
Sandra terdiam sejenak. Matanya menatap marah pada Lukas.
Tamara tak mengerti mengapa semua jadi begini?
"Tante, tidak mungkin Lukas seperti itu tante. Lukas mungkin pencemburu, tapi tak mungkin Lukas cemburu pada Jake. Kami kan sepupu," Tamara mencoba menenangkan Sandra.
Namun bukannya mereda, justru Sandra semakin yakin lagi bahwa Lukas lah pelakunya.
"Kau sendiri yang bilang kan, bahwa suami mu itu pencemburu?" Sandra menjadikan ucapan Tamara tadi sebagai senjata.
"Iya, tapi..." Tamara berusaha menjelaskan, namun Lukas menahannya.
"Biarkan saja, dia bebas berpikiran seperti apapun yang dia mau." Lukas menggenggam tangan Tamara dan menariknya, hingga tubuh Tamara kini berada di balik tubuh Lukas.
"Tenanglah kalian semua, sampai saat ini belum ada bukti siapa pelakunya. Entah itu Lukas atau Richard, keduanya masih tersangka. Dan satu-satunya saksi hanyalah Jake. Jadi sebaiknya kita tunggu hingga Jake sadarkan diri, dan kita tanya langsung padanya bagaimana semua itu bisa terjadi?" Dominic mengambil sikap tegas dan bijaksana.
"Lukas, kau sebaiknya bawa Tamara pulang ke rumah. Kalian berdua butuh istirahat," pinta Dominic.
"Bukankah sebaiknya kalian tetao di sini hingga Jake sadar?" Sandra langsung menghentikan keinginan Dominic.
"Kenapa?" Tanya Dominic.
"Bagaimana jika mereka kabur?" Sandra menatap sinis ke arah Lukas.
"Hei, kan ada aku di sini. Cucuku tak mungkin kabur. Lagi pula..." Dominic tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Mereka? Maksudmu Tamara juga?" Lukas sudah tak tahan lagi. Tak mengapa jika hanya dirinya yang dicurigai, tapi kenapa kini Tamara juga harus ikut dicurigai?
Tamara terdiam, ia tak menyangka akan jadi seperti ini. Baru saja Tamara merasa senang karena memiliki tante yang cantik dan baik hati seperti Sandra, namun kini sikap Sandra malah membuat Tamara berpikir sebaliknya.
"Baiklah, jadi apa maumu?" Lukas merasa jengah dengan sikap Sandra.
"Kalian juga harus menunggu hingga Jake sadarkan diri. Kalian baru boleh pergi jika aku sudah yakin bukan kalian lah pelakunya." Jawab Sandra dengan wajah yang serius.
Lukas menghela nafas panjang, entah mengapa semua menjadi rumit seperti ini.
"Aku tak keberatan jika kita harus menunggu di sini," bisik Tamara di telinga Lukas.
"Masalah kita tidak tau kapan dia akan sadarkan diri?" Lukas balas berbisik di telinga Tamara.
Tamara mengangguk paham.
"Lalu kita harus bagaimana?" Bisik Tamara lagi.
Lukas tak menjawab, kali ini ia hanya terus menatap ke arah Dominic, seolah meminta pendapatnya.
__ADS_1
Dominic berpikir sejenak.
"Begini saja, bagaimana jika mereka akan menunggu di sini selama tiga jam. Jika dalam tiga jam Jake masih belum sadarkan diri, biarkan mereka pulang dulu ke rumah. Besok aku akan meminta mereka berdua untuk kembali ke sini," usul Dominic.
Sandra terdiam, dari raut wajahnya, sepertinya Sandra tak setuju dengan usul Dominic.
"Bagaimana? Lagi pula kita tak tau kapan Jake akan sadarkan diri, tak adil rasanya jika mereka terus-terusan berada di sini," Dominic menjelaskan.
"Tak adil rasanya jika mereka bisa bebas pulang ke rumah sementara Jake terbaring tak berdaya di tempat ini," Sandra akhirnya bicara.
"Jadi?" Dominic menyerahkan keputusan pada Sandra.
Belum sempat Sandra menjawab, seorang perawat datang menghampiri mereka.
"Keluarga tuan Jake?" Panggil perawat itu.
"Ya?" Dengan sigap Sandra segera menghampiri perawat tersebut.
"Silahkan masuk, dokter akan menjelaskan." Perawat itu lalu masuk kembali ke dalam IGD dan diikuti oleh Sandra.
Sementara itu, Dominic, Jake dan juga Tamara memilih untuk tetap di lobi.
"Bagaimana ini kek? Kenapa jadi seperti ini?" Tamara yang khawatir langsung bertanya pada Dominic.
"Sebenarnya apa mau wanita itu? Apa kakek yakin dia bukan bagian dari rencana Richard?" Tanya Lukas.
"Entahlah, ayo kita liat saja nanti. Oh iya, ngomong-ngomong kemana perginya Richard?" Tanya Dominic.
Lukas dan Tamara saling menatap.
"Sepertinya dia sudah mati," jawab Lukas sambil memalingkan wajahnya dari Tamara.
Tamara menatap sedih ke arah Lukas. Sebenarnya ia masih marah pada Lukas, bagaimana bisa Lukas dengan mudahnya membunuh orang di hadapan Tamara. Terlebih orang itu adalah paman Tamara.
Dominic menatap keduanya secara bergantian.
"Aku haus, aku mau beli minum dulu," ucap Lukas sambil berlalu begitu saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau belum melanjutkan ceritamu," ucap Dominic sambil mendekati Tamara.
"Kek..." Tamara memperlihatkan wajah sedihnya pada Dominic.
"Ada apa?" Dominic seketika merasa khawtir.
"Lukas... Lukas membunuh om Richard," air mata Tamara kembali turun mengingat peristiwa itu.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana mungkin?" Dominic tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kek... Bagaimana ini?" Tamara menangis semakin kencang.
Dominic terdiam, ia benar-benar tak percaya cucunya bisa melakukan hal itu.
"Tamara... Tamara...Tenanglah," Dominic mencoba menenangkan Tamara yang terus saja menangis seperti anak kecil. Keduanya kini menjadi pusat perhatian di tengah lalu lalang orang-orang di sana.
"Aku tak membunuhnya," tiba-tiba Lukas datang membawa tiga botol minuman. Dominic menoleh ke arah Lukas, sementara Tamara segera menghentikan tangisnya sambil mengusap air matanya.
"Aku hanya mendorongnya ke jurang, bisa saja kan dia masih hidup?" Lukas mencoba membela diri.
"Apa? Mendorongnya? Ke jurang?" Dominic melotot ke arah Lukas.
"Bagaimana bisa seseorang masih hidup setelah jatuh dari jurang?" Tamara melampiaskan amarahnya pada Lukas.
"Pras...Dia selamat setelah jatuh ke jurang. Dia bahkan masih sempat menolongmu," Lukas kembali membela diri.
"Apa? Pras jatuh ke jurang?" Dominic semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Iya kek, sebelum menolong Tamara, Pras sempat terjatuh ke jurang," jawab Lukas.
"Tapi dia sekarang masuk ruang operasi," ucap Dominic.
"Itu karena luka tusuk dari Richard kek," jawab Lukas lagi.
"Sebentar, Lukas... bagaimana bisa kau mendorong Richard ke jurang?" Dominic masih tak mengerti.
"Aku kesal kek, aku tak terima jika dia hendak mencelakai Tamara. Sebelum dia melakukan itu, biar aku habisi saja lebih dulu," ucap Lukas asal.
"Hei, yang benar saja. Tapi tak seharusnya kau menghabisi nyawa seseorang," protes Dominic.
"Kek, aku yakin orang itu belum mati. Di film-film kan penjahat tidak akan mati dengan mudah," lagi-lagi Lukas asal bicara.
"Kau pikir ini film?" Dominic memukul kepala Lukas dengan botol minum yang di pegangnya.
"Aduh, sakit kek!" Lukas mengusap-usap kepalanya.
Dominic menatap Lukas dengan kesal.
"Kek, dari pada kau memarahiku. Kenapa tidak kita periksa saja? Bisa jadi dia masih hidup, lalu melarikan diri. Dan sekarang sedang merencanakan penculikan Tamara,"
Apa yang dikatakan Lukas memang benar. Jika Richard masih hidup dan dalam keadaan selamat maka akan sangat bahaya bagi Tamara.
"Baiklah, ayo kita periksa ke sana!" Dominic telah mengambil keputusan.
__ADS_1