
Lukas berjalan menghampiri Tamara, ia mengambil koper besar yang kini dibawa oleh Tamara.
"Sini, biar aku saja yang bawa," ucap Lukas seraya berlalu meninggalkan Tamara.
Tamara yang bingung dengan sikap Lukas yang tiba-tiba baik hanya bisa tersenyum saja.
"Lagi kemasukan setan apa dia jadi baik begitu?" Gumam Tamara. Meski begitu, ia tak mempermasalahkan karena jarang sekali Lukas berbuat baik padanya.
Mereka menaiki perahu menuju dermaga. Kali ini Tamara duduk dengan tenang di dalam perahu, tidak seperti saat ia datang ke pulau pribadi Dominic. Yang tidak mau duduk bersebelahan dengan Lukas dan memilih berada di luar perahu.
Kali ini, Tamara duduk anteng di sebelah Lukas. Penjaga vila yang waktu itu menjemput mereka berdua kini mendapat tugas mengantar mereka kembali hingga ke bandara.
Penjaga vila itu duduk tepat di belakang Lukas dan Tamara.
"Apa masih sakit?" Tanya Lukas sedikit berbisik.
"Kalau masih, memangnya kenapa? Apa kau mau menggotong ku agar aku tak perlu berjalan?" Tamara membalas dengan ketus.
"Jika memang harus seperti itu, kenapa tidak?"
Tamara memperhatikan raut wajah Lukas yang tampak tenang saat mengatakan itu.
"Kau mau menggotong ku?" Tamara kembali bertanya.
"Kalau kau memang susah berjalan karena sakit, ya mau bagaimana lagi? Aku harus menggendong mu," jawab Lukas.
Tamara yang tak percaya Lukas mengatakan hal itu menoleh ke sekitar dan menemukan penjaga vila yang duduk di belakang mereka. Namun penjaga vila itu tampak sibuk dengan ponselnya.
"Jadi karena ada dia, Lukas jadi baik padaku?" Batin Tamara.
"Tak perlu, aku masih bisa menahannya," Tamara menolak bantuan dari Lukas.
"Baiklah, tapi jika memang kau tidak kuat katakan saja padaku ya. Biar aku yang menggendong mu," ucap Lukas tulus.
Sebenarnya, Lukas mengatakan itu karena ia merasa bersalah pada Tamara. Bukan karena sedang akting di depan penjaga vila.
Bagaimana pun, rasa sakit yang kini dirasakan oleh Tamara itu akibat dari ulahnya semalam.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di dermaga tujuan mereka. Lukas meminta si penjaga membawa koper mereka lebih dulu ke dalam mobil.
Sementara itu Lukas dengan hati-hati membantu Tamara turun dari perahu.
"Aku bisa turun sendiri," lagi-lagi Tamara menolak bantuan dari Lukas.
Meski sudah di tolak, Lukas tetap setia menjaga Tamara. Khawatir Tamara akan jatuh karena tergelincir.
Di dalam mobil, keduanya nampak diam saja. Tidak ada obrolan apapun di antara mereka.
__ADS_1
Tamara yang merasa bingung dengan perubahan sikap Lukas, mencoba untuk mencairkan suasana.
"Apa kita akan membeli oleh-oleh di mall yang kemarin?" Tanya Tamara.
"Entahlah, aku juga belum pernah membeli oleh-oleh," jawab Lukas.
"Pak, apa kau tau tempat untuk membeli oleh-oleh di kota ini?" Tanya Lukas pada si penjaga vila.
"Iya tuan muda, apa kita akan pergi ke sana dulu?"
"Iya, antar kami ke sana dulu ya," pinta Lukas.
"Baik tuan muda," penjaga vila menyanggupi permintaan Lukas.
"Kamu istirahat saja dulu, nanti kalau sudah sampai biar aku bangunkan," ucap Lukas pada Tamara.
"Aku tidak mengantuk, ini kan masih pagi," jawab Tamara.
Lukas hanya mengangguk, dan ia kembali terdiam.
"Lukas, apa aku melakukan sesuatu yang aneh tadi malam?" Bisik Tamara di telinga Lukas.
"Mmm... Tidak, kenapa?"
"Aku hanya bingung kau tiba-tiba jadi baik padaku? Apa ini hanya akting?"
"Mmm... Kau tau kan aku hanya akting?" Bisik Lukas di telinga Tamara.
"Hahaha... Pantas saja!" Tamara tertawa saat tau alasan Lukas yang berubah sikapnya karena hanya akting semata.
"Kau memang hebat, seharusnya kau jadi aktor saja. Aku hampir percaya bahwa kau melakukan ini sungguhan, bukan sekedar akting," bisik Tamara.
Lukas yang melihat Tamara tersenyum lepas, seketika merasakan debaran di hatinya. Lukas segera memalingkan wajahnya.
Lukas jadi teringat adegan panas tadi malam bersama Tamara di atas ranjang. Wajah Lukas memerah, karena kembali teringat wajah Tamara yang menggoda.
"Sudahlah jangan berisik, aku mau tidur!" Lukas membelakangi Tamara, ia tak mau Tamara melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus saat ini.
Tamara mencibir di belakang Lukas, ia sudah tak lagi kaget dengan perubahan sikap Lukas yang seringkali mendadak itu.
Satu jam kemudian, mereka tiba di pusat oleh-oleh yang dimaksud si penjaga.
"Lukas, bangunlah... Kita sudah sampai," Tamara mengguncang-guncang tubuh Lukas.
Lukas yang tertidur, perlahan membuka matanya dan melihat ada banyak sekali oleh-oleh di tempat itu.
__ADS_1
"Ayo, kau mau ikut turun atau menunggu di dalam mobil?" Tamara tampak sangat antusias.
"Tunggu, aku ikut denganmu," jawab Lukas.
Keduanya lalu turun dari mobil, sedangkan si penjaga vila menunggu mereka berdua di dalam mobil.
Tamara berjalan dengan riang ke sana kemari, melihat banyaknya barang yang ditawarkan di tempat itu.
Mulai dari makanan, pakaian, sovenir, dan berbagai pernak pernik untuk dijadikan oleh-oleh.
"Aku mau membeli kemeja untuk kakek," Tamara berjalan dengan riang menuju rak kemeja pria. Tamara juga berniat untuk membelikan kakek Dominic, serta untuk ayah dan ibu mertuanya.
"Apa aku beli juga untuk kak Oliv ya?" Gumam Tamara.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Lukas memutuskan untuk membeli juga untuk Olivia.
"Lukas, apa aku boleh membeli beberapa barang untuk teman-temanku?" Tanya Tamara dengan wajah penuh harap.
"Beli saja," jawab Lukas cuek.
Tamara yang mendapat lampu hijau tentu saja segera berlarian ke sana kemari.
"Sepertinya dia sudah lupa dengan sakitnya itu," gumam Lukas. Tanpa sadar ia tersenyum melihat Tamara yang dengan riangnya memilihkan beberapa barang untuk diberikan pada teman-temannya.
"Pelan-pelan Tamara, nanti kau terjatuh!" Lukas berusaha mengejar Tamara.
Satu jam berlalu, namun Tamara masih saja terlihat bersemangat membeli ini dan itu. Lukas yang sudah kelelahan hanya bisa diam berdiri sambil matanya terus mengikuti kemana Tamara pergi.
"Apa dia tidak lelah terus ke sana kemari sambil membawa semua itu?"
Tamara mendorong satu troli besar yang berisi pakaian dan pernak pernik. Sedangkan troli yang ada pada Lukas berisi makanan dan camilan khas daerah itu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya perburuan oleh-oleh Tamara pun selesai.
Melihat banyaknya barang yang mereka beli tentu membuat Lukas berpikir, bagaimana cara membawanya?
Sambil menunggu kasir menghitung total belanjaan Tamara, Lukas berinisiatif membeli dua buah koper lagi.
"Koper-koper itu untuk apa?" Tanya Tamara bingung.
"Tentu saja untuk memasukkan barang belanjaan mu. Kau pikir hendak membawa semua itu dengan apa? Menjinjing nya?" Lukas balik bertanya.
"Hehe, iya aku lupa kalau kita akan naik pesawat," ucap Tamara malu-malu.
Lukas hanya bisa menghela nafas, apalagi melihat nominal yang tertera di layar kasir.
"Kau belanja sebanyak itu untuk orang lain, sedangkan untuk dirimu sendiri hanya habis dua juta," gumam Lukas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1