Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 73


__ADS_3

Sepanjang menonton film pun, Lukas sama sekali tak terlihat bersemangat. Ia justru semakin merindukan Tamara. Ia ingat bagaimana Tamara ketakutan malam itu.


"Pfftt..." Tak sengaja Lukas tertawa mengingat saat mereka menonton film setelah pulang dari berbulan madu.


"Ada apa?" Tanya Agnes bingung. Karena adegan yang sedang ditayangkan saat ini justru adalah adegan sedih, tapi Lukas malah tertawa.


"Tidak apa," Lukas berusaha kembali fokus menonton film. Namun ia malah mengantuk karena filmnya sangat membosankan.


Hingga film selesai di putar, dan Agnes terus-terusan menangis sambil memeluk lengan Lukas yang tertidur.


"Hei... Bisa-bisanya kamu tidur di tengah film bagus begini," Agnes kaget melihat Lukas yang malah tidur saat sedang menonton film romantis bersamanya.


"Sudah selesai?" Tanya Lukas sambil meregangkan badannya.


Agnes tak menjawab.


"Ayo, kita kemana lagi?"


"Sepertinya kamu sudah sangat lelah, kalau begitu ayo kita kembali ke hotel," Agnes menarik tangan Lukas.


Mereka langsung menuju hotel yang letaknya ada di atas gedung mall dimana mereka berada saat ini.


Di dalam kamar hotel, Agnes melepaskan blazer yang ia pakai. Dan kini bagian atas tubuhnya hanya mengenakan tank top saja.


Agnes berniat untuk menggoda Lukas di dalam kamar hotel itu, ia merebahkan dirinya sambil menatap Lukas dengan tatapan menggoda.


Namun bukannya tergoda, Lukas malah melengos begitu saja. Ia berjalan menuju balkon kamar hotel. Di sana, Lukas dapat melihat pemandangan kota di sore hari.


Melihat tingkah Lukas yang terus mengabaikannya, Agnes tak mau tinggal diam. Ia berjalan mengikuti Lukas yang kini tengah menatap pemandangan kota dalam diam.


Agnes memeluk Lukas dari belakang, sedangkan Lukas hanya diam saja. Ia tak menepis tangan Agnes yang kini tengah memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu Lukas," bisik Agnes.


Lukas masih terdiam, ia membiarkan saja Agnes melakukan apapun yang dia mau.


"Kenapa kau diam saja? Kau takut ketahuan dengan istrimu?"


Lukas masih terdiam.


"Aku tak masalah jika kamu menjadikan aku sebagai simpanan mu. Asal kamu mau menerimaku, aku berusaha untuk menerima statusku yang hanya sebagai selingkuhan mu," Agnes benar-benar tak mau menyerah.


Lukas menyeringai, kini ia tau mengapa ia tak pernah tertarik dengan wanita-wanita cantik yang selama ini merayunya.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku tak pernah tertarik untuk menjadikanmu lebih dari sekedar teman," jawab Lukas akhirnya.


"Kenapa? Apa karena kamu sudah mempunyai istri?"


"Bahkan bila aku seorang yang masih single pun, aku tetap tak tertarik."


Agnes melepaskan pelukannya, dengan langkah gontai ia berjalan ke samping Lukas dan berdiri di sana sambil menatap Lukas heran.


"Kenapa? Apa aku tidak lebih cantik dari istrimu?"


"Tidak, kau justru lebih cantik dari istriku."


"Lalu kenapa?"


"Apa kau pikir cantik saja cukup?"


Agnes menghela nafas, ia sama sekali tak mengerti dengan selera Lukas.


"Aku cantik dan kaya, dan kau juga tau kita sama-sama lulusan dari universitas ternama dunia. Keluargaku kaya raya, bahkan saat aku tidur pun, pundi-pundi uang terus mengalir masuk ke rekeningku. Sebenarnya seperti apa istrimu itu, hingga kau mau menikahinya?"


Lukas tersenyum mendengar pertanyaan Agnes. Ia menatap jauh ke langit-langit senja yang indah.


"Tamara gadis yang sederhana, meski begitu seleranya tak kalah jauh darimu. Dia manis, lugu, dan polos. Dan yang terpenting, dia pintar memasak," ucap Lukas sambil membayangkan wajah Tamara.


"Dia bahkan tak punya uang sepeserpun di sakunya," jawab Lukas sambil tersenyum.


"Dia wanita miskin?"


Lukas terdiam, senyumnya lenyap seketika. Entah mengapa ia tak suka Agnes mengejek istrinya itu.


"Jadi kau mau membantuku atau tidak? Tak usah berbelit-belit, jik memang tak bisa membantu aku akan pulang malam ini juga," ucap Lukas dengan tegas.


"Jawab dulu satu pertanyaanku," pinta Agnes.


"Katakanlah," balas Lukas.


"Mengapa kau menikahi gadis itu?"


Lukas terdiam, jelas saat itu ia menikahi Tamara karena tak mau kehilangan posisinya sebagai seorang CEO. Namun saat ini, berat rasanya mengatakan bahwa ia dulu terpaksa menikahi Tamara.


Nyatanya memang rasa nyaman saat bersama Tamara itu selalu ia rasakan. Lukas kembali teringat saat Tamara membuatkan makanan untuknya.


Flashback

__ADS_1


Pagi itu, Lukas sudah siap terlebih dahulu. Namun Tamara masih sibuk di dapur mengurus sarapan Lukas yang tentunya tak cukup jika hanya makan satu porsi.


"Tunggulah dulu, sebentar lagi aku akan selesai," ucap Tamara.


Lukas tak menjawab, ia hanya duduk di meja makan sambil memandangi Tamara yang masih sibuk dengan aktivitasnya.


Saat itu Lukas merasa ada perasaan nyaman melihat Tamara yang fokus membuatkan sarapan pagi untuk Lukas. Meski Tamara nampak kucel dan wajahnya berkeringat, namun Lukas merasa Tamara sangat cantik saat itu.


Flashback end.


"Karena dia sangat mencintaiku," jawab Lukas singkat.


Agnes mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti jawaban yang diberikan oleh Lukas.


"Yang pasti, setelah menikah dengannya. Aku merasa semua masakan di luar terasa hambar. Sekalipun seorang koki profesional yang memasaknya."


"Kenapa?"


"Karena aku sudah mengenal seseorang yang selalu memasak untukku dengan penuh cinta," jawab Lukas sambil tersenyum penuh arti.


Agnes terhenyak melihat senyuman Lukas. Baru kali ini ia melihat senyuman itu dari wajah Lukas. Sayangnya, senyuman itu bukan untuk dirinya. Namun untuk seseorang yang ada di sana, seseorang yang sudah mengisi penuh hati Lukas.


"Sepertinya kau sangat mencintai istrimu itu," ucap Agnes dengan lemah. Ia tau, ia sudah kalah dengan gadis yang bahkan tak punya sepeser uang pun di sakunya.


Lukas tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil menatap Agnes.


Namun dari senyumannya itu, Agnes tau seberapa dalam Lukas mencintai Tamara. Perasaan cinta yang sangat dalam, bahkan tak ada kata yang bisa mewakilkan perasaan Lukas pada Tamara.


"Baiklah, katakan apa yang ku butuhkan?" Agnes akhirnya menyerah.


Lukas nampak sangat senang karena akhirnya Agnes mau membantunya. Ia pun mengatakan apa saja yang menjadi kendala di proyeknya saat ini.


Agnes pun bersedia membantu tanpa memberikan syarat apapun lagi pada Lukas. Karena mereka sudah sepakat kini, Lukas pun bisa langsung kembali ke lokasi proyek malam ini juga.


Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan proyek agar bisa segera menemani Tamara ke dokter kandungan.


"Maaf sayang, aku tak bisa kembali padamu dulu untuk saat ini. Nanti jika urusanku sudah selesai aku akan datang padamu, dan tak kan lagi meninggalkanmu," gumam Lukas sambil menatap foto Tamara di ponselnya.


Lukas sengaja tak mau menghubungi Tamara, ia takut akan semakin rindu dan ingin segera pulang menemui Tamara. Lukas takut tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik karena terus menerus memikirkan Tamara.


"Sabar ya sayang, aku akan segera pulang," batin Lukas.


Lukas kini sudah berada di dalam pesawat dan menuju lokasi proyeknya, tanpa tau musibah yang sedang menimpa istrinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2