
"Gadis aneh," batin Lukas.
Ia tak menyangka Tamara adalah gadis yang baik sesuai dengan perkataan ibunya. Meski begitu, sulit rasanya bagi Lukas untuk belajar mencintai orang lain.
Lukas terbiasa dimanja sejak kecil, semua keinginannya selalu dituruti. Lukas juga selalu diperlakukan bagai raja di rumahnya. Tentu hal itu membuat Lukas merasa dirinya adalah orang yang hebat.
Tak mudah baginya untuk menyukai orang lain, karena bagi Lukas dirinya adalah orang yang paling hebat yang tak bisa dengan mudah dimiliki oleh siapapun.
Dirinya terlalu baik bagi orang lain, mereka tak pantas memiliki Lukas yang sangat sempurna ini.
"Apa kau punya kekasih?" Tanya Tamara.
"Tidak," jawab Lukas.
"Ku pikir kau sudah memiliki seseorang yang kau suka," ucap Tamara.
"Cih, mana ada? Aku terlalu sempurna untuk dimiliki," Lukas seperti biasa membanggakan dirinya.
"Ya ya, aku tau," Tamara hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lukas.
"Tapi ngomong-ngomong kau santai sekali bicara denganku. Ku pikir kau akan ngambek dan mengurung diri di dalam kamar," ucap Lukas.
"Memangnya aku anak kecil? Aku tadi hanya merasa sedih karena kau tak memperlakukan aku dengan baik, tapi ketika aku tau alasannya ya mau bagaimana lagi? Kita baru menikah, dan tak mungkin bercerai dalam waktu dekat ini kan? Mau tak mau aku akan terus bertemu denganmu bahkan tinggal bersama denganmu. Jadi ku putuskan untuk bersahabat saja denganmu," Tamara mengutarakan isi hatinya.
"Bersahabat? Siapa yang mau bersahabat denganmu?"
"Ya kamu lah, siapa lagi?"
"Aku? Aku tak mau!" Lukas menolak mentah-mentah.
"Mau tak mau, kau harus mau. Ingat, kau juga membutuhkan aku kan."
Lukas berpikir sejenak, apa yang dikatakan Tamara memang benar. Bagaimana pun Tamara saat ini adalah partner untuk mengelabui kakeknya agar terus percaya bahwa pernikahan mereka baik-baik saja. Sehingga Lukas tak akan kehilangan posisinya di perusahaan.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita bekerja sama dengan baik," Lukas mengulurkan tangannya.
Tamara melihat tangan Lukas sesaat. Ia lalu mengajukan syarat terakhir.
"Bisakah ku minta satu hal lagi?" Tanya Tamara.
"Cepat katakan, mumpung aku masih baik," ucap Lukas.
"Saat kita hanya berdua saja, bisakah kau tidak bersikap baik padaku? Saat ini, aku sedang belajar untuk melupakan perasaanku padamu. Karena aku sadar, suatu saat kita akan berpisah dan aku tak mau terlalu sedih saat berpisah denganmu nanti," pinta Tamara.
Lukas tertegun mendengar ucapan Tamara barusan, namun ia tetap mengiyakan syarat terakhir dari Tamara.
"Saat kita sedang berdua, sikap baikku padamu hanya sebatas teman," Lukas meralat ucapan Tamara. Karena tak mungkin ia berbuat kasar pada Tamara tanpa sebab.
"Baiklah," Tamara akhirnya menyambut uluran tangan Lukas, dan mereka pun bersalaman.
__ADS_1
Perbincangan mereka diperhatikan oleh seseorang dari balik tembok, tapi orang itu tak bisa mendengar ucapan mereka.
Lukas yang menyadari kehadiran seseorang yang terlihat memata-matai mereka, segera menarik tangan Tamara dan memeluknya.
"Hei," Tamara hampir saja marah namun Lukas segera memberi tau bahwa ada orang lain yang mengintai mereka saat ini.
"Sssttt... Ada yang mengintip di belakangmu. Jangan berbalik, balas saja pelukanku," pinta Lukas.
Tamara menurut, ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Lukas. Sejenak ia bisa merasakan aroma wangi dari tubuh Lukas.
"Jika terus begini meski hanya berpura-pura, mungkin aku tak akan bisa melupakan perasaanku," batin Tamara.
"Dia pergi," bisik Lukas.
Keduanya melepas pelukan mereka.
"Ayo kita kembali ke kamar," ajak Lukas.
Tamara mengangguk.
Lukas menggandeng tangan Tamara menuju kamar mereka. Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang pelayan yang menanyakan makan malam mereka.
"Aku mau makan barbeque ya, tolong siapkan itu. Kau sendiri bagaimana sayang?" Lukas bertanya ada Tamara sambil terus menatap mesra gadis di sampingnya itu.
"Aku terserah kamu saja," Tamara tersenyum manis mengikuti akting Lukas.
Ia lalu kembali mengajak Tamara untuk masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar.
"Aktingmu bagus sekali," puji Lukas.
"Aku tidak berakting," jawab Tamara.
"Ah benar, kau memang menyukaiku," gumam Lukas.
Keduanya duduk di sofa, mereka lebih memilih menghabiskan waktu satu jam ke depan untuk menonton televisi.
"Kau nanti tidur di kasur saja, biar aku yang tidur di sofa," ucap Lukas.
"Kenapa?"
"Anggap saja permintaan maaf dariku karena sudah sembarangan masuk saat kau mandir tadi," jawab Lukas.
"Benarkah?"
"Tentu saja," Lukas yakin dengan pilihannya kali ini. Meski ia tidak menyukai Tamara, tapi Lukas bukan orang jahat yang tega membiarkan seorang gadis tidur di sofa sementara dirinya tidur dengan nyaman di atas ranjang.
"Tapi kan sudah ku bilang, kau jangan bersikap terlalu baik padaku."
__ADS_1
"Hei, aku bersikap seperti ini bukan dengan maksud apa-apa. Ini hanya sebuah kepedulian sosial, aku tak mungkin tidur nyaman sementara ada orang yang meringkuk tidur di sofa."
"Kalau begitu, kenapa kita tidur sama-sama saja di tempat tidur?"
"Hei, aku tau pikiranmu. Ya sudah terserah kau saja, aku tak akan memaksa. Jika kau tak mau, biar aku sendiri yang akan tidur di tempat tidur!" Gerutu Lukas.
Tamara hanya tersenyum melihat tingkah Lukas, Tamara yakin Lukas tak sejahat itu. Mereka hanya belum saling mengenal saat ini, mungkin suatu saat Tamara bisa menaklukan hati Lukas.
"Mungkin kah?" Tamara bertanya dalam hatinya sendiri. Ia sendiri tak yakin, karena Tamara sangat sadar diri bahwa dirinya jauh dari kata cantik.
Satu jam berlalu, Lukas mengajak Tamara untuk pergi ke ruang makan dan makan malam bersama.
"Jangan lupa, kita harus terlihat mesra meski hanya di depan para pelayan," ucap Lukas mengingatkan.
"Tenang saja, percayakan saja padaku!"
Lukas tau, seharusnya ia tak perlu mengatakan hal itu pada Tamara. Karena tanpa diminta pun Tamara pasti dengan senang hati akan melakukannya.
Lukas hanya sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia harus berakting mesra dengan Tamara malam ini. Tidak! Sampai lusa ia masih harus berakting.
Lukas menggandeng tangan Tamara saat berjalan menuju ruang makan. Kali ini mereka makan malam di ruang makan yang mengarah ke laut.
Suasana ruang makan outdoor itu di sulap menjadi tempat yang sangat romantis.
Satu orang koki sudah berada di sana, sedang memanggang daging untuk disantap Lukas dan Tamara.
Lukas secara gentleman menarik kursi untuk Tamara duduk.
Tamara tersenyum manis sambil menatap Lukas, ia tau Lukas hanya akting, tapi baginya ini sungguh menyentuh hati.
Tamara belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya oleh siapapun.
"Makanlah," ucap Lukas.
"Mmm... Kau juga," keduanya saling menatap dengan mesra. Hingga hidangan penutup tiba.
Setelah selesai makan, Lukas mengajak Tamara untuk segera kembali ke kamar. Ia lelah karena harus terus-terusan berakting seperti ini.
"Sayang, ayo kita kembali ke kamar," ajak Lukas dengan nada merayu.
"Kau sudah tidak sabar ya?" Tamara malah balik menggoda.
Tentu saja hal itu membuat Lukas terkejut, ia tak menyangka Tamara akan membalas rayuannya.
"Ya sudah, ayo..." Tamara dengan manja bergelayut di tangan Lukas.
Meski sedikit risih, Lukas pasrah saja meladeni Tamara yang bermanja-manja dengannya.
"Sabar Lukas, sabar..." batin Lukas.
__ADS_1