
Sore hari, Tamara bangun terlebih dahulu. Ia menyadari ada sosok Lukas yang tertidur pulas di sampingnya. Tamara duduk dan memandangi wajah tampan Lukas.
"Bagaimana bisa dia tidur di sini? Apa dia tidak risih denganku?" Gumam Tamara.
Tamara membelai poni Lukas yang menutupi dahinya. Jantung Tamara bergemuruh dengan kencang, ada dorongan hasrat dari dalam dirinya. Untuk sekedar mencium bibir atau kening Lukas.
Ragu-ragu Tamara hendak melakukan hal itu, namun tiba-tiba...
"Sedang apa kau?"
Tamara yang melihat Lukas tiba-tiba membuka matanya tentu saja terkejut.
Lukas terbangun dan segera duduk menghadap Tamara.
"Kau boleh memandangi wajahku sampai kau muak, meski hal itu tak akan mungkin terjadi. Tapi ingat satu hal, jangan pernah berpikir untuk menciumku!" Lukas beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Jantung Tamara masih bergemuruh kencang, ia tak menyangka Lukas akan memergokinya hendak mencium wajah Lukas.
"Sial, harusnya ku lakukan dengan cepat," gumam Tamara.
"Tapi tunggu dulu, apa dia baru saja secara sadar sudi untuk tidur bersamaku di atas ranjang?"
Tamara merasa semakin berdebar-debar. Entah mengapa ia merasa harapan untuk membuat Lukas membalas perasaannya terbuka semakin lebar.
"Apa dia sudah mulai menerimaku sebagai istrinya?" Tamara terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri.
"Baiklah Tamara, sekarang saatnya kau tunjukkan pesonamu padanya. Buat agar dia klepek-klepek, dan jatuh cinta padamu!" Tamara membulatkan tekadnya untuk membuat Lukas jatuh hati padanya.
Lukas keluar dari kamar mandi dan kembali naik ke atas tempat tidur.
"Kau mau tidur lagi?" Tanya Tamara.
"Mmm..."
"Apa kau tak mau mengajakku jalan-jalan sore?"
"Memangnya kau mau kemana? Tak lihat diluar hujan masih saja turun?"
"Kau benar, ya sudah... Kalau begitu aku juga mau tidur lagi," Tamara ikut-ikutan kembali menarik selimut.
"Hei, kau mau apa?" Lukas terlihat ingin protes.
"Tidurlah, memang apalagi yang bisa ku lakukan di pulau terpencil ini?"
"Kau pindah saja ke sofa sana!" Perintah Lukas.
__ADS_1
"Tidak mau!" Tamara semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.
Lukas mendesah kesal.
"Hei, sudah cukup kompensasinya. Pindahlah sana!"
"Tidak mau!" Tamara masih menyelimuti dirinya.
"Sepertinya kau memang sangat ingin tidur denganku ya! Kenapa tidak sekalian saja kau buka bajumu dan merayuku?"
Tamara mengintip dari balik selimut.
"Haruskah aku melakukan itu?" Tanya Tamara.
"Hah... Aku tak percaya kau menganggap serius omonganku. Ya, lakukanlah! Aku yakin kau tak akan berani!" Lukas menantang Tamara.
"Kenapa aku tidak berani? Kau kan sudah pernah melihatku tanpa busana, jadi apa yang mau ku sembunyikan lagi darimu?"
Tamara membuka kaos yang melekat di tubuhnya, tentu saja hal itu membuat Lukas segera berpaling.
"Hei, jangan macam-macam kau!"
"Kenapa kau malu-malu? Bukankah kau juga sudah melihat semuanya?"
"Tamara, tunggu! Jangan lakukan hal konyol di sini!"
"Hal konyol apa? Kau mau bilang kalau aku mau memperkosamu? Silahkan saja teriak, mereka tak akan ada yang datang membantumu. Aku ini kan istrimu yang sah, jadi tidak masalah jika aku memperkosa suamiku sendiri."
"Kenapa? Kau tidak mau bermain denganku?"
Lukas menghela nafas panjang, ia masih memalingkan wajahnya dari Tamara.
"Kenapa kau tidak mau mencoba dulu? Ku dengar, kau akan ketagihan jika sudah pernah merasakannya satu kali," Tamara semakin gencar merayu Lukas.
Ia sudah menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Bahkan Tamara sengaja membuang semua baju, celana, hingga pakaian dalamnya ke arah dimana Lukas memalingkan wajahnya.
Tamara menggeser tubuhnya hingga tak ada jarak lagi di antara keduanya.
Bagai tersengat aliran listrik. Lukas reflek menjauhkan badannya saat kulit Tamara menempel di tubuhnya.
Tamara tidak menyerah, ia semakin mendekatkan diri bahkan memeluk tubuh Lukas dari belakang.
Lukas terdiam, ia merasakan tubuh Tamara sudah melekat pada tubuhnya.
"Aku mencintaimu Lukas," ucap Tamara. Ia sendiri sebenarnya malu karena harus melakukan itu pada Lukas.
Namun bagaimanapun Lukas adalah suaminya saat ini, jika Lukas tak ada niat untuk menyentuhnya lebih dulu, maka ia yang harus berinisiatif.
__ADS_1
Tamara sudah tak peduli lagi dengan perasaan Lukas, yang pasti ia tak mau jika sampai berpisah dengan Lukas. Dan Tamara tidak melakukan apapun sebagai usaha untuk membuat Lukas menyukainya.
Lukas melepaskan pelukan Tamara, dengan cepat ia berbalik badan dan menjatuhkan tubuh Tamara hingga kini Tamara jatuh terlentang di bawah tubuh Lukas.
Lukas meletakkan kedua tangan Tamara si atas kepalanya, ia juga mencengkram erat tangan itu agar tak bisa bergerak bebas.
Lukas menatap dalam mata Tamara.
"Jangan merayuku, seakan kau adalah wanita penggoda yang sedang menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang. Jika kau pikir aku akan menyukaimu, kau salah besar! Aku malah semakin jijik padamu!"
Tatapan tajam Lukas pada Tamara tentu saja membuat Tamara diam tak berkutik. Saat itu, luka yang lebih dalam telah Lukas goreskan di hati Tamara.
Andai Lukas tau betapa malunya ia melakukan hal itu karena itu adalah pertama kalinya bagi Tamara.
"Katakan sejujurnya padaku! Apa kau sudah pernah melakukannya?"
Tamara menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bohong! Kau bahkan terlihat ahli sekali merayuku tadi!"
"Dari mana kau tau aku ahli? Kau pasti sering melakukannya!" Tamara tak mau kalah, ia tak terima dirinya yang masih suci itu difitnah oleh suaminya sendiri.
Lukas terdiam. Ia sendiri juga tak pernah melakukannya, namun entah mengapa ia tau bahwa Tamara sangat ahli.
Mungkin karena sebenarnya Lukas hampir saja tergoda oleh Tamara, sehingga Lukas berkesimpulan bahwa Tamara pasti sering merayu seorang pria hingga dirinya yang tak mudah dirayu saja hampir tergoda.
"Kau tak perlu tau aku tau dari mana! Yang pasti ini peringatan terakhir dariku. Jangan pernah menggodaku lagi!" Ancam Lukas masih dalam posisi yang sama.
"Kalau aku tak mau?" Tamara malah semakin menantang.
"Kau sepertinya sudah sangat gatal ingin ku habisi," Lukas semakin mempererat cengkramannya.
"Ah..." Tamara yang sedikit kesakitan mengeluh.
Namun keluhan yang keluar dari mulut Tamara itu terdengar seperti ******* di telinga Lukas.
Lukas semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Tamara.
Melihat wajah Tamara yang semakin mendekat, tentu saja hal itu membuat Tamara memejamkan matanya seketika.
Lukas berhenti, ia menatap wajah Tamara yang malah kini terlihat ketakutan. Lukas menyeringai.
"Kau hanya berlagak ternyata," gumam Lukas. Tapi gumaman itu terdengar jelas di telinga Tamara karena jarak mereka yang sangat dekat.
Tamara lalu membuka matanya lebar-lebar. Meski sebenarnya dalam hati ia sedikit takut, karena menurut rumor yang beredar melakukan hubungan untuk pertama kalinya pasti sangat sakit.
Namun Tamara tak mau menunjukkan rasa takutnya itu di hadapan Lukas.
__ADS_1
"Aku tidak berlagak, lakukanlah! Aku tau kau juga pasti sudah tak tahan melihat gadis yang tak berbusana sepertiku berada di jarak yang sangat dekat sekali denganmu!"
Lukas kembali menyeringai. Ia lalu melepaskan cengkramannya dan beranjak pergi meninggalkan Tamara seorang diri di dalam kamar.