
Mobil kembali melaju dengan perlahan, kali ini Erik yang mengambil alih kemudi. Mereka berkendara menuju pusat kota. Wajah Pras yang terlihat pucat pasi harus segera di bawa ke rumah sakit, sepertinya ia sudah kehilangan banyak darah.
Tamara nampak sudah jauh lebih tenang, meski sesekali ia masih terlihat meneteskan air mata.
Lukas masih merangkul Tamara, tatapan matanya menatap kosong ke arah luar jendela. Ia sendiri tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi. Lukas tak tau jika ia memilii keberanian untuk menghabisi nyawa seseorang.
“Aku tidak membunuhnya, aku hanya ingin menjauhkannya dari istriku,” batin Lukas.
Lagi pula, belum bisa dipastikan apakah Richard memang sudah mati atau belum. Tak ada satu orang pun yang melihat ke arah jurang setelah Richard jatuh.
Lukas menatap sedih ke arah Tamara, ada perasaan menyesal karena ia telah membentaknya tadi. Padahal terlihat dengan jelas bahwa Jake sedang butuh pertolongan saat ini. Tubuh Jake yang sama babak belurnya dengan Pras pasti juga karena sudah membela istrinya.
“Apa dia baik-baik saja? Apa dia juga ada di dalam mobil yang sama dengan Richard?” Pikiran Lukas masih terus saja memikirkan akan nasib Jake. “Ku rasa, Jake masih ada di mobil yang hancur tadi. Ku harap begitu.”
Tak hanya Lukas, Tamara pun juga terus memikirkan nasib Jake. Namun ia tak berani untuk bicara sepatah kata pun. Tamara takut, Lukas akan kembali marah jika mendengar nama itu di sebut.
“Ah, benar. Aku kan belum menceritakan tentang Jake pada Lukas. Lukas tadi marah karena ia belum tau kisah yang sebenarnya.” Batin Tamara.
Tamara melirik ke arah Lukas sekilas. Terlihat Lukas pun juga sedang menatapnya.
“Maafkan aku,” ucap Tamara dengan suara yang lemah sambil menundukkan wajahnya.
Lukas meraih kepala Tamara dan merebahkan di bahunya.
“Tidurlah,” ucap Lukas dengan suara yang lembut.
Dari nada bicaranya, Tamara tau bahwa saat ini Lukas sudah tak lagi marah. Emosinya sudah mereda.
“Haruskah ku ceritakan padanya sekarang?” Tamara sebenarnya sudah tak sabar ingin menceritakan tentang Jake pada Lukas. Ia sudah menundanya untuk menceritakan apa yang ia ketahui perihal Jake. Tapi Tamara sendiri tak tau harus memulai dari mana?
Akhirnya Tamara kembali memilih untuk menundanya lagi. “Akan ku ceritakan nanti, saat kami sudah sampai di rumah.” Pikir Tamara.
***
Di tempat Dominic, saat ini pak Nuh suda turun dari mobil dan berjalan masuk ke halaman rumah Richard. Dari luar nampak sepi seperti tak berpenghuni.
Pak Nuh berjalan perlahan menuju pintu rumah. Pak Nuh langsung mengetuk pintu. Ia terlihat sangat tenang, namun tetap waspada.
__ADS_1
Menunggu cukup lama, namun tak ada jawaban dari dalam rumah. Pak Nuh kembali mengetuk pintu dengan lebih keras.
“Tunggu sebentar!” terdengar suara lirih dari dalam.
Mendengar itu, pak Nuh merasa sedikit lega. Karena sepertinya itu adalah suara dari istri Richard.
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang di seret perlahan. Lalu tak lama kemudian, pintu pun terbuka.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh sampai enam puluh tahunan berdiri di balik pintu. Badannya tinggi dan kurus, rambutnya putih, panjang bergelombang, kulitnya putih bahkan lebih terlihat pucat seperti orang yang tidak pernah terkena sinar matahari.
Wanita itu memakai terusan berwarna putih, rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Wanita itu memakai kaca mata berwarna keemasan. Meski sudah tak lagi muda, namun masih terlihat dengan jelas kecantikan dan keanggunan yang dimiliki oleh wanita itu.
“Siapa ya?” Tanya wanita itu.
“Selamat sore, perkenalkan saya Nuh. Saya adalah sopir pribadi tuan Dominic,” pak Nuh memperkenalkan diri.
“Dominic?” Wanita itu nampak sedang mengingat-ingat nama Dominic.
“Iya nyonya,” jawab pak Nuh sopan. Meski wanita di hadapannya nampak baik dan ramah, pak Nuh sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya. Sesekali ia melihat ke dalam rumah, apakah ada orang lain di dalam sana?
“Ada urusan apa ya?” Wanita itu tak bisa mengingat siapa Domini, meski begitu ia tetap menanyakan maksud dan tujuan pak Nuh datang ke kediamannya.
“Iya benar,” jawab wanita itu sambil mengangguk perlahan.
“Apa tuan Richard ada?” Tanya pak Nuh. Matanya fokus tertuju ke dalam rumah yang terlihat gelap. Padahal hari sudah hampir gelap, seharusnya wanita itu sudah menyalakan seluruh lampu di area dalam rumah. Namun wanita itu malah membiarkannya begitu saja, gelap tanpa penerangan.
“Ah, Richard sedang keluar rumah. Ia sudah pergi sejak pagi hari,” jawab wanita itu.
“Oh,” pak Nuh mengangguk paham. Dilihat dari gaya bicaranya, wanita di hadapannya ini nampak seperti orang yang lembut dan baik hati. Ia mungkin tidak terlibat dengan kasus penculikan Tamara.
“Apa ada sesuatu mengenai suami saya?” wanita itu bertanya ragu-ragu.
Pak Nuh diam sejenak, ia tak yakin apa harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
“Begini nyonya, apa anda bisa ikut dengan saya sebentar? Sepertinya lebih baik anda berbicara langsung dengan majikan saya,” pinta pak Nuh dengan sopan.
Wanita itu nampak berpikir sejenak, setelah menimbang-nimbang untuk beberapa saat, wanita itu akhirnya setuju untuk ikut dengan pak Nuh.
__ADS_1
“Apa ini mengenai suami saya atau anak saya?” Tanya wanita itu saat mereka sedang dalam perjalanan menuju mobil dimana Dominic berada.
Pak Nuh menatap wanita itu, “anak?”
“Iya, Jake sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah. Ah, bahkan ia sudah tak pulang sejak dua minggu yang lalu. Kemana sebenarnya Jake pergi? Tak biasanya ia pergi tanpa memberi kabar,” Wanita itu terus meracau seolah ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
“Jadi anak anda sudah tidak pulang ke rumah sejak dua minggu yang lalu?” Tanya pak Nuh meyakinkan.
“Iya,” jawab wanita itu sambil mengagguk pelan.
“Apa itu saat nona hampir di tusuk di dalam supermarket?” Batin pak Nuh.
Mereka akhirnya tiba di mobil Dominic.
“Masuklah nyonya, tuan Dominic ada di dalam,” pak Nuh mempersilahkan istri Richard untuk masuk ke dalam mobil. Tak lupa, pak Nuh juga membukakan pintunya.
Istri Richard menurut dan langsung masuk ke dalam mobil begitu pintu mobilnya terbuka.
Di dalam mobil, sudah ada Dominic yang menunggu. Dominic tak menyangka pak Nuh akan membawa istri Richard ke tempatnya.
“Kau kah istri dari Richard?” Tanya Dominic dengan nada yang dingin.
“Iya,” jawab wanita itu sopan.
“Siapa namamu?”
“Saya Sandra, apa anda yang bernama tuan Dominic?”
Dominic mengangguk.
“Suamimu tidak ada di rumah?”
“Iya, dia sudah pergi sejak pagi hari. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya istri Richard dengan wajah yang khawatir.
“Suamimu telah menculik cucu menantuku, keponakannya sendiri,” jawab Dominic sambil terus mengamati reaksi wajah Sandra.
“Tamara?”
__ADS_1
“Kau tau Tamara?” Dominic mengernyitkan dahinya.