Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 84


__ADS_3

Tamara dan Lukas sedang berada di restoran ayam goreng yang berada tepat di sebelah supermarket.


Masih membawa boneka besar milik Jake yang dititipkan pada Tamara. Sebenarnya Lukas merasa kesal dan ingin membuang saja boneka merepotkan itu.


Namun Tamara memarahinya.


"Itu bukan punyaku, itu punya Jake. Dia hanya menitipkan padaku sementara dan tau kapan akan mengambilnya," oceh Tamara.


Baru kali ini Tamara berani memarahi Lukas, biasanya dia hanya diam jika ada sesuatu yang tidak ia suka.


Lukas yang tau Tamara sedang kelaparan pun diam saja, ia tak menanggapi ocehan Tamara.


"Ayo, makanlah yang banyak," pinta Lukas. Ia sendiri tak mau makan karena memang tak berselera makan di luar.


Selama ini jika mereka keluar, Lukas tak keberatan jika Tamara mengajaknya makan di sana sini. Namun Lukas tak mau ikut memakannya, ia lebih memilih menahan lapar dan makan masakan Tamara di rumah.


Dan Tamara yang tau Lukas hanya mau makan masakan yang dibuatnya pun tak merasa keberatan. Karena sebelumnya Lukas sudah memenuhi keinginannya untuk makan dimana pun Tamara mau.


Puas makan satu porsi ayam goreng, Tamara langsung menghabiskan segelas jus jeruk di hadapannya.


"Hahhh... Senangnya," gumam Tamara.


"Sudah kenyang?"


"Mmm..." Tamara mengangguk. "Kamu gak lapar?"


"Lapar, tapi itu tak penting sekarang."


Tamara terdiam, ia tak mengerti maksud ucapan Lukas.


"Kalau sudah lapar, ayo kita pulang. Kamu mau makan apa biar aku masakkan."


"Jangan mengalihkan pembicaraan," Lukas sudah mulai kembali pada mode seriusnya.


Tamara menghela nafas panjang, ia bukan bermaksud mengalihkan pembicaraan. Namun apa yang akan ia ceritakan mungkin akan memakan waktu cukup lama.


Tamara khawatir, Lukas akan sakit karena telat makan. Lagi pula, ia kan bisa menceritakannya di rumah sambil menemani Lukas makan nanti.


Namun Lukas tetap ingin Tamara mengatakan sekarang juga.


Mau tak mau Tamara pun menceritakan apa yang ia alami saat di makam Adrian tadi. Lukas mendengarkan dengan seksama, ia berusaha melihat apakah Tamara sedang jujur saat ini atau tidak.


Namun, seperti yang Lukas tau. Tamara memang tidak suka berbohong. Setelah mendengar cerita dari Tamara, kini barulah Lukas merasa sangat lapar.

__ADS_1


"Ayo pulang, aku lapar," Lukas mengajak Tamara pulang.


"Kamu gak mau komentar atau bertanya apapun?" Tamara heran karena Lukas hanya mendengarkan ceritanya tanpa berkomentar apalagi bertanya apapun padanya.


"Nanti saja, aku sudah sangat lapar," Lukas lalu menggandeng tangan Tamara. Tak lupa tangan satunya ia membawa boneka besar milik Jake.


Tiba di mobil, Lukas meletakkan boneka beruang besar itu di kursi belakang. Lalu ia membukakan pintu untuk Tamara.


"Terima kasih," meski sudah sering diperlakukan istimewa oleh Lukas, namun Tamara tetap masih merasa tersanjung. Ia tak pernah lupa mengucapkan terima kasih atas setiap perlakuan baik Lukas padanya.


Setelah Tamara masuk, Lukas pun berjalan memutar menuju kursi kemudi. Ekspresinya datar, membuat Tamara bingung apa saat ini Lukas masih marah atau tidak.


Tiba di rumah, Tamara langsung menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuk Lukas. Lukas pun mengikuti di belakang, ia terus memperhatikan Tamara yang kini sibuk menyiapkan makan malamnya di dapur.


Itulah hal yang paling Lukas suka, memandangi istrinya memasak di dapur. Entah mengapa Tamara terlihat sangat seksi saat sedang berjibaku bersama bahan-bahan dan alat-alat masak di dapur.


"Bonekanya kamu taruh mana?" Tamara kelupaan soal boneka karena terlalu fokus menyiapkan makan malam Lukas.


"Masih di mobil, kenapa?"


"Tidak apa-apa, nanti jangan lupa diturunkan ya," pinta Tamara.


Lukas yang emosinya sudah mulai mereda, kini kembali kesal karena Tamara kembali membahas soal boneka milik Jake.


"Kenapa juga dia titipkan barang itu padamu?" Tanya Lukas kesal.


"Lalu apa dia akan mengambilnya ke sini?"


Tamara terdiam, ia lupa kalau Jake tak tau rumahnya dan juga nomor ponselnya.


"Kenapa diam?"


"Hehe, aku lupa kalau dia tak punya nomor ponsel ku dan bahkan dia juga tak tau rumahku," jawab Tamara.


"Kenapa bisa begitu?"


"Mmm... Itu karena aku ragu padanya," jawab Tamara ragu.


"Lihat, kau sendiri ragu padanya apalagi aku. Jujur saja, aki sedikit curiga kalau dia itu bukan sepupumu. Dari cara dia menatapmu saja terlihat sangat berbeda," Lukas mulai meluapkan rasa kesalnya.


"Tatapannya? Dari mana kamu tau?"


"Tentu saja aku tau, aku melihat kalian sangat akrab sekali tadi. Wahhh... Aku merasa sedang diselingkuhi sekarang," Lukas semakin kesal.

__ADS_1


"Aku tidak selingkuh, sungguh!" Tamara buru-buru menghampiri Lukas.


"Mana bisa ku percaya?"


"Sungguh sayang, aku baru kenal dengannya hari ini. Dan dia tiba-tiba mengaku kalau dia juga adalah cucu kakek, bukankah itu berarti dia sepupuku?"


"Lalu kenapa dia membelikan mu boneka?"


"Boneka itu bukan untukku, itu untuk orang yang dia suka."


"Siapa?"


"Mana ku tau? Dia tidak bilang."


"Tentu saja itu kamu! Bagaimana mungkin kamu tidak sadar?" Lukas meninggikan suaranya karena terlalu kesal.


"Tidak mungkin aku, aku baru bertemu dengannya hari ini. Bagaimana bisa dia menyukai orang yang baru saja dia temui?" Tamara berusaha menjelaskan.


Lukas mendesah kesal, entah mengapa baginya jawaban Tamara sangat tak masuk akal.


"Itu kan menurutmu, bisa saja dia selama ini sudah mengincar mu. Dan baru bisa mendekatimu hari ini?"


Tamara mengernyitkan keningnya, ia tak menyangka Lukas akan sangat mencurigai Jake sampai segitunya. Namun apa yang dikatakan Lukas memang masuk akal.


Bisa saja Jake memiliki rencana lain, tadi saja Jake langsung pergi saat tau Lukas akan datang. Padahal Tamara hendak mengenalkannya secara langsung.


Jika seperti ini, wajar saja jika Lukas curiga.


"Kenapa? Apa yang ku katakan benar kan?" Lukas masih dengan emosinya.


Tamara masih terdiam, ia tak tau harus menjawab apa. Meski ia juga curiga pada Jake, namun ia tak merasa jika Jake menyukainya. Itu adalah hal yang mustahil baginya.


"Tidak mungkin dia menyukaiku," ucap Tamara pelan.


"Tidak mungkin bagaimana? Boneka itu buktinya!" Suara Lukas masih meninggi.


"Bukti apa yang kamu dapat dari boneka itu?" Tamara merasa semakin tersudut, namun apa yang dikatakan Lukas terlalu mengada-ada baginya.


"Kau pura-pura tidak tau atau memang bodoh? Jika dia memang menitipkan padamu, lalu bagaimana cara dia mengambilnya? Dia bahkan tak tau tempat tinggal mu dan juga nomor ponselmu!"


"Aku tidak bodoh! Aku juga curiga padanya, tapi mengenai boneka itu... Aku sendiri juga tak tau," Tamara ingin mendebat perkataan Lukas namun ia juga tak bisa membela dirinya.


"Kamu itu terlalu polos, tidak! Kamu itu bodoh!"

__ADS_1


Tamara tertegun mendengar ucapan Lukas. Hatinya sangat sakit mendengar kata-kata Lukas yang sangat menyayat hati.


Tamara tak mau melanjutkan perdebatan itu, ia lebih memilih kembali ke dapur. Melanjutkan aktivitas memasaknya, dan sesegera mungkin menghidangkannya untuk Lukas.


__ADS_2