
Lukas turun dari tempat tidur, ia menghampiri Tamara yang sudah hampir menyelesaikan sarapannya.
"Sudah habis?"
"Ini, suapan terakhir," jawab Tamara.
"Minum dulu," Lukas menyodorkan segelas air putih pada Tamara.
Tamara mengambilnya, dan ia pun menghabiskan segelas air putih itu.
Setelah Tamara selesai, Lukas mengambil gelas di tangan Tamara dan meletakkan kembali di atas meja. Lalu Lukas mengangkat Tamara dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Lukas... Kamu mau apa?" Tamara berontak.
"Aku mau membuktikan padamu kalau aku masih kuat," jawab Lukas.
"Iya, aku tau. Tapi kamu kan harus banyak istirahat," ucap Tamara.
Lukas pun menidurkan Tamara di atas tempat tidur.
"Jadi kamu lagi gak mau sekarang?"
"Iya," jawab Tamara singkat.
"Ya sudah, kalau kamu mau jangan ragu-ragu bilang saja padaku," goda Lukas.
Tamara menghela nafas panjang.
"Sekarang kamu minum obat dulu ya," pinta Tamara.
Lukas mengangguk, ia menuruti semua perintah Tamara. Setelah minum obat, Lukas pun kembali tertidur. Namun Lukas tak mau tidur sendiri. Ia mau Tamara menemani di sampingnya sambil membelai lembut rambutnya.
Tamara menuruti keinginan Lukas, membelai rambut Lukas. Sedangkan Lukas malah bergeser tidur di pangkuan Tamara.
"Sayang," panggil Lukas.
"Mmm?" Tamara masih merasa canggung dengan panggilan itu.
"Apa kamu suka dengan permainanku?"
Tamara terkejut dengan pertanyaan Lukas.
"Suka tidak?"
"Iya, suka..." jawab Tamara malu-malu.
"Kalau kamu mau, bilang saja. Tentu aku pasti langsung akan memuaskan mu."
Tamara diam tak menjawab, membuat Lukas yang semula sudah memejamkan mata, kembali membuka matanya.
"Jangan malu-malu, bilang saja, oke?"
Tamara mengangguk. Tentu saja ia pasti akan merasa malu meminta lebih dulu.
__ADS_1
"Lukas," panggil Tamara saat mata Lukas mulai terpejam.
"Mmm?" Sahut Lukas masih memejamkan mata.
"Apa kamu pernah menyukai seseorang?"
"Menyukai?"
"Iya, rasa suka seorang laki-laki pada perempuan," jelas Tamara.
"Tidak!" Jawab Lukas singkat.
"Masa iya? Sekalipun kamu tak pernah menyukai seseorang? Padahal kamu kan tampan, pasti banyak yang menyukaimu," ucap Tamara. Hatinya menciut saat ia bertanya hal seperti ini pada Lukas.
"Kamu benar, memang banyak gadis yang menyukaiku. Aku bahkan lelah menolak pernyataan cinta dari mereka," jawab Lukas masih dengan mata terpejam.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku selalu menemukan celah untuk tidak menyukai gadis-gadis itu."
"Kalau aku?"
Lukas membuka matanya, ia menatap Tamara yang raut wajahnya sedang harap-harap cemas. Seperti sedang menunggu jawaban atas pernyataan cintanya.
"Awalnya aku tidak suka kamu, karena kamu..." Lukas ragu untuk mengatakannya.
"Jelek?"
"Ya begitulah," Lukas merubah posisi tidurnya menghadapkan wajahnya di perut Tamara. Tangan Lukas memeluk pinggang Tamara.
"Apa itu artinya, kamu sudah mulai menyukaiku?"
"Tidak tau, yang pasti aku tidak membencimu."
Tamara tersenyum mendengar jawaban Lukas. Baginya itu sudah cukup. Mungkin cintanya tak berbalas, tapi membiarkan dirinya tetap berada di sisi orang yang ia cintai, itu sudah lebih dari cukup untuk Tamara.
Tamara sangat sadar diri, ia bukan siapa-siapa. Ia tidak cantik, tidak kaya, dan tidak punya bakat apapun.
Sementara orang-orang di sekitar Lukas pasti adalah orang-orang luar biasa. Lukas juga pasti sudah terbiasa bertemu dengan wanita-wanita yang jauh lebih cantik darinya.
Untuk saat ini ia hanya akan menikmati momen kebersamaan dengan Lukas. Meski mungkin suatu saat nanti, Lukas bisa saja meninggalkannya demi wanita yang Lukas cintai.
Tak terasa, waktu terus berlalu. Lukas masih tertidur dipangkuan Tamara, dan Tamara juga masih setia membelai rambut Lukas yang lembut.
Ponsel Lukas berdering, Tamara dengan cepat mengambilnya. Untung jaraknya tak terlalu jauh dari tempat ia duduk saat ini.
"Mamah?" Melihat siapa yang menelepon, Tamara segera mengangkatnya.
"Halo mah?" Sapa Tamara.
"Kalian dimana? Lukas katanya sakit, tapi mamah ke rumah kok sepi?"
"Kami lagi di luar kota mah," jawab Tamara.
__ADS_1
"Luar kota?"
Lukas yang ternyata sudah bangun ketika mendengar ponselnya berdering, langsung mengambil alih pembicaraan.
"Iya mah, aku ada di luar kota sejak kemarin luas. Niatnya kemarin sore mau langsung pulang, tapi badanku mendadak lemas jadi aku ingin istirahat satu hari lagi," ucap Lukas.
"Tapi kamu sakit apa? Sudah periksa ke dokter?"
"Belum mah, tapi aku sudah minum obat. Mamah gak usah khawatir, ada Tamara di sini yang merawat ku. Sore ini kalau aku sudah baikan aku akan langsung pulang. Sudah ya mah, aku mau tidur lagi."
Lukas langsung menutup sambungan telepon. Ia juga menonaktifkan ponselnya, dan melemparnya ke atas meja.
"Ayo tidur lagi," Lukas menarik Tamara ke dalam pelukannya.
"Tapi ini sudah siang, aku mau beli makan dulu," ucap Tamara.
"Kamu lapar?"
Tamara mengangguk, meski sebenarnya ia tak terlalu merasa lapar. Namun ia harus tetap membeli makan, agar Lukas bisa kembali minum obat.
"Ya sudah, ayo kita beli makan," Lukas pun bangun dari tidurnya.
"Kamu di sini aja, biar aku yang beli," pinta Tamara.
"Tidak, ayo kita beli sama-sama. Aku khawatir kalau kamu pergi sendirian, tadi pagi saja aku sangat khawatir saat kamu keluar seorang diri."
"Oh ya? Tapi saat aku pulang, kamu bukannya sedang tidur?"
"Iya, itu karena aku terlalu khawatir sampai-sampai aku jadi mengantuk dan tertidur," Lukas berkilah.
Tamara menggelengkan kepalanya, jawab seperti apa itu? Namun ia tak mau memperdebatkan nya dengan Lukas. Pasti Lukas punya banyak alasan lainnya.
"Baiklah, ayo kita keluar."
Setelah mencuci muka dan mengganti pakaian, mereka berdua pergi mencari makan di sekitar penginapan. Untungnya cuaca hari itu sedang mendung, jadi mereka berdua bisa berjalan kaki saja.
Pemandangan yang nampak begitu indah, hamparan daun-daun teh di sepanjang jalan setapak yang mereka lewati tentu saja semakin membuat mereka berdua semakin menikmati indahnya alam.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah makan yang sama sekali tidak terlihat mewah. Tamara ragu apa Lukas bisa makan di tempat seperti ini?
Namun ternyata, Lukas malah mengajaknya lebih dulu untuk makan di tempat itu.
"Kita makan di sini saja," ajak Lukas.
"Kamu gak apa-apa makan di sini?" Tanya Tamara ragu.
"Kenapa memangnya? Di tempat ini tidak ada restoran mewah, aku sudah pernah makan di sini dan rasanya enak."
Tamara tersenyum, ia lagi-lagi tak menyangka jika Lukas juga bisa hidup sederhana seperti dirinya.
Selama beberapa hari bersama Lukas, Tamara jadi semakin mengenal Lukas yang sebenarnya. Ia yang awalnya mengira Lukas adalah pria arogan, nyatanya masih mau makan di rumah makan sederhana ini.
__ADS_1
Tamara juga tak menyangka Lukas bisa bermain di wisata alam yang sangat menantang. Dan terlebih, Lukas juga bisa menginap di penginapan sederhana.
Tamara bersyukur, memiliki suami yang tak hanya tampan dan mapan. Tapi juga bisa menyesuaikan diri, dimanapun ia berada.