
Pagi-pagi sekali, Tamara sudah beranjak pergi ke pasar. Ia ingin membeli beberapa bahan makanan.
"Apa kartu ini bisa digunakan di pasar ya?" Gumam Tamara.
Ia membuka ponselnya, Tamara lebih memilih mencari tau lewat internet mengenai penggunaan kartu tersebut. Tamara bahkan mencari pasar yang terdekat dari rumahnya, agar ia bisa berjalan kaki menuju ke sana.
Setelah puas mendapat informasi dari internet, Tamara bergegas mengganti pakaiannya. Ia baru menyadari jika ia sudah tak lagi mengenakan jaket.
"Apa Lukas yang melepasnya?" Tanya Tamara dalam hati.
"Ah sudahlah, aku tak peduli."
Tamara sudah mengganti pakaiannya, ia pun berjalan keluar rumah. Saat itu hari masih sedikit gelap, jalanan masih sangat sepi.
Dilihat dari pencariannya di internet, ada pasar yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari rumahnya. Di pasar itu juga ia bisa menggunakan kartu ajaib pemberian Lukas.
Tamara berencana akan membeli banyak sekali bahan makanan, mulai dari sayur-sayuran, ikan, ayam, daging, telur, dan juga bumbu-bumbu dapur. Tak lupa ia jua memasukkan buah-buahan ke daftar belanjaannya.
Tamara merasa sangat bersemangat sekali, karena ia tak hanya berniat memasak untuk dirinya dan Lukas saja. Tamara juga ingin mengirim makanan untuk kakeknya.
"Aku sangat merindukan kakek, kakek pasti senang jika aku memberinya kejutan dengan datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan padanya."
Tamara sudah menyusun rencana untuk mengejutkan kakeknya, ia akan datang membawa oleh-oleh dan juga membawa makanan buatannya.
"Kakek pasti akan senang," Tamara mempercepat langkah kakinya. Ia tak sabar ingin segera tiba di pasar dan memilih bahan-bahan berkualitas untuk bahan makanannya.
Pagi pun tiba. Saat matahari sudah terbit, Lukas masih tertidur pulas di kamarnya.
Sementara Tamara sudah kembali ke rumah membawa banyak sekali barang belanjaan. Ia pulang menggunakan taksi online.
Melihat rumah yang masih sepi Tamara tau bahwa Lukas pasti masih tertidur di kamarnya.
"Baiklah, ayo Tamara kita buat sarapan yang lezat," Tamara menyemangati dirinya sendiri.
Pertama-tama ia masak nasi terlebih dahulu, sambil menunggu nasi matang ia akan membereskan semua bahan makanan yang ia beli. Meletakkannya ke dalam kulkas, dan sebagian ia letakkan di lemari tempat penyimpan makanan.
Pagi ini, Tamara berencana ingin membuat omelette yang berisi daging dan juga sayuran. Tamara juga akan membuat salad buah, dan roti sandwich.
"Aku tak tau Lukas suka sarapan apa? Sebaiknya ku buat beberapa untuk alternatif," ucap Tamara dalam hatinya.
Meski ia pernah hidup susah sebelumnya, namun kakeknya juga terkadang memperkenalkan dengan menu makanan yang mewah, hanya saja dibuat dengan cara yang sederhana.
Adrian tak ingin cucunya terlihat norak saat melihat makanan-makanan yang biasa dimakan orang-orang kaya ini.
__ADS_1
Tamara memang tak biasa memasak makanan ini, ia melihat resepnya melalui internet.
Satu jam berlalu, Tamara sudah selesai membuat sarapan.
"Ini sudah jam delapan, kenapa Lukas belum bangun juga?"
Tamara berinisiatif untuk membangunkannya, karena kemarin Lukas berkata ingin masuk kerja hari ini.
Tamara mengetuk pintu kamar Lukas, namun tak ada jawaban dari dalam.
Sekali lagi Tamara mengetuk dengan lebih keras, Lukas masih belum juga bangun.
"Apa aku masuk saja ya? Tapi kalau dia marah bagaimana?"
Tamara masih ingat bagaimana Lukas memperlakukannya tadi malam saat ia mengganggu tidurnya Lukas.
Ditengah kegalauan itu, tiba-tiba pintu kamar Lukas terbuka.
"Ada apa?" Tanya Lukas dengan nada yang tidak bersahabat. Wajahnya terlihat masih sangat mengantuk.
"Kau bilang kemarin kau mau bekerja hari ini, jadi aku bangunkan. Khawatir kamu akan kesiangan," jawab Tamara.
"Cih, kau mau mengusirku supaya bebas berada di rumah ini seorang diri? Jangan harap, hari ini aku tidak jadi bekerja!"
Tamara diam sejenak, perlakuan Lukas seringkali berubah-ubah.
Lukas tak menjawab, ia hanya menatap Tamara dengan kesal lalu menutup pintu dengan keras.
Brak...
Tamara mengelus dadanya karena terkejut mendapat perlakuan kasar dari Lukas.
"Wah, aku harus terbiasa dengan sikap kasarnya ini. Dasar si kepribadian ganda, kemarin dia sangat baik tapi kini dia jahat sekali padaku," Tamara hanya bisa menghela nafas panjang.
Perlakuan kasar Lukas padanya memang membuat hatinya terluka, namun mau bagaimana lagi. Ia tau bahwa Lukas tak menyukai dirinya, Tamara tak bisa berbuat apa-apa.
Yang bisa ia lakukan hanyalah menguatkan dirinya, agar tak mudah menangis.
"Sebaiknya aku membuat makanan untuk kakek saja," ucap Tamara.
Ia pun berjalan kembali menuju dapur, dan mencoba mencari resep masakan untuk ia bawa ke rumah kakeknya.
"Masak apa ya?" Tamara masih bingung memilih menu yang akan ia buat.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membuat ayam asam manis dan capcay seafood," Tamara sudah memutuskan.
Ia pun mengambil bahan-bahan makanan dari dalam kulkas. Setelah menyiapkan bahan makanan, Tamara mulai meraciknya. Ia mengikuti instruksi sesuai dengan petunjuk di internet.
Masakan Tamara sudah hampir jadi, Tamara terlihat sangat senang karena hasilnya sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
"Mmm... Enak," ucap Tamara seraya mencicipi masakan buatannya.
Tamara memang pandai memasak, meski itu adalah resep yang baru pertama kali ia lihat, namun Tamara bisa dengan mudah mengikutinya.
"Selesai..."
Tamara lalu menyiapkan beberapa kotak makan untuk ia bawa ke rumah kakeknya.
Tamara melirik pintu kamar Lukas, dan masih tertutup rapat.
"Apa dia terbiasa bangun siang ya?"
"Ah, biarkan saja. Dari ada bangun pun bisanya hanya mengomeli ku saja," gerutu Tamara.
Ia tak peduli Lukas akan bangun jam berapa, ia masih trauma dengan kejadian tadi. Dua kali ia dibanting pintu oleh Lukas.
Tamara sudah memasukkan berbagai jenis masakan ke dalam kotak makan, bahkan ada sandwich dan juga salad yang ia buat untuk sarapan.
Tamara hanya menyisihkan sebagian untuk Lukas.
"Sekarang aku akan mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakek," Tamara merasa sangat bersemangat.
Selesai mandi, Tamara sudah berpakaian rapih. Ia juga sudah menyiapkan oleh-oleh untuk kakeknya.
Sebelum pergi, Tamara meletakkan catatan di meja makan untuk Lukas.
Ini sarapan dan makan siang mu, aku pergi ke rumah kakek dulu.
Hanya itu yang Tamara tulis, ia meletakkan catatan itu di samping piring di meja makan.
Setelah siap, Tamara pun pergi menuju rumah Adrian.
"Kira-kira kakek lagi apa ya?"
Tamara membayangkan kakeknya sedang duduk di teras rumah sambil berbincang dengan tetangga sebelah kontrakan mereka.
Beberapa saat setelah Tamara pergi, Lukas pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang menempel di dinding kamar.
__ADS_1
"Sudah jam sebelas siang? Hoaaahhhmmm..."
Lukas meregangkan tubuhnya dan ingin kembali tidur.