
Hari kedua liburan, Lukas mengajak Tamara mendaki bukit. Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah bangun dan bersiap untuk perjalanan mereka.
Setelah bersiap, keduanya berjalan perlahan menuju pemukiman warga dan bukit kecil di belakangnya.
Tamara sangat menikmati perjalanan mereka pagi itu, Meski udaranya masih sangat dingin tapi sangat sejuk.
"Sayang, jujurlah. Apa kamu sebelumnya pernah datang ke tempat ini?" Tanya Tamara.
"Pernah," jawab Lukas singkat.
"Sama siapa?" Tamara mulai waspada, jikalau Lukas menyebut nama wanita nantinya.
"Mmm... Itu saat aku masih kuliah dulu," Lukas mulai ceritanya sambil mengingat-ingat kembali masa lalunya.
"Kamu pergi ke sini sama teman-teman kamu?" Tanya Tamara penasaran.
"Iya, salah satu teman kami ada yangn berasal dari kota ini," jawab Lukas.
"Oh ya?"
"Mmm..." Lukas mengangguk.
"Kalau begitu kenapa kita tidak mampir saja ke rumahnya?"
"Aku tak yakin dia masih tinggal di kota ini."
"Kenapa? Apa saat itu dia berencana untuk pindah?"
"Tidak, aku hanya sudah lama tak mendengar kabar darinya."
"Kalau begitu kenapa tidak kamu coba datangi saja rumahnya?"
Lukas diam sejenak.
"Aku sudah lupa dimana rumahnya," Lukas berjalan mendahului Tamara. Ia sepertinya enggan untuk membicarakan orang itu. "Sudahlah, kita ke sini kan untuk berlibur bukan untuk bertemu dengannya."
Tamara pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut pada Lukas.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak yang terus menanjak.
__ADS_1
"Medannya tidak terlalu sulit," gumam Tamara. "Kalau begini aku bisa dengan mudah sampai ke tujuan."
"Ini belum apa-apa, sekarang kita harus berbelok ke sana," Lukas menunjuk sebuah jalan yang sepertinya jarang dilalui orang-orang. Jalan yang medannya terlihat lebih sulit dari sebelumnya.
"Hati-hati," ucap Lukas sambil mengulurkan tangannya hendak membantu Tamara.
"Iya," Tamara meraih tangan Lukas untuk bisa naik ke atas.
Medan yang mereka lalui kali ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya, Tamara berkali-kali hampir terpeleset. Jika saja Lukas tak memeganginya, mungkin Tamara sudah jatuh terperosok. Berkali-kali Tamara ingin menyerah namun Lukas tetap memberinya semangat. Lukas ingin sekali memperlihatkan pada Tamara pemandangan yang dulu pernah ia lihat sebelumnya.
Sudah sekitar dua jam mereka berjalan di jalanan yang cukup terjal. Lukas menghentikan langkah kakinya dan mengajak Tamara untuk beristrahat untuk yang ke sekian kalinya.
"Ayo kita duduk dulu," Lukass membersihkan sebuah batu dengan tangannya dan mempersilahkan Tamara untuk duduk.
"Hah... Hah... Hah... Aku capek banget," Tamara merasa sudah tak sanggup untuk berjalan cukup jauh. Selama perjalanan ia tak bisa mengeluh karena Lukas terus menyemangatinya. Tapi rasanya saat ini Tamara merasa sudah tak sanggup lagi.
"Tapi kamu hebat sudah sampai sejauh ini, sebentar lagi kita akan sampai di tempat yang aku maksud," Lukas kembali menyemangati Tamara.
"Apa tempatnya memang seindah itu?" Tanya Tamara yang sepertinya sudah sangat enggan untuk melanjutkan perjalanan.
"Tentu saja, sayang sekali kalau kamu menyerah sekarang."
Melihat Tamara yang sudah siap berjalan lagi, Lukas pun jadi makin semangat.
"Ayo sayang, tidak akan lama kok. Kita hanya akan berjalan sekitar satu jam lagi," ucap Lukas tanpa dosa.
"Apa? Satu jam lagi?" Ucapan Lukas barusan membuat Tamara kehilangan semangatnya. "Apa aku menyerah saja?"
"Ayolah sayang, untuk sampai di sini kita butuh waktu dua jam lebih. Kalau kamu mau kita kembali lagi, kita butuh waktu dua jam untuk sampai. Bukankah lebih baik kita melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal satu jam saja?"
"Tapi kan perjalanan kita jadi semakin jauh," keluh Tamara.
"Ayolah sayang, aku sangat ingin memperlihatkan tempat ini padamu," Lukas memohon.
Tamara menghela nafas panjang.
"Ya sudah, ayo!" Tamara kembali berjalan perlahan. Memang sejak awal ia yang meminta pada Lukas agar saat liburan nanti jangan hanya di rumah saja. Namun Tamara sungguh tak menyangka jika aktivitas luar yang Lukas maksud adalah mendaki.
Tamara yang memang tidak suka berolah raga tentu saja merasa kewalahan pada perjalanan kali ini.
__ADS_1
"Sebentar lagi sayang, ayo...!" Lukas menarik tangan Tamara agar Tamara bisa berjalan lebih cepat.
Mereka hampir tiba di tempat yang Lukas maksud. Itu bukanlah puncak dari bukit itu, namun pemandangan di tempat itu sungguh sangatlah indah.
Ada sebuah jembatan yang menghubungkan bukit satu dengan yang lainnya. Lukas mengajak Tamara untuk menaiki jembatan tersebut.
"Pelan-pelan sayang," Tamara merasa ketakutan karena jembatannya bergoyang seiring dengan langkah kaki mereka.
"Oh iya, maaf sayang. Ayo sini pegang tangan aku," Lukas yang terlalu bersemangat lupa jika Tamara tak seberani dirinya.
"Kamu yakin, jembatan ini kokoh?" Tamara melihat ke arah jurang di bawahnya.
"Ayolah sayang, kamu saja berani naik wahana di pasar malam. Masa naik begini saja tidak berani?"
"Bukannya begitu, aku cuma takut jemabtannya akan roboh," Tamara memberi alasan.
"Tidak akan sayang, lihatlah ini kokoh sekali," Lukas melompat-lompat di atas jembatan agar Tamara percaya jika jembatan itu benar-benar kokoh.
"Iya iya, sayang aku percaya..." Tamara malah semakin takut melihat Lukas yang terus melompat-lompat agar Tamara yakin bahwa jembatan itu memang benar-benar kokoh.
Lukas pun tersenyum. Tanpa terasa mereka sudah tiba di tengah jembatan.
"Sayang, lihatlah!" Lukas menunjuk ke arah samping. Tamara mengikuti kemana tangan Lukas mengarah. Dan benar saja, sebuah pemandangan yang sangat indah bisa ia lihat saat ini.
Dari atas jembatan mereka bukan hanya bisa melihat pohon-pohon di bawah mereka yang tumbuh dengan subur. Tetapi jauh di hadapan mereka, ada sebuah gunung es yang menjulang tinggi. Karena cuacanya yang cerah hari itu, gunung es itu terlihat sangat indah.
"Bagaimana? Baguskan?" Lukas menatap Tamara yang matanya kini tengah berbinar.
Tamara tersenyum sambil mengangguk, ia tak bisa berkata apa-apa. Tamara merasa sangat bersyukur bisa melihat pemandangan seindah itu. Suara kicauan burung disekitar mereka menambah suasana menjadi sangat indah.
"Dulu saat aku ke sini bersama teman-temanku, kami berjanji suatu saat akan datang lagi ke tempat ini bersama orang yang kami sayangi. Tapi saat itu, aku masih menjadi diriku yang dulu. Lukas yang egois, yang sama sekali tak memberikan kesempatan pada gadis manapun untuk mendekatinya."
Tamara mendengarkan cerita Lukas sambil menatap Lukas penuh cinta, sementara Lukas bercerita tanpa berani menatap Tamara. Matanya terus tertuju pada gunung es jauh di seberang sana.
"Saat itu aku bilang pada mereka. Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang tak akan kembali ke tempat ini. Tapi ternyata aku salah, aku terlalu cepat memutuskan. Aku tak menyangka akan kembali lagi ke tempat ini."
"Itukah alasannya kenapa kamu tak mau bertemu dengan temanmu yang tinggal di kota ini?" Tanya Tamara.
Luaks menoleh ke arah Tamara.
__ADS_1
"Hehe, aku ketahuan."