Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 70


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Lukas segera kembali ke kamarnya. Namun, saat hendak keluar kamar, ia berpapasan dengan Leonard yang juga hendak masuk ke dalam kamar.


"Papah?"


"Kamu kok mandi di sini?"


"Aku takut membangun Tamara kalau aku mandi di kamarku," Lukas memberi alasan.


"Oh... Kamu sudah makan belum?"


"Belum pah," jawan Lukas.


"Makanlah dulu, istrimu juga belum makan. Tapi tadi papah sudah meminta pelayan untuk membawakan makanan ke dalam kamar."


"Iya, tadi aku juga lihat. Tapi sepertinya belum dia sentuh sama sekali."


"Baiklah, nanti aku akan membangunkannya," Lukas hendak pergi namun langkah kakinya terhenti. Sejak tadi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang ingin ia tanyakan kepada Leonard.


"Pah?"


"Mmm?"


"Apa benar yang papah katakan?"


"Papah bilang apa memang?"


"Tamara hamil..."


"Ah... Iya, sebenarnya papah ingin bilang sama kami. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua atas permintaan Tamara."


"Permintaan Tamara?"


"Iya, dia tak ingin mengganggu kesibukan kamu. Tamara khawatir jika kamu tau tentang kehamilannya, maka kamu tak lagi bisa fokus bekerja," Leonard menjelaskan mengapa ia merahasiakan tentang kehamilan Tamara.


"Hanya karena itu?"


"Entahlah, mungkin ada alasan lain."


"Baiklah, terima kasih atas informasinya pah," Lukas pun benar-benar meninggalkan Leonard di dalam kamarnya.


Sebelum kembali ke kamar, Lukas pun menuruti ucapan Leonard, ia akan makan malam terlebih dahulu setelah itu ia baru akan membangunkan Tamara dan memintanya untuk makan malam.


Dan setelah makan malam, betapa terkejutnya Lukas, saat kembali ke dalam kamar. Ia melihat Tamara yang sudah bangun, dan kini sedang menyantap makan malamnya.


"Kamu baru makan?" Tanya Lukas yang melihat Tamara hanya bengong saja melihat kehadiran dirinya.


"Lukas?"


"Iya sayang, ini aku..." Lukas menghampiri Tamara dan duduk di samping Tamara.


Tamara masih terdiam, air matanya mulai menganak di pelupuk mata Tamara.


"Maaf ya, aku kemarin-kemarin tidak memberimu kabar. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan aku," ucap Lukas sambil mengusap lembut rambut Tamara.


Tamara langsung menangis dan memeluk Lukas dengan erat.


"Aku merindukanmu," tangis Tamara pecah dalam dekapan tubuh Lukas.


"Maaf, aku bahkan tak tau tentang kehamilanmu," Lukas membelai lembut punggung Tamara. Ia ingin menenangkan istrinya saat ini.


Tamara melepas pelukannya, ia juga mengusap air matanya.


"Kamu tau?"


"Tentu saja aku tau, kenapa kamu ingin merahasiakannya dariku?"

__ADS_1


"Maaf, aku tak bermaksud. Aku hanya tak ingin mengganggu konsentrasi mu pada proyek besar ini saja," jawab Tamara memberi alasan.


"Tapi bagaimana pun aku berhak tau."


Tamara menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap Lukas.


"Kenapa? Katakanlah padaku!"


"Kamu janji tak akan marah?"


"Kenapa aku harus marah?"


"Aku takut..."


"Baiklah, aku tak akan marah. Katakan saja padaku!"


"Aku bingung dengan kehamilan mendadak ini, aku tak menyangka akan secepat ini. Aku takut kamu tak bisa menerimanya," ucap Tamara masih sambil menundukkan wajahnya.


"Sayang... Dengarlah, jujur saja aku juga kaget saat mendengar tentang berita kehamilan mu. Tapi mau bagaimana? Kamu hamil juga kan karena ulahku. Tentu saja aku harus bertanggung jawab."


"Kamu tak masalah dengan kehamilanku?"


"Tentu saja tidak."


"Kamu yakin?"


"Yakin!"


"Apa itu artinya hatimu sudah terbuka untukku?"


Lukas terdiam, ia sama sekali tak menyangka Tamara akan menanyakan hal ini.


"Jadi, kamu takut karena perasaanku padamu?"


Tamara mengangguk.


Tamara hanya terdiam, ia tau saat ini Lukas memang belum menyukainya. Kebaikan yang Lukas berikan padanya hanyalah semata-mata karena rasa tanggung jawabnya karena sudah merasakan tubuh Tamara. Ditambah lagi kini ia sedang berbadan dua karena Lukas.


"Sekarang kamu makan lagi ya, sini biar aku suapi," Lukas mengambil piring makan Tamara dan bersiap untuk menyuapkan makanan ke mulut Tamara.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah, sebelum kembali ke kamar aku sudah makan dulu di bawah."


"Kamu sudah pulang dari tadi?"


"Sekitar satu jam yang lalu lah..."


"Kamu pulang karena memang sudah selesai proyeknya atau?"


"Karena aku mendengar berita tentang kehamilanmu."


"Apa aku tetap bisa membesarkan anak ini?"


"Tentu saja, kenapa tidak? Bukankah bayi ini juga yang sudah dinanti-nantikan oleh keluarga kita?"


"Iya, kamu benar."


"Sayang, tinggal lah di sini selama masa kehamilan. Di sini ada banyak pelayan yang akan menjaga dan merawat mu," pinta Lukas.


"Tapi..."


"Ada apa? Kamu tidak mau?"


"Aku mau pulang saja," rengek Tamara.

__ADS_1


"Loh kenapa? Di rumah bukannya kamu malah sendirian?"


"Aku lebih suka di rumah," jawab Tamara dengan manja. Baru kali ini ia bersikap seperti ini pada Lukas.


"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi harus ada pelayan ya di rumah, setidaknya satu saja," pinta Lukas.


"Kenapa harus ada pelayan? Aku bisa kok melakukan semuanya sendiri," Tamara menolak.


"Kalau kamu sedang tidak hamil, aku sih tak masalah. Tapi kamu kan sekarang sedang berbadan dua, tentu saja aku akan merasa khawatir jika kamu tinggal seorang diri saja di rumah."


"Bagaimana kalau aku minta kakek untuk menemaniku? Apa boleh?" Tawar Tamara.


Lukas berpikir sejenak.


"Baiklah, asal kamu tidak sendiri. Tapi ingat satu hal, kamu gak boleh terlalu capek ya. Ingat anak kita dalam kandunganmu."


Mendengar Lukas mengatakan 'anak kita' tentu saja membuat hati Tamara berbunga-bunga. Ah, dasar Lukas. Sudah jatuh cinta saja masih mau berkelit dan tak mau mengakui.


Tamara pun tersenyum.


"Sekarang kamu habiskan dulu makan malamnya."


Tamara mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja hal itu membuat Lukas makin semangat menyuapi Tamara, hingga tak terasa piring itu sudah bersih tak ada sisa sebutir nasi pun.


"Habis makan jangan langsung tidur, kamu mau nonton televisi dulu?"


Tamara mengangguk.


"Lukas..."


"Ya?"


"Apa besok kamu akan kembali lagi ke lokasi proyek?"


"Aku akan kembali lusa, ada apa? Kamu mau pergi ke suatu tempat?"


Tamara mengangguk.


"Besok temani aku ke dokter kandungan ya," pinta Tamara.


"Baiklah, ayo kita ke sana," Lukas menyetujuinya.


Malam itu, mereka berdua menghabiskan malam bersama sambil menonton televisi. Hingga tanpa sadar keduanya terlelap di atas sofa empuk yang berada di dalam kamar Lukas.


Lukas yang hampir terlelap, segera menyadarkan dirinya. Ia melihat Tamara sudah tertidur pulas. Dengan inisiatif Lukas langsung membopong tubuh Tamara dan membawanya ke atas tempat tidur.


Sebelum tidur, Lukas sempatkan diri mengecek ponselnya. Dan betapa terkejutnya ia, ternyata Lukas mendapat banyak sekali panggilan masuk dari Vanesa.


Lukas lupa mematikan mode getarnya saat sampai di rumah tadi. Sambil mengendap-endap Lukas berjalan keluar, ia menelpon balik Vanesa.


"Ada apa mah?" Tanya Lukas saat telepon sudah tersambung.


"Lukas, apa Tamara baik-baik saja?"


"Iya mah, dia sudah tidur. Ada apa?"


"Bisa kah kau kembali ke sini? Ada masalah besar di sini."


"Masalah apa?"


"Datanglah dulu ke sini, nanti akan mamah jelaskan!"


Mendengar ucapan Vanesa yang nampaknya begitu panik, tentu saja Lukas menjadi khawatir. Dengan tergesa-gesa Lukas langsung pergi begitu saja ke bandara.


Ia bahkan lupa berpamitan dengan Tamara, dan ia juga lupa dengan janjinya untuk pergi ke dokter kandungan bersama Tamara esok hari.

__ADS_1


__ADS_2