu beredar diantara tetangga, keluarga, bahkan teman-teman Tamara yang saat itu juga masih kecil. Karena hal itu, Tamara sempat menjadi gadis yang pemurung. Untungnya Tamara bisa mengatasi semuanya, dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan berhasil kembali menjadi gadis yang ceria."
Adrian tersenyum, ia membayangkan saat-saat Tamara berhasil mengatasi kesedihannya dan mulai berbaur lagi di lingkungan yang baru. Lingkungan yang sampai saat ini masih Adrian tempati.
"Lukas, Tamara sangat menyukaimu. Sejak pertama kali kalian bertemu. Jika memang kamu tak bisa membalas cintanya, aku mohon, setidaknya perlakukan dia dengan baik dan jangan pernah sakiti hatinya," pinta Adrian.
Jantung Lukas berdegup semakin kencang, entah mengapa ada rasa sakit yang muncul di dalam hatinya. Melihat wajah Adrian yang seperti memohon pada Lukas untuk kebahagiaan Tamara.
Lukas sendiri masih belum mengerti tentang perasaannya pada Tamara saat ini. Mungkinkah rasa suka itu sudah ada, namun Lukas tak mau mengakuinya? Ataukah ia memang tak bisa mencintai Tamara dan sikap baik ya selama ini hanyalah sebuah sandiwara?
Setelah puas menikmati pasar malam, mereka bertiga pun pulang. Sebelum kembali ke rumah, Lukas dan Tamara mengantar Adrian pulang terlebih dahulu.
Kali ini Adrian memilih rute tercepat agar segera sampai di rumah kontrakannya. Lukas hanya diam saja sepanjang perjalan pulang merek, hingga ia tak sadar rute pulang jauh lebih cepat dibanding saat berangkat tadi.
Di dalam mobil, Lukas terus saja melamun. Ia masih saja terngiang dengan ucapan Adrian di pasar malam tadi.
"Tadi apa yang kamu bicarakan dengan kakek? Oh iya, ini dompetmu," Tamara menyerahkan kembali dompet milik Lukas.
Lukas hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus mengemudi.
"Ambil saja semua uang yang ada di dalamnya," ucap Lukas.
"Hah? Semua?" Tamara tak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
"Iya, kamu kan gak punya uang cash."
Tamara tersenyum.
"Terima kasih," Tamara mengambil semua uang tunai yang ada di dompet Lukas dan memasukkannya ke dalam dompetnya.
"Tamara..."
"Mmm?" Tamara menoleh ke arah Lukas.
"Aku tadi sempat mendengar pembicaraanmu dengan kakek Adrian. Apa yang kamu katakan itu benar?"
"Yang mana?"
"Kau bilang, kau semakin mencintaiku."
"Oh... Memangnya kenapa kalau benar?"
"Ya tidak apa-apa."
Lukas kembali diam, sementara Tamara terus menatap Lukas dengan perasaan yang campur aduk.
Di satu sisi ia merasa senang karena Lukas sudah bersikap baik padanya, di sisi lain Tamara tau mungkin bukan hal yang mudah untuk menaklukan hati Lukas. Dan itu membuat hatinya terluka.
Hingga tak terasa mereka sudah tiba di hunian mereka. Tamara masih saja menatap Lukas.
Lukas yang merasa dirinya ditatap terus oleh Tamara sejak tadi, ikut berbalik menatap Tamara.
Kini keduanya saling menatap.
"Cobalah untuk mencintai aku," pinta Tamara. Setelah berkata begitu Tamara pun keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
Lukas hanya bisa terdiam, ia tak bisa berkata apapun. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa menerima Tamara di hatinya.
Padahal Lukas juga tak memiliki siapapun di hatinya, Lukas juga tak mempunya trauma apapun soal hubungan dimasa lalu.
Mungkin hanya karena semua terlalu mendadak, dan lagi dulu saat pertama kali ia berkenalan dengan Tamara, Tamara bukanlah gadis yang sesuai dengan standarnya.
Meski kini Tamara sudah jauh berubah secara penampilan, namun Lukas masih belum mau membuka pintu hatinya.
Ia hanya belum siap untuk menjalin sebuah hubungan. Di dalam pikirannya, Lukas hanya memikirkan karir dan karir. Ia yang merasa dirinya begitu sempurna tentu masih saja menganggap Tamara bukanlah sosok yang tepat untuk bersanding dengannya.
Meski Lukas tau bahwa Tamara adalah gadis yang baik, dan juga kini Tamara sudah menjelma menjadi gadis yang cantik.
__ADS_1