
Tiba di rumah, Lukas turun terlebih dahulu dari dalam mobil. Tamara masih saja tertunduk karena takut.
"Kita sudah sampai di rumah, ayo turun," pinta Lukas saat ia membukakan pintu untuk Tamara.
Tamara membuka matanya, dan benar kata Lukas mereka sudah sampai di rumah. Tamara pun turun dari mobil.
"Lukas..." Tamara menarik baju Lukas saat mereka hendak masuk ke dalam rumah.
"Ada apa?" Lukas menoleh ke arah Tamara.
"Bolehkah malam ini aku tidur bersamamu?"
"Apa?" Lukas terkejut mendengar pertanyaan Tamara.
"Kita sudah pernah tidur bersama sebelumnya dan tak terjadi apapun. Ku mohon, malam ini saja," Tamara memelas sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
Lukas hanya bisa menghela nafas melihat wajah memelas Tamara.
"Apa dia masih belum sadar kalau malam itu kita sudah..." Batin Lukas.
"Lukas... Kumohon," Tamara masih memohon pada Lukas.
"Begini saja, aku akan menemanimu sampai kamu tertidur. Setelah kamu tidur, aku akan kembali ke kamarku," usul Lukas.
"Tapi jika aku bangun saat tengah malam bagaimana?"
"Kau tinggal bangunkan aku saja," jawab Lukas santai.
Tamara akhirnya terpaksa mau menuruti usul Lukas. Karena ia sendiri tak mungkin memaksa Lukas untuk terus menemaninya sepanjang malam.
"Baiklah," Tamara akhirnya menurut.
"Kalau begitu kau ganti baju saja dulu, aku juga mau mengganti pakaianku," ucap Lukas.
Tamara kali ini hanya diam berdiri di depan pintu kamar Lukas. Ia tak berani masuk ke kamarnya.
Perlahan Tamara mengetuk pintu kamar Lukas, namun tak ada sahutan dari dalam kamar. Tentu saja karena saat itu Lukas sedang melakukan rutinitasnya setiap malam.
Tamara membuka pintu kamar Lukas pelan-pelan. Ia mengintip dari balik pintu dan tak melihat sosok Lukas ada di dalam kamarnya.
"Kemana dia? Apa dia sedang mandi?" Gumam Tamara.
Tamara memberanikan diri masuk ke dalam kamar Lukas, ia memilih untuk menunggu Lukas di dalam kamarnya saja.
Cukup lama Tamara menunggu di sana, namun Lukas tak juga keluar dari kamar mandi. Sementara waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam.
__ADS_1
Tamara yang merasa sudah sangat mengantuk, tak sanggup untuk menunggu Lukas lebih lama lagi. Tamara merebahkan tubuhnya di kasur sejenak.
"Aku akan memejamkan mata sejenak, nanti jika Lukas sudah selesai mandi aku akan bangun," gumam Tamara.
Namun tak sampai semenit, ia sudah tertidur pulas.
Tak lama setelah Tamara tertidur, Lukas pun keluar dari kamar mandi. Ia masih memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Ah, segarnya..." Ucap Lukas sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Astaga naga..." Lukas terkejut melihat Tamara yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
"Kenapa dia tidur di sini?" Lukas berjalan menghampiri Tamara.
"Hei... Bangun!" Lukas mengguncang-guncang kan tubuh Tamara.
"Tamara!" Berkali-kali Lukas membangunkan Tamara namun ia tak juga bangun.
Lukas akhirnya menyerah, ia terduduk di samping Tamara yang tidur dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah tempat tidur.
"Kau pasti lelah sekali," tak sadar Lukas membelai rambut Tamara. Ia menyisihkan rambut yang menutupi wajah Tamara.
"Bodoh, apa yang ku lakukan?" Lukas menarik tangannya begitu ia sadar dengan kelakuannya yang di luar nalar.
Lukas berpaling, ia mencoba mengendalikan dirinya.
Satu set piyama sudah melekat di tubuhnya, rutinitas skincare malam hari juga sudah ia lakukan. Kini Lukas melihat ke arah Tamara yang masih memakai baju yang tadi ia pakai ke mall.
"Gadis itu benar-benar... Dia bahkan tidak mengganti pakaiannya."
Dengan inisiatif, Lukas membawa pembersih muka tanpa bilas untuk ia pakaikan ke wajah Tamara. Setelah selesai membersihkan wajah Tamara, Lukas melepas jaket yang melekat di tubuh Tamara. Ia juga membuka kaos kaki yang masih Tamara pakai.
Lukas merubah posisi tidur Tamara, ia bahkan menyelimuti gadis itu.
"Beres, lalu sekarang aku harus tidur dimana?"
Lukas melihat ruang kosong di samping Tamara. Tempat tidurnya memang cukup luas untuk mereka tiduri bersama, hanya saja rasanya ia tak sanggup jika malam ini akan tidur satu ranjang dengan Tamara.
Bagaimana pun Lukas adalah laki-laki, terlebih ia juga sudah pernah merasakan nikmatnya tubuh Tamara. Tentu saja hal itu membuat Lukas semakin mengantisipasi dirinya.
Ia takut, ia tak bisa menahan dirinya dan kembali meniduri Tamara tanpa Tamara tau. Sekarang pun Lukas masih suka membayangkan kulit mulus dari tubuh Tamara yang bersentuhan dengan kulitnya.
Lukas akhirnya memutuskan untuk tidur si sofa ruang tengah saja.
"Ini untuk kebaikan kita berdua," gumam Lukas.
__ADS_1
Sebelum keluar kamar, Lukas mengecup kening Tamara. Hal ini ia lakukan secara reflek. Karena, entah mengapa tubuhnya menginginkan ia melakukan hal itu.
Satu kecupan sudah mendarat di kening Tamara.
"Sudah cukup, jika lebih dari ini aku yakin tak akan sanggup," Lukas pun berjalan keluar kamar.
Di ruang tengah, ia menyalakan televisi berukuran besar itu. Sambil menunggu rasa kantuknya datang, Lukas melihat beberapa chanel televisi. Namun karena hari sudah tengah malam, ada banyak acara televisi yang menampilkan adegan dewasa.
Tentu saja hal itu membuat Lukas semakin gerah.
"Tahan Lukas... Tahan!"
Lukas tak mau terus terbawa suasana, ia mencari satu chanel yang menampilkan film horor.
"Lebih baik aku melihat ini, dari pada harus tersiksa sepanjang malam," gumam Lukas.
Satu film horor kini tengah menemaninya menghabiskan malam yang terasa panjang baginya. Entah mengapa Lukas tak juga merasakan kantuk.
Menjelang subuh, Lukas baru bisa tertidur dengan pulas.
Namun sayang, baru saja semenit ia sampai di alam mimpi. Seseorang tiba-tiba datang menghampirinya, dan itu adalah Tamara.
"Lukas!" Tamara langsung memeluk Lukas yang tengah tertidur di sofa.
"Ada apa?" Seketika Lukas sudah sadar kembali. Ia melihat Tamara yang kini sedang berada dalam pelukannya.
"Lukas, hiks... Kenapa kau meninggalkan aku, hiks... Sendirian di kamar, hiks?" Tamara bertanya sambil sesenggukan.
"Memangnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Lukas sambil berusaha melepaskan pelukan Tamara.
"Aku bermimpi buruk," suara tangis Tamara akhirnya pecah.
Lukas tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya busa menghela nafas panjang. Rasanya baru semenit yang lalu ia memejamkan matanya, namun kini ia harus bangun lagi karena Tamara yang bermimpi buruk.
"Tamara, aku baru saja tidur. Kenapa kau membangunkan aku?" Tanya Lukas dengan nada kesal.
"Maaf, aku hanya sangat ketakutan," Tamara melihat amarah di wajah Lukas semakin membuatnya merasa takut.
Lukas melepaskan kedua tangan Tamara yang memeluknya dengan kasar.
"Lepaskan! Aku tak peduli kau takut atau tidak, yang jelas jangan ganggu aku! Aku mau tidur!" Lukas menatap tajam ke arah Tamara.
Nyali Tamara semakin menciut melihat tatapan mata Lukas.
Lukas akhirnya meninggalkan Tamara seorang diri di ruang tengah menuju kamarnya. Ia bahkan membanting pintu saat menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Brak!
Meski terkejut, dan masih merasa takut. Tamara berusaha tegar menghadapinya. Ia akhirnya lebih memilih menonton televisi hingga pagi menjelang.