
Kembali ke bandara.
Lukas baru saja berjalan meninggalkan Tamara di lobi bandara. Tak jauh setelah ia berjalan menjauh, Lukas kembali menoleh dan melihat Tamara tengah tersenyum sendiri.
"Hah, apa yang sedang ia lakukan?" Gumam Lukas.
Lukas kembali memperhatikan Tamara yang masih tersenyum sendiri, Lukas hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa dia senang sekali? Apa aku terlalu berlebihan memberikan perhatian padanya?" Gumam Lukas.
Lukas berjalan perlahan menuju parkiran mobil, sepanjang jalan ia merenungi sikapnya pada Tamara hari ini.
"Sepertinya dia semakin jatuh cinta padaku, kalau begini terus aku hanya akan membuatnya semakin berharap lebih padaku. Baiklah, karena sepertinya dia sudah tak sakit lagi, aku kan akan bersikap seperti biasa saja padanya."
Lukas sudah memutuskan untuk kembali bersikap biasa pada Tamara, ia tak mau Tamara semakin berharap lebih pada dirinya. Karena yang Lukas takutkan adalah ia hanya akan melukai Tamara semakin dalam.
Lukas sudah berada di dalam mobil, perlahan ia mengendarai mobil menuju lobi utama. Di sana, Lukas melihat Tamara masih dengan wajah sumringah nya berdiri di depan lobi.
Tin...
Lukas membunyikan klakson mobilnya. Ia sudah membuka kaca jendela mobil.
"Cepat masukan koper-koper itu ke dalam mobil!" Perintah Lukas.
Ia sendiri tidak turun dari dalam mobil, dan memilih menunggu di sana.
"Apa? Aku sendiri yang membawanya?"
"Itu semua kan barang-barang punyamu, punyaku paling hanya setengah koper besar itu. Cepat masukan ke dalam!"
Tamara terlihat kesal, meski begitu ia tetap memasukkan koper-koper berat itu ke dalam bagasi mobil.
Lukas hanya memperhatikan Tamara dari dalam mobil, sebenarnya ia merasa tak tega juga dan ingin sekali membantu.
Baru saja Lukas membuka seat belt nya. Ia sudah melihat seorang pria tengah membantunya.
"Siapa itu?"
Lukas memperhatikan dengan seksama, dia bahkan melihat ekspresi wajah Tamara yang nampak tersenyum senang karena sudah dibantu oleh pria asing itu.
"Wah, bisa-bisanya dia tersenyum lebar begitu pada pria lain? Apa dia lupa kalau statusnya saat ini adalah istriku?"
__ADS_1
Tanpa sadar Lukas merasa kesal sendiri karena Tamara sudah dibantu oleh pria yang tidak ia kenal. Bahkan setelah semua koper itu masuk ke dalam bagasi mobil, Tamara terlihat mengejar pria itu.
"Mau kemana dia?" Lukas semakin kesal.
Ia pun membunyikan klakson mobil terus menerus agar Tamara segera naik ke dalam mobil. Meski beberapa orang tengah memandanginya dengan kesal karena Lukas terus menerus membunyikan klakson mobil, Lukas tak peduli. Ia hanya tak suka melihat Tamara menghampiri pria lain yang bahkan tak ia kenal.
Untungnya Tamara segera kembali masuk ke dalam mobil, sebelum Lukas ditegur oleh Satpam bandara.
Lukas yang kesal segera melajukan mobilnya dengan kencang begitu Tamara masuk ke dalam mobil.
"Siapa tadi?"
"Ah iya, aku lupa menanyakan namanya," Tamara menepuk keningnya sendiri.
"Jadi kamu tidak kenal? Kenapa mau ditolong oleh orang yang tidak dikenal?" Tanya Lukas kesal.
"Memangnya kenapa? Orang mengenalku saja tidak mau membantu, jadi aku biarkan orang yang tidak ku kenal membantuku," jawab Tamara dengan ketus.
Lukas menoleh ke arah Tamara, entah mengapa ucapan ketus Tamara itu terasa seperti tamparan kencang di wajahnya.
Meski begitu Lukas harus tetap berusaha tenang. Ia tak mau Tamara mengetahui bahwa ia merasa kesal karena Tamara sudah tersenyum karena seorang laki-laki selain dirinya.
"Aku? Biasa saja," Tamara mengelak.
"Apa kau habis ditolong oleh seorang pangeran sampai merasa senang begitu?" Lukas menyinggung Tamara. Ia penasaran sekali akan reaksi Tamara selanjutnya.
"Kok kamu tau sih? Apa kamu melihat wajahnya? Ya ampun dia tampan sekali," puji Tamara sambil tersipu malu.
"Hah?" Lukas tak percaya dengan ekspresi wajah Tamara saat ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan melajukan mobilnya semakin kencang.
Lukas tak tau mengapa dirinya teramat sangat marah saat ini, ia sangat kesal karena Tamara tak hanya tersenyum pada pria lain, tapi ia juga bahkan nampak terpesona dengan pria itu.
"Bagaimana dia bisa secepat itu menyukai pria lain? Apa perasaannya padaku itu sudah selesai? Secepat itukah dia merubah-rubah hatinya?" Gumam Lukas dalam hatinya.
Ketika tiba di rumah, Lukas yang masih kesal pun hanya bisa membantu Tamara membuka kan bagasi mobil. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Lukas sudah tak peduli lagi dengan kesulitan Tamara yang tengah menurunkan koper-koper besar dan berat itu.
"Biarkan saja dia kesulitan, siapa suruh tadi membiarkan laki-laki lain membantunya? Membuatku kesal saja," gerutu Lukas.
Lukas pun berjalan masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, Lukas membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Masih dengan hati yang kesal, Lukas terus memaki-maki Tamara yang berlagak baik di depan pria lain.
"Bukannya dia bilang kalau dia menyukaiku? Kenapa dia malah tersenyum dengan pria lain? Apa rasa sukanya padaku bukan apa-apa?"
"Apa dia bilang? Tampan? Yang seperti itu dia bilang tampan? Lalu bagaimana denganku? Wajahku yang sempurna ini dia anggap apa? Apa dia sudah mulai bosan denganku?"
Lukas terus saja menggerutu di dalam kamarnya. Entah mengapa ia tak terima dengan sikap Tamara yang seolah tak memperdulikannya dan menganggap pria lain adalah orang yang istimewa.
"Cih, apa maksudnya senyuman itu? Bukankah beberapa saat yang lalu sebelum ku tinggalkan dia hanya tersipu malu padaku? Lalu apa maksudnya itu? Hanya karena pertolongan pria asing yang memasukkan empat buah koper ke dalam bagasi mobil dia sudah tersipu?"
Lukas menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Apa dia lupa bagaimana aku memperlakukannya seharian ini? Aku sudah mengantarnya belanja, membantunya bahkan membayarkan semua belanjaannya. Aku juga sudah memilihkan untuknya makanan terenak di tempat itu. Aku bahkan sudah membawakan semua koper selama di bandara."
"Apa upayaku itu kalah dengan satu bantuan memasukkan koper ke bagasi?"
Lukas semakin berapi-api. Ia merasa sudah tak sanggup menahan amarahnya. Lukas mengintip kamar Tamara dari balik gorden. Namun sialnya, kamar itu juga sudah tertutup gorden seperti di kamarnya.
"Ah, Olivia... Kenapa dia menutup kamar itu dengan gorden? Aku kan jadi tak bisa melihat dia sedang apa?"
Lukas akhirnya perlahan membuka pintu kamarnya, ia berjalan perlahan menuju kamar Tamara.
Perlahan pula Lukas membuka pintunya, ia mengintip dari celah pintu yang terbuka dan mendapati Tamara yang tertidur lelap di atas kasur.
"Bisa-bisanya dia sudah tidur padahal hari masih sore," gumam Lukas.
Lukas perlahan masuk ke dalam kamar Tamara, ia duduk di samping Tamara yang tengah tertidur pulas.
Merah bibir Tamara jelas mampu membuat Lukas menahan hasratnya untuk tak mencium gadis itu.
Lukas mendekatkan wajahnya ke wajah Tamara, dan bibir keduanya menyatu.
Lukas memejamkan matanya, menikmati bibir lembut Tamara. Hingga tiba-tiba ia tersadar.
"Bodoh! Apa yang ku lakukan barusan?" Lukas mengutuk dirinya sendiri. Lalu ia berjalan pergi dari kamar Tamara.
......................
Maaf ya aku telat update, karena lagi mengurus orang tua yang dirawat di rumah sakit. Tapi tenang saja, sebisa mungkin aku akan update trus setiap hari meski hanya 1 bab/hari. ☺️☺️
Happy reading 😘
__ADS_1